Perceraian yang sering kita dengar di media massa dan tetangga, selalu dalam keadaan yang bagaimana...............gitu, tapi pengajian bersama tengku Abdullah, saat menjelaskan masalah "istri" mengungkapkan kejadian di satu desa (beliau tidak bilang apakah beliau sebagai tengku imamnya atau sebagai tamu undangan kala itu), Yahh.....kurang lebih seperti inilah cerpennya......
Beri tanggapannya ya....
HAJATAN PESTA
PERCERAIAN
(By: Safrida Lubis)
Wajah lelaki itu masih seperti
malam sebelumnya, dingin dengan tatapan sendu menekuni ujung jari kaki yang
digerakkan perlahan.
“Aku yakin ini jalan terbaik Mas, jika
tetap seperti ini aku rasa tidak akan memberi solusi bagi kita berdua, aku
tetap pada pendirianku dan kumohon pengertian darimu, keikhlasanmu Mas”.
Lelaki itu tetap terpekur panjang,
nafas yang dihembuskan berulang kali melukiskan betapa galau fikirannya,
dipandangi dua pasang mata itu secara bergantian, dadanya makin terasa sesak. Lembutnya
angin malam yang berdesir ditelinga dan seluruh pori–pori tubuh bagian terbuka
tidak juga melunturkan panas yang melanda kelopak matanya. Perlahan tangan
kekarnya membelai untaian rambut tipis Alisa. Kembali ditatapi mata dengan
buliran air yang makin membesar. Kedua bibirnya membuka perlahan. Mendesah
pelan.
“Aku ikhlas”. Bibir itu kembali
tertutup rapat. Tangisan wanita
didepannya pun pecah, larut dalam pelukannya bersama Alisa didekapan.
Musyawarah itu mencapai keputusan akhir setelah hampir sebulan setiap
pertemuan hanya menghasilkan kebisuan di akhiri tangisan, tetapi tidak malam ini.
***
Mata bersahaja itu membenarkan duduk silanya. Kepulan asap daun
lipah gulung menyamarkan wajah dan menghilang dalam hitungan detik.
“Nak Edo yakin dengan keputusannya, apa sebaiknya tidak difikirkan lebih
matang lagi, karena langkah yang ingin kalian tempuh ini sangat dibenci oleh
Allah dan Rasul kita, apakah tidak ada jalan selain demikian”. Mata lelahnya
kembali menatap Alisa.
“Memang masa depan anak ini bukan ditangan kita, kita hanya mampu menuntun,
semua kehendak Allah, tapi alangkah bijaksananya jika kalian berdua
mendampinginya sampai dewasa”.
“Kami telah bermufakat dan sepertinya tiada jalan keluar lain tengku,
Insyaallah senin depan hajatan akan dilaksanakan, kehadiran tengku untuk
membacakan doa agar kehidupan kami menjadi lebih baik dimasa mendatang sangat
dinanti”.
Anggukan pelan tak berbilang seiring tarikan asap terakhir tembakau yang
ada dijarinya selanjutnya menutup pembicaraan kami bersamanya senja itu.
“Baiklah, jika jalan yang kalian pilih ini memang benar kehendakNya, masing–masing
dari kalian berdua pasti mendapatkan kebahagiaan dan rezeki yang cukup, saya
hanya mampu mendoakan saja”. Tambahnya
Tanpa menambah waktu aku mengikuti Mas Edo bangkit, meraih jemari tengku
Amirullah, mencium takjim sesaat.
“Kami permisi Tengku, Assalamualaikum”.
“Waalaikumsalam......”.
Tatapan nanar dari imam kampong itu mengiringi langkah kaki menuruni tangga
rumahnya yang masih memelihara ciri
khas rumah Aceh. Tiang bulat setinggi orang dewasa menyangga tiap sisi rumah yang
dilapisi dinding terbuat dari susunan kayu serta dipayungi atap daun rumbia.
Teduh. Seteduh hati ini. Perasaan haru, sedih, senang dan bahagia berbaur
dihati walau tak sepatah kata menemani perjalanan kami pulang kerumah.
