Total Pageviews

Karakter anak usia 3 tahun ke atas

Anak, buah hati semua orang tua sejati.

Beranjak dari usia emas (0-3 tahun), keaktifan anak semakin menjadi. Rasa ingin tahu yang berlebihan mengharuskan para orangtua menambah intensitas kesabarannya.
Tapi seiring dengan tersitanya waktu bagi orangtua dalam hal meladeni sikap sang buah hati, senyum merekah ataupun sunggingan tipis menjadi kado terindah di kala capek menyapa.
Hati ini tak memungkirinya, bahwa mereka adalah permata terindah.
Keingintahuan nya akan segala hal, membuat batin ini ceria, bahwa ternyata anakku normal seperti adanya.
Tanda keaktifannya itu melambangkan pertumbuhan otak dan perkembangannya memasuki tahap sempurna.

Di usia emas ini, telah dilalui dan selanjutnya adalah tahap pembelajaran.
Jangan tekankan sesuatu kepentingan kita terhadap anak, karena langkah yang salah akan beresiko memberhentikan sejenak sel saraf otaknya yang sedang berkembang.
Hindarilah kata "jangan ini", "jangan itu", tapi temani mereka dengan kata motivasi yang secara tidak langsung mampu menyampaikan pesan seperti apa yang kita maksudkan.

Hari ini adalah hari belum lama anak saya mengenal permen karet. Saya memang menghindarinya untuk saya kenalkan pada anak, karena khawatir ia akan menderita sakit gigi di usia kecilnya, walaupun rutinitas sikat gigi sudah saya mulai dari umurnya 2 tahun lebih.
Hari ini, sepulang dari Paud, ternyata ada permen karet yang diperolehnya dan tetap dalam mulutnya sampai ketika ia mau tidur.
Sebagai orang tua yang telah membaca buku tentang anak dan tahap perkembangannya menurut para ahli pembelajaran, maka saya hanya mengatakan kepadanya "permennya jangan ditelan ya, bahaya, kunyah-kunyah aja lalu buang, ya!"
Saat itu, mungkin butuh pengucapan yang lebih dari sekali, tetapi, akhirnya, setelah percakapan bersambut, dia pun mengerti dan akan cepat mengerti, karena pesan yang kita sampaikan tidak menimbulkan efek paksaan.
Dan, setelah matanya tertutup, saya hanya memindahkan permen tadi ke dalam genggamannya, tanpa muncul perlawanan. Walau setelah itu, sisa permen tadi terjatuh dari genggaman dan saya hilangkan jejaknya.
Apa yang kita dapat sebagai orangtua!
1) kita tidak membentang jarak pisah antara kita dan buah hati, jika kita menentang secara nyata didepannya, maka akan diragukan, apakah dia akan tetap seperti itu jika di belakang kita?
2) beri anak solusi tentang apa dan bagaimana seharusnya yang patut dia lakukan, jangan selalu pernyataan tak berpihak ganda.
3) anak kita masih dalam proses pembelajaran, jadilah guru yang baik, ajarkan mereka dengan kasih sayang, jangan dengan cercaan.

Semoga berguna dan mengusik hati keorangtua-an kita.

