Total Pageviews

Karakter anak usia 3 tahun ke atas

Anak, buah hati semua orang tua sejati.

Beranjak dari usia emas (0-3 tahun), keaktifan anak semakin menjadi. Rasa ingin tahu yang berlebihan mengharuskan para orangtua menambah intensitas kesabarannya.
Tapi seiring dengan tersitanya waktu bagi orangtua dalam hal meladeni sikap sang buah hati, senyum merekah ataupun sunggingan tipis menjadi kado terindah di kala capek menyapa.
Hati ini tak memungkirinya, bahwa mereka adalah permata terindah.
Keingintahuan nya akan segala hal, membuat batin ini ceria, bahwa ternyata anakku normal seperti adanya.
Tanda keaktifannya itu melambangkan pertumbuhan otak dan perkembangannya memasuki tahap sempurna.

Di usia emas ini, telah dilalui dan selanjutnya adalah tahap pembelajaran.
Jangan tekankan sesuatu kepentingan kita terhadap anak, karena langkah yang salah akan beresiko memberhentikan sejenak sel saraf otaknya yang sedang berkembang.
Hindarilah kata "jangan ini", "jangan itu", tapi temani mereka dengan kata motivasi yang secara tidak langsung mampu menyampaikan pesan seperti apa yang kita maksudkan.

Hari ini adalah hari belum lama anak saya mengenal permen karet. Saya memang menghindarinya untuk saya kenalkan pada anak, karena khawatir ia akan menderita sakit gigi di usia kecilnya, walaupun rutinitas sikat gigi sudah saya mulai dari umurnya 2 tahun lebih.
Hari ini, sepulang dari Paud, ternyata ada permen karet yang diperolehnya dan tetap dalam mulutnya sampai ketika ia mau tidur.
Sebagai orang tua yang telah membaca buku tentang anak dan tahap perkembangannya menurut para ahli pembelajaran, maka saya hanya mengatakan kepadanya "permennya jangan ditelan ya, bahaya, kunyah-kunyah aja lalu buang, ya!"
Saat itu, mungkin butuh pengucapan yang lebih dari sekali, tetapi, akhirnya, setelah percakapan bersambut, dia pun mengerti dan akan cepat mengerti, karena pesan yang kita sampaikan tidak menimbulkan efek paksaan.
Dan, setelah matanya tertutup, saya hanya memindahkan permen tadi ke dalam genggamannya, tanpa muncul perlawanan. Walau setelah itu, sisa permen tadi terjatuh dari genggaman dan saya hilangkan jejaknya.
Apa yang kita dapat sebagai orangtua!
1) kita tidak membentang jarak pisah antara kita dan buah hati, jika kita menentang secara nyata didepannya, maka akan diragukan, apakah dia akan tetap seperti itu jika di belakang kita?
2) beri anak solusi tentang apa dan bagaimana seharusnya yang patut dia lakukan, jangan selalu pernyataan tak berpihak ganda.
3) anak kita masih dalam proses pembelajaran, jadilah guru yang baik, ajarkan mereka dengan kasih sayang, jangan dengan cercaan.

Semoga berguna dan mengusik hati keorangtua-an kita.

No comments:

Post a Comment