***
Beberapa hari ini aku sibuk
mempersiapkan segala sesuatu, dari mulai perlengkapan, undangan, daftar menu
makanan serta hati yang harus tertata rapi saat acara senin nanti. Mas Edo tak
kalah sibuknya, dia sering tidak ada dirumah demi mengurus semua surat–surat yang
kami perlukan sebagai hadiah untukku pada saat perayaan nanti.
Hari semakin dekat.
“Kamu jadi pulang besok Lis.” Suara
Ibu pelan.
“Ibu minta maaf jika karena Ibu
kamu harus terluka, bukan itu harapan Ibu, sebenarnya masih ada jalan lain kan Lis?”.
“Lis rasa ini yang terbaik Bu, Mas
Edo paham akan keputusan Lis, Lis sayang Mas Edo Bu, juga Alisa, tapi keinginan
untuk menjaga Ibu lebih besar dari itu semua”.
Perempuan tua itu mendesah.
“Seorang anak memang harus berbakti pada orang tuanya, tetapi jika dia
sudah bersuami maka lelaki itu adalah segalanya baginya, Edo orangnya baik,
tutur katanya rendah, tatapannya sopan dan mengerti sedikit tentang agama,
modal yang cukup untuk menjadi kepala rumah tangga, apakah kamu tidak merasa
bahagia dengannya Lis?”. Suara Ibu diseberang membuatku mendesah pelan.
“Tidak Bu, bahkan Lis mendapatkan yang terbaik bersuamikan Mas Edo,
pengertiannya melebihi segala sesuatu, kata yang keluar dari lidahnya tidak
pernah menyakiti malah bernada nasehat selalu, tidak pernah dia marah pada Lis
bahkan kalau diingat kemarahan datang dari Lis disebabkan hal–hal sepele”.
Terdiam sesaat.
“Ya, Lis sadar sebenarnya kesabaran Lis jauh lebih rendah dibandingkan Mas
Edo. Bu...tolong Lis, inilah yang bisa Lis usahakan, Lis ingin pulang menjaga
Ibu, walau Lis tau bercerai dengan Mas Edo bukan keinginan Lis mengingat belum
tentu besok akan mendapatkan ganti yang sepadan, tapi kami telah memilih jalan
ini Bu dengan jalan yang terbaik, Insyaallah”.
Suara Ibu diseberang sesekali batuk menahan sakit ditenggorokan, menambah
kekhawatiran akan kesehatannya yang makin menurun.
“Mungkin Ibu perlu istirahat Lis, salam Ibu untuk Edo juga Alisa kecil, Lis
Ibu bangga padamu dan Edo yang berbesar hati untuk bercerai dengan cara yang
baik, Allah pasti tau yang terbaik untuk kalian berdua kelak”.
Suara Ibu terputus seiring butiran
bening yang membasahi sisi hanphoneku. Perlahan dadaku berguncang dalam isakan
tangis.
Sesungguhnya berat untuk mengambil keputusan bercerai dengan Mas Edo, apa
yang dikatakan Ibu benar adanya, selain sopan, penyayang, santun, lemah lembut
juga mengerti agama melekat pada dirinya dari garis keturunan Aceh–Jawa. Alisa,
buah hati kami sejak menikah tiga tahun silam mulai berbicara dengan jelas.
Aku dipinang saat Mas Edo bertugas
di kotaku, Lampung. Setahun
berselang masa tugasnya berakhir dan aku pun di boyong ke Aceh, kampung
kelahirannya.
Mas Edo paham alasanku bercerai untuk menjaga Ibu yang hanya ditemani si bungsu
Andi. Beberapa bulan ini kondisi Ibu yang lumpuh karena penyakit diperparah
lagi saat beliau terjatuh di kamar mandi. Kini Ibu hanya sanggup berbaring di
ranjangnya.
Saat ini di rumah agak ramai dari biasanya, tetangga dan saudara Mas Edo
mempersiapkan segala sesuatu untuk hajatan besok yang mereka tahu guna
merayakan pesta pernikahan kami, undangan melalui lisan pun telah disampaikan,
kerabat dari kesatuannya, masyarakat sekitar dan tak lupa puluhan anak yatim
biar hajatan ini mendapat berkah.
Sayup tawa canda mereka dari luar kamar terdengar dalam bahasa yang belum
sepenuhnya aku mengerti.