Kisah sahabat Nabi Muhammad

SALIM, MAULA ABU HUDZAIFAH RADHIYALLAHU 'ANHU( Sebaik-baik Pemikul Al-Quran ) Pada suatu hari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berpesan kepada para shahabatnya, katanya: "Ambillah olehmu al-Quran itu dari empat orang, yaitu: Abdullah bin Mas'ud, Salim maula Abu Hudzaifah, Ubai bin Ka'ab dan Mu'adz bin Jabal ... !" Dulu kita telah mengenal Ibnu Mas'ud, Ubai dan Mu'adz! Maka siapakah kiranya shahabat yang keempat yang dijadikan Rasul shallallahu 'alaihi wasallam sebagai andalan dan tempat bertanya dalam mengajarkan al-Qur'an ...? Ia adalah Salim radhiyallahu 'anhu, maula Abu Hudzaifah radhiyallahu 'anhu ....Pada mulanya ia hanyalah seorang budak belian, dan kemudian Islam memperbaiki kedudukannya, hingga diambil sebagai anak angkat oleh salah seorang pemimpin Islam terkemuka, yang sebelum masuk Islam juga adalah seorang bangsawan Quraisy dan salah seorang pemimpinnya.... Dan tatkala Islam menghapus adat kebiasaan memungut anak angkat, Salim radhiyallahu 'anhu-pun menjadi saudara, teman sejawat serta maula (= hamba yang telah dimerdekakan) bagi orang yang memungutnya sebagai anak tadi, yaitu shahabat yang mulia bernama Abu Hudzaifah bin 'Utbah radhiyallahu 'anhu. Dan berkat karunia dan ni'mat dari Allah Ta'ala, Salim radhiyallahu 'anhu mencapai kedud;kan tinggi dan terhormat di kalangan Muslimin, yang dipersiapkan baginya oleh keutamaan jiwanya,serta perangai dan ketaqwaannya .... Shahabat Rasul yang mulia ini disebut "Salim radhiyallahu 'anhu maula Abu Hudzaifah radhiyallahu 'anhu", ialah karena dulunya ia seorang budak belian dan kemudian dibebaskan! Dan ia beriman kepada Allah dan Rasul-Nya tanpa menunggu lama ..., dan mengambil tempatnya di antara orang-orang Islam angkatan pertama. Mengenai Hudzaifah bin 'Utbah radhiyallahu 'anhu, ia adalah salah seorang yang juga lebih awal dan bersegera masuk Islam dengan meninggalkan bapaknya 'Utbah bin Rabi'ah menelan amarah dan kekecewaan yang mengeruhkan ketenangan hidupnya, disebabkan keislaman puteranya itu. Hudzaifah adalah seorang yang terpandang di kalangan kaumnya, sementara bapaknya mempersiapkannya untuk menjadi pemimpin Quraisy .... Bapak dari Hudzaifah radhiyallahu 'anhu inilah yang setelah terang-terangan masuk Islam mengambil Salim radhiyallahu 'anhu sebagai anak angkat, yakni setelah ia dibebaskannya, hingga mulai saat itu ia dipanggilnya "Salim bin Abi Hudzaifah radhiyallahu 'anhu" Dan kedua orang itu pun beribadah kepada Allah dengan hati yang tunduk dan terpusat, serta menahan penganiayaan Quraisy dan tipu muslihat mereka dengan hati yang shabar tiada terkira .... Pada suatu hari turunlah ayat yang membathalkan kebiasaan mengambil anak angkat. Dan setiap anak angkat pun kembali menyandang nama bapaknya yang sesungguhnya, yakni yang telah menyebabkan lahirnya dan mengasuhnya. Umpamanya Zaid bin Haritsah radhiyallahu 'anhu yang diambil oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam sebagai anak angkat dan dikenal oleh Kaum Muslimin sebagai Zaid bin Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, kembali menyandang nama bapaknya Haritsah, hingga namanya menjadi Zaid bin Haritsah. Tetapi Salim radhiyallahu 'anhu tidak dikenal siapa bapaknya, maka ia menghubungkan diri kepada orang yang telah membebaskannya hingga dipanggilkan Salim maula Abu Hudzaifah radhiyallahu 'anhuma .... Mungkin ketika menghapus kebiasaan memungut memberi nama anak angkat dengan nama orang yang mengangkatnya, Islam hanya hendak mengatakan kepada Kaum muslimin: "Janganlah kalian mencari hubungan kekeluargaan dan silaturrahmi dengan orang-orang diluar Islam sehingga 'persaudaraan kalian lebih kuat dengan sesama Islam sendiri dan se-'aqidah yang menjadikan kalian beusaudara ... ! Hal ini telah difa hami sebaik-baiknya oleh Kaum Muslimin angkatan pertama. Tak ada suatu pun yang lebih