Campak yang menyerang tubuh manusia dikenal dengan virus rubeola atau Rubella.
Tulisan ini merupakan fase yang menjelaskan proses terkenanya campak pada Waffa.
Awal januari ia di serang batuk. Seperti biasa, setelah di bawa ke klinik atau apotik atau dokter biasa, maka batuknya mereda. Akan tetapi selang seminggu kemudian, batuk itu datang lagi, dan jika di berikan obat, maka batuk itu sembuh kembali. Tetapi, lama kelamaan batuknya seperti telah meradang, sehingga jika batuk akan membawa nafas yang panjang, bahkan sampai mukanya merah, akan tetapi tidak ada dahak yang dikeluarkan.
Pertengahan Februari, kami lakukan periksa laboratorium dan hasilnya belum terbaca. Batuk itu timbul tenggelam disertai panas badannya yang timbul tenggelam juga.
Panas badannya bisa di atasi dengan pijatan minyak kelapa hijau ataupun sekedar sanmol saja.
Tidak ada keluhan lain selain itu, karena semua aktivitas tetap di jalani, kadang tersenyum, menangis, istirahat, tertawa bahkan bermain. Pertengahan Maret, badannya kembali panas, sering mencret dengan tiba-tiba, dan batuk yang tak jua berkurang.
Setelah tiga tempat berpindah tempat mengambil obat, maka timbul hal yang tidak biasa dari efek panasnya. Matanya tiba-tiba menjadi merah dan sangat panas, disekitar hidungnya mulai terlihat bintik kecil berwarna sesuai kulit. Di sekitar tangan dan telapak tangannya juga mulai timbul bintik yang membuat kasar permukaan kulitnya.
Melihat keadaan yang tak biasa itu, tanpa pikir panjang, maka opname adalah solusinya. Saat dilihat kondisi tersebut oleh dokter, baru analisa campak di lontarkan, sehingga suntikan antibiotik dari selang infus rutin di berikan.
Setelah satu malam bergelut dengan panas yang semakin naik dan bintik yang semakin nyata pada sekujur tubuhnya, pada hari kedua opname, tubuhnya sempurna di tutupi oleh bintik merah tadi.
Bahkan telapak kakinya pun tidak ketinggalan. Alhamdulillah, jika hal ini terjadi, setidaknya panas yang selama ini berada di dalam tubuhnya telah keluar. Karena jika tidak, di khawatirkan virus tersebut dapat menyerang organ dalam seperti paru-paru dan hati.
Pada fase ini, suntikan antibiotik tetap diberikan sampai pada keadaan pasien tidak merasakan panas di dalam tubuh lagi atau demam.
Kini, tinggallah sisa-sisa bintik itu pada kulit yang dapat dihilangkan dengan beberapa cara, bisa dengan air kelapa, remasan daun jarak atau tepung dari hancuran tulang cumi-cumi yang semuanya digunakan dengan cara menggosoknya pada permukaan kulit.
Kembali teringat batuknya yang panjang, mungkin virus itu mencoba menyerang paru-paru, akan tetapi tergantung daya tahan tubuh seseorang, maka ada virus yang berhasil, atau cuma ada yang menyusup mengelitik tanpa bisa menembusnya. Jadi, saat obat batuk yang diberikan, tidak ada efek jera pada virus ini, tetapi saat sudah ketahuan campak, maka antibiotik yang bekerja mengeluarkan virus tadi melalui permukaan kulit.
Jadi, ada beberapa hal yang terprediksi untuk timbulnya campak ini:
1. Batuk yang panjang atau lama sembuhnya.
2. Panas badan yang timbul tenggelam.
3. Mata merah yang memanas di atasnya.
4. Sering mencret yang tanpa sebab kesalahan makan.