“Telepon dari Ibu, Bagaimana kabarnya Lis?”.
Suara Mas Edo dari balik pintu yang menganga membuyarkan lamunanku.
“Iya Mas, kalau Lis dengar dari suaranya Ibu sudah lumayan sehat, sanggup
bercerita banyak”. Sambil menyeka air mata, aku mencoba menatap Mas Edo yang
mengayunkan langkah dan duduk di sampingku.
“Aku tidak melihat Alisa di depan”.
“Tadi adik Mas, Munah membawanya
bermain”. Jawabku sesaat sebelum kesunyian menyapa.
“Mas, Lis berterima kasih atas
semuanya, juga mohon maaf pada Mas, jika
selama menjadi istri Lis menyinggung bahkan tak luput menyakiti hati Mas”.
Lelaki itu mendesah, perlahan
dipalingkan wajahnya.
“Sudahlah Lis, jalan ini sudah kita
tempuh, aku juga inginkan agar kamu ikhlas memaafkan salahku, banyak mereka
diluar sana yang kita dengar berpisah dengan cara yang saling memendam amarah
dan kebencian, aku hanya ingin kita tidak termasuk ke golongan tersebut, saat
kita menikah dahulu aku memintamu dengan cara baik dan perasaan sayang, kini
jika harus berpisah maka seperti semula perasaanku, terlebih lagi ada Anisa di
sisi kita”.
“Aku hanya mencoba berbuat seperti
yang Allah perintahkan Lis, penjelasan yang kudengar dari pengajian oleh tengku
Amir. Mungkin sampai disinilah jodoh kita Lis, aku ikhlas”.
Tak tersisa lagi dataran kering
dipipiku, aliran air mata menderas menemani langkah kecil Mas Edo menuju pintu.
“Oya Lis, suratnya sudah selesai”. Tanpa
menunggu jawaban bayangan itu menghilang dibalik pintu.
***
Matahari mulai merangkak naik seiring kehadiran tamu dan para undangan. Setelah
doa bersama yang dibawakan Tengku Amir dengan puluhan anak yatim, hidangan pun
mulai disajikan.
Wajah polos anak kecil yang tersenyum ria, bercanda sesama teman disamping
sambil tetap menjaga santun meramaikan suasana ini. Dibagian lain undangan
telah menempati kursi yang telah dipersiapkan dibawah tenda–tenda sesaat
sebelumnya mengambil makanan yang dihidangkan di pelataran meja. Papan bungan
ucapan selamat berderet indah menghiasi jalan memasuki halaman rumah.
Kata–kata sambutan mulai diucapkan Mas Edo untuk para undangan, tamu dan
dilanjutkan Tengku Amirullah sebagai pembicara atas permintaan kami saat
bertandang kerumahnya senja itu.
“Tuan rumah, para undangan dan tamu
yang terhormat”.
Suara pelannya berhenti, sesaat
sebelumnya mengucapkan salam dan pujian.
“Hari ini kita masih diberkati
Allah sehingga dapat berkumpul di rumah Nak Edo dan istrinya untuk mengingat
kembali suatu hajatan yang mulia saat keduanya menikah juga dalam rangka
memenuhi undangannya, semoga yang kita lakukan bermanfaat adanya”.
“Dalam pernikahan, sebagai seorang
suami sudah selayaknya kita mencintai istri yang kita pilih dari sekian banyak
wanita dan kita jadikan pendamping hidup. Pastilah dalam berusaha memilikinya,
berbagai pertimbangan dan masukan dari orang lain terlebih dahulu berjalan
didepan”.
“Para hadirin yang terhormat, dari
sang istri kita berharap dikarunia beberapa orang keturunan kita, pasti saja
yang baik, berakhlak, berilmu dan bagus rupanya, maka sudah sepantasnya istri
yang selalu melayani kita, menyiapkan sarapan dan makan malam, menjaga anak
kita dan lain sebagainya mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari kita.
Pemberian hadiah hanyalah salah satu wujud dari rasa kasih sayang suami
terhadap istri, disamping perhatian, pengertian sumi dan segala yang membuat
istri senang, asalkan tidak diluar batas norma agama”.