mereka cintai setelah Allah dan Rasul-Nya, dari saudara-saudara mereka se-Tuhan Allah dan se-Agama Islam! Dan telah kita saksikan bagaimana orang-orang Anshar itu menyambut saudara-saudara mereka orang Muhajirin, hingga mereka membagi tempat kediaman dan segala yang mereka miliki kepada Muhajirin ... ! Dan inilah yang kita saksikan terjadi antara Abu Hudzaifah radhiyallahu 'anhu bangsawan Quraisy dengan Salim radhiyallahu 'anhu yang berasal dari budak belian yang tidak diketahui siapa bapaknya itu. Sampai akhir hayat mereka, kedua orang itu lebih dari bersaudara kandung, ketika menemui ajal, mereka meninggal bersama-sama, nyawa melayang bersama nyawa, dan tubuh yang satu terbaring di samping tubuh yang lain... ! Itulah dia keistimewaan luar biasa dari Islam, bahkan itulah salah satu kebesaran dan keutamaannya... ! Salim radhiyallahu 'anhu telah beriman sebenar-benar iman, dan menempuh jalan menuju Ilahi bersama-sama orang-orang yang taqwa dan budiman. Baik bangsa maupun kedudukannya dalam masyarakat tidak menjadi persoalan lagi. Karena berkat ketaqwaan dan keikhlasannya, ia telah meningkat ke taraf yang tinggi dalam kehidupan masyarakat baru yang sengaja hendak dibangkitkan dan ditegakkan oleh Agama Islam berdasarkan prinsip baru yang adil dan luhur. Prinsip itu tersimpul dalam ayat mulia berikut ini: - "Sesungguhnya orang yang termulia di antara kalian di sisi Allah ialah yang paling taqwa ... !" (Q.S. 49 al-Hujurat: 13) Dan menurut Hadits: "Tiada kelebihan bagi seorang bangsa Arab atas selain bangsa Arab kecuali taqwa, dan tidak ada kelebihan bagi seorang keturunan kulit putih atas seorang keturunan kulit hitam kecuali taqwa ". Pada masyarakat baru yang maju ini, Abu Hudzaifah radhiyallahu 'anhu merasa dirinya terhormat, bila menjadi wali dari seseorang yang dulunya menjadi budak beliannya. Bahkan dianggapnya suatu kemuliaan bagi keluarganya, mengawinkan Salim radhiyallahu 'anhu dengan kemenakannya Fatimah binti Walid bin 'Utbah .... ! Dan pada masyarakat baru yang maju ini, yang telah menghancurkan kefeodalan dan kehidupan berkasta-kasta, serta menghapus rasialisme dan diskriminasi, maka dengan kebenaran dan kejujurannya, keimanan dan amal baktinya, Salim radhiyallahu 'anhu menempatkan dirinya selalu dalam barisan pertama. Benar ..., ialah yang menjadi imam bagi orang-orang yang hijrah dari Mekah ke Madinah setiap shalat mereka di mesjid Quba'. Dan ia menjadi andalan tempat bertanya tentang Kitabullah ( al-Qur'an ), hingga Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menyuruh Kaum Muslimin belajar daripadanya. Ia banyak berbuat kebaikan dan memiliki keunggulan yang menyebabkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berkata kepadanya: "Segala puji bagi Allah yang menjadikan dalam golonganku, seseorang seperti kamu ... !" Bahkan kawan-kawannya sesama orang beriman menyebutnya: "Salim radhiyallahu 'anhu salah seorang dari Kaum Shalihin" Riwayat hidup Salim radhiyallahu 'anhu seperti riwayat hidup Bilal radhiyallahu 'anhu, riwayat hidup sepuluh shahabat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam ahli ibadah dan riwayat hidup para shahabat lainnya yang sebelum memasuki Islam hidup sebagai budak belian yang hina dina lagi papa. Diangkat oleh Islam dengan mendapat kesempurnaan petunjuk, sehingga ia menjadi penuntun ummat ke jalan yang benar, menjadi tokoh penentang kedhaliman, ia juga adalah kesatria di medan laga. Pada Salim radhiyallahu 'anhu terhimpun keutamaan-keutamaan yang terdapat dalam Agama Islam. Keutamaan-keutamaan itu berkumpul pada diri dan sekitarnya, sementara keimanannya yang mendalam mengatur semua itu menjadi suatu susunan yang amat indah. Kelebihannya yang paling menonjol ialah mengemukakan apa yang dianggapnya benar secara terus terang. Ia tidak menutup mulut terhadap suatu kalimat yang seharusnya diucapkannya, dan ia tak hendak mengkhianati hidupnya dengan berdiam diri terhadap kesalahan yang menekan jiwanya ... ! Setelah kota Mekah dibebaskan oleh Kaum Muslimin, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengirimkan beberapa rombongan ke kampung-kampung dan suku-suku Arab sekeliling Mekah, dan menyampaikan kepada penduduknya bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sengaja mengirim mereka itu untuk berda'wah bukan untuk berperang. Dan sebagai pemimpin dari salah satu pasukan ialah Khalid bin Walid radhiyallahu 'anhu. Ketika Khalid radhiyallahu 'anhu sampai di tempat yang dituju, terjadilah suatu peristiwa yang menyebabkannya terpaksa mengunakan senjata dan menumpahkan darah. Sewaktu peristiwa ini sampai kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau memohon ampun kepada Tuhannya amat lama sekali sambil katanya: "Ya Allah, aku berlepas diri kepada-Mu dari apa yang dilakukan oleh Khalid ... !" Juga peristiwa tersebut tak dapat dilupakan oleh Umar radhiyallahu 'anhu, ia pun mengambil perhatian khusus terhadap pribadi Khalid katanya: "Sesungguhnya pedang Khalid terlalu tajam ... !" Dalam ekspedisi yang dipimpin oleh Khalid radhiyallahu 'anhu ini ikut Salim radhiyallahu 'anhu maula Abu Hudzaifah radhiyallahu 'anhu serta shahabat-shahabat lainnya Dan demi melihat perbuatan Khalid tadi, Salim radhiyallahu 'anhu menegurnya dengan sengit dan menjelaskan kesalahan-kesalahan yang telah dilakukannya. Sementara Khalid, pahlawan besar di masa jahiliyah dan di zaman Islam itu, mula-mula diam dan mendengarkan apa yang dikemukakan temannya itu kemudian membela dirinya, akhirnya meningkat menjadi perdebatan yang sengit. Tetapi Salim radhiyallahu 'anhu tetap berpegang pada pendiriannya dan mengemukakannya tanpa takut-takut atau bermanis mulut. Ketika itu ia memandang Khalid bukan sebagai salah seorang bangsawan Mekah, dan ia pun tidak merendah diri karena dahulu ia seora~g budak belian, tidak ... ! Karena Islam telah menyamakan mereka! Begitu pula ia tidaklah memandangnya sebagai seorang panglima yang kesalahan-kesalahannya harus dibiarkan begitu saja ...,tetapi ia memandang Khalid sebagai serikat dan sekutunya dalam kewajiban dan tanggung jawab ... ! Serta ia menentang dan menyalahkan Khalid itu bukanlah karena ambisi atau suatu maksud tertentu, ia hanya melaksanakan nasihat yang diakui haqnya dalam Islam, dan yang telah lama didengarnya dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bahwa nasihat itu merupakan teras dan tiang tengah Agama, sabdanya: Agama itu ialah nasihat ... ! "Agama itu ialah nasihat ... ! "Agama itu ialah nasihat ... ! Dan ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mendengar perbuatan Khalid bin Walid, beliau bertanya, katanya: "Adakah yang menyanggahnya ... ? Alangkah agungnya pertanyaan itu, dan alangkah mengharukan... ! Dan amarahnya shallallahu 'alaihi wasallam menjadi surut, ketika mereka mengatakan pada beliau: "Ada, Salim radhiyallahu 'anhu menegur dan menyanggahnya ... !': Salim radhiyallahu 'anhu hidup mendampingi Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan orang-orang beriman. Tidak pernah ketinggalan dalam suatu peperangan mempertahankan Agama, dan tak kehilangan gairah dalam suatu ibadah. Sementara persaudaraannya dengan Abu Hudzaifah radhiyallahu 'anhu, makin hari makin bertambah erat dan kukuh jua! Saat itu berpulanglah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam ke rahmatullah. Dan khilafat Abu Bakar radhiyallahu 'anhu menghadapi persekongkolan jahat dari orang-orang murtad. Dan tibalah saatnya pertempuran Yamamah ! Suatu peperangan sengit, yang merupakan ujian terberat bagi Islam... ! Maka berangkatlah Kaum Muslimin untuk berjuang. Tidak ketinggalan Salim radhiyallahu 'anhu bersama Abu Hudzaifah radhiyallahu 'anhu radhiyallahu 'anhu saudara seagama. Di awal peperangan, Kaum Muslimin tidak bermaksud hendak menyerang. Tetapi setiap Mu'min telah merasa bahwa peperangan ini adalah peperangan yang menentukan, sehingga segala akibatnya menjadi tanggung jawab bersama! Mereka dikumpulkan sekali lagi oleh Khalid bin Walid radhiyallahu 'anhu, yang kembali menyusun barisan dengan cara dan strategi yang mengagumkan. Kedua saudara, Abu Hudzaifah radhiyallahu 'anhu dan Salim radhiyallahu 'anhu berpelukan dan sama berjanji siap mati syahid demi Agama yang haq, yang akan mengantarkan mereka kepada keberuntungan dunia dan akhirat. Lalu kedua saudara itu pun menerjunkan diri ke dalam kancah yang sedang bergejolak ... ! Abu Hudzaifah radhiyallahu 'anhu berseru meneriakkan: "Hai pengikut-pengikut al-Quran... ! Hiasilah al-Quran dengan amal-amal kalian ... !" Dan bagai angin puyuh, pedangnya berkelibatan dan menghunjamkan tusukan-tusukan kepada anak buah Musailamah..., sementara Salim radhiyallahu 'anhu berseru pula, katanya: - "Amat buruk nasibku sebagai pemikul tanggung jawab al-Quran, apabila benteng Kaum Muslimin bobol karena kelalaianku... !" "Tidak mungkin demikian, wahai Salim radhiyallahu 'anhu... ! Bahkan engkau adalah sebaik-baik pemikul al-Quran ... !"ujar Abu Hudzaifah radhiyallahu 'anhu. Pedangnya bagai menari-nari menebas dan menusuk pundak orang-ouang murtad, yang bangkit berontak hendak mengembalikan jahiliyah Quraisy dan memadamkan cahaya Islam .... Tiba-tiba salah sebuah pedang orang-orang murtad itu menebas tangannya hingga putus ..., tangan yang dipergunakannya untuk memanggul panji Muhajirin, setelah gugur pemanggulnya yang pertama, ialah Zaid bin Khatthab radhiyallahu 'anhu. Tatkala tangan kanannya itu buntung dan panji itu jatuh segeralah dipungutnya dengan tangan kirinya lalu terus-menerus diacungkannya tinggi-tinggi sambil mengumandangkan ayat al-Quran berikut ini: Dan berapa banyak nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertaqwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar. (QS. 3:146) Wahai, suatu semboyan yang maha agung... ! Yakni semboyan yang dipilih Salim radhiyallahu 'anhu saat menghadapi ajalnya ... ! Sekelompok orang-orang murtad mengepung dan menyerbunya, hingga pahlawan itu pun rubuhlah .... Tetapi ruhnya belum juga keluar dari tubuhnya yang suci, sampai pertempuran itu berakhir dengan terbunuhnya Musailamah si Pembohong dan menyerah kalahnya tentara murtad serta menangnya tentara Muslimin .... Dan ketika Kaum Muslimin mencari-cari korban dan syuhada mereka, mereka temukan Salim radhiyallahu 'anhu dalam sekarat maut. Sempat pula ia bertanya pada mereka: "Bagaimana nasib Abu Hudzaifah radhiyallahu 'anhu ... ?" "Ia telah menemui syahidnya", ujar mereka. "Baringkan daku di sampingnya.... ", katanya pula. "lni dia di sampingmu, wahai Salim radhiyallahu 'anhu ... ! Ia telah menemui syahidnya di tempat ini ... !" Mendengar jawaban itu tampaklah senyumnya yang akhir .... Dan setelah itu ia tidak berbicara lagi .... Ia telah menemukan bersama saudaranya apa yang mereka dambakan selama ini…… Mereka masuk Islam secara bersama. Hidup secara bersama .... Dan kemudian mati syahid secara bersama pula... ! Persamaan nasib yang amat….yang amat indah ... ! Maka pergilah menemui Tuhannya ..., seorang tokoh Mu'min meninggalkan nama, dan mengenai dirinya sewaktu telah tiada lagi, Umar bin Khatthab radhiyallahu 'anhu pernah berkata: "Seandainya Salim radhiyallahu 'anhu masih hidup, pastilah ia menjadi penggantiku nanti... !" Mengharukan, dan suatu takdir. http://play.google.com/store/apps/details?id=com.muslimmedia.kisahsahabat

Musuh Musa Musuh Allah juga_2

Musa berjalan menghampiri keduanya....

Setelah menanyakan apa gerangan yang membuat mereka masih tetap di tempatnya, maka dia pun menawarkan jasa.
Bolehkah apabila aku yang memberikan minum akan domba-domba anda sekalian? Semoga ini menjadi kebaikan bagiku di sisi Allah.
Tanpa menunggu sahