Total Pageviews

CHSS_2

Putus sekolah....
Baju itu masih rapi. Lipatan hasil setrika ibu masih mengukir garis bagai alur sungai tak berkelok.
Dalam tatapan nanar mata ini, sulit sekali untuk membedakan warna dari sebuah lambang yang terukir indah pada kantongnya. Ya.. sebuah simbol sekolah dengan garuda di sisinya.
Lama ku terpekur di bangku tua yang berderit lusuh saat beban tubuh ini menimpanya.
Aku tak peduli hal itu, karena beban yang kutanggung juga tak seringan bangku ini.
Lama dibiarkan air mata merajai pipiku. Aku tau..itu tak baik untuk ku. Tapi biar saja...siapapun yang peduli lagi padaku.
Kembali mata ini menangkap fokus bayangan baju itu.
Muak...Aku benci...tak seharusnya yang menjadikan rapi baju itu adalah seorang yang tak becus terhadap anaknya.
Aku sendiri. Dada ini bergetar hebat saat sekilas bayangan ayah menghampiri. Ah..se.tidaknya beliau sudah tenang di sana. Tapi aku...juga dalam ketenangan yang hakiki. Setidaknya itulah yang coba merajut sejak kepergiannya.
Tapi ini sungguh tak adil. Aku yang hanya seorang diri ditinggalkan oleh ayah dan ibu dalam waktu tak berselang. Ya Allah...Aku ikhlas dan rela apabila ayah meninggalkannya. Setidaknya tiada kekhawatiran dalam diri ini atas tujuannya yaitu di sisimu, tapi jika ibu...Aku tak rela dengan langkah ringannya membawa semua yang dia punya justru sesaat setelah ayah dibaringkan di pembaringan yang abadi.
Tiada apa yang ditinggalkan. Kursi ini menjadi saksi kekayaan kami bahwa hanya inilah yang kami punya.
Tuhan...seputih seragam itu..kuharapkan hatiku
Seindah lipatannya ku inginkan jalan hidupku..
Walau ku tahu..hari esok masih gelap di mata ini.
Cinta untukmu....wahai ayah.
Sayang bagimu...duhai ibu.

Beri aku jalan kebaikan..
Karena...
Surga itu masih di telapak kaki mu.

No comments:

Post a Comment