“Saya berdiri disini, sebagai
penasehat atas permintaan tuan rumah yang ingin memberikan hadiah kepada sang
istri, nak Lisa Lestari yang akan diwakilkan oleh Pak Bambang, kepala kesatuan
dimana Nak Edo bekerja”.
Riuh rendah suara tepukan dan eluan
para undangan menemani aku melangkah ke depan podium buatan, disambut Pak
Bambang yang berdiri siap memberikan kado dengan bentuk persegi seukuran kertas
folio terbungkus kain bermotif batik.
Jantungku memompa kencang dan
aliran darah ke tanganku berhenti, dingin.
“Mungkin hanya ini yng dapat saya
sampaikan, semoga Nak Edo dan Nak Lisa
mendapatkan berkah dariNya”.
Tengku Amir menutup ucapannya
dengan salam dan aku pun mengikutinya menuruni podium. Masih kulihat ketabahan
senyum Mas Edo saat mata ini berpapasan.
“Saudara–saudara, para undangan dan
tamu yang terhormat, adapun kehadiran kita disini untuk turut merasakan
kebahagiaan tuan rumah dalam merayakan pernikahannya. Disini saya mendapatkan
kesempatan dan penghormatan dari tuan rumah untuk mengutarakan maksud yang
sebenarnya”.
Tegas suara Pak Bambang sesaat
mengundang kesunyian para undangan.
“Perayaan pernikahan Edo Syahputra
dan Lisa Lestari pada hari ini disertai juga dengan pemberitahuan kepada
masyarakat umumnya dan khusus pada kesatuan tempatnya bekerja, bahwa melalui
hajatan ini mereka telah bercerai pula.” Seketika kasak kusuk terjadi disetiap
sudut kursi, aku masih tertunduk saat Pak Bambang kembali melanjutkan kata–katanya.
“Kado yang diterima Lisa Lastari
tadi berisikan surat–surat perceraian yang sah sesuai dengan hukum dan
ketentuan agama dimana Edo Syahputra telah mengurusnya beberapa hari lalu.
Hadirin yang terhormat, kehadiran kita semua disini menjadi saksi atas
berpisahnya dua manusia dari ikatan pernikahan dengan alasan yang kuat dari
masing–masing pihak. Semoga doa dari kita semua untuk kebahagiaan mereka
terkabul hendaknya.” Suasana ricuh masih menggema saat Pak Bambang melangkah
turun setelah sebelumnya memberi salam penutup, seterusnya pelukan hangat
menyambut Mas Edo yang berdiri menunggu dengan tangan tetap bersalaman. Hujan
air mata dengan serta merta membasahi pipi para undangan yang hadir dan tak
sedikit dari mereka berusaha menyekanya. Merasa acara ini telah berhujung,
Kulangkahkan kaki dengan gontai menghampiri Mas Edo dan menggapai tangan kekar
itu seterusnya kucium khidmat. Tiada kata yang keluar dari bibirnya bahkan saat
mendekap erat Alisa, hingga langkah ini menjauh meninggalkannya menuju
kendaraan yang akan menghantarkanku pulang kerumah Ibu.
“Oh Tuhan, kuatkanlah hati ini.”
Batinku.
Aku terus dibawa menjauh
meninggalkan suasana ceria yang seketika berharuan air mata.
***
Mendekati setahun aku bercerai, Mas Edo mengirimkan SMS yang isinya berbeda
dari biasanya, bukan sekedar menayakan Alisa dan Ibu.
“Lis, hari ini aku telah menikah, dengan wanita yang dikenalkan makcik untukku, masih terkait keluarga
juga. Bukan tujuanku ingin menyakiti perasaanmu dengan apa yang telah aku
sampaikan, tapi kamu juga masih muda,
jangan menyiksa diri sendiri, aku berharap yang terbaik untuk kita berdua juga
Alisa. Oya, aku juga bersyukur kesehatan Ibu semakin membaik, salam sayangku
untuk Alisa dan kalian semua. Assalamualaikum.”
Aku terpaku, rongga dadaku terasa merekah, tiada niat untuk membalas SMS
nya kali ini, aku masih menata hati sedemikian untuk dapat menjawab pinangan
dari duda muda, pengusaha kecil satu minggu yang lalu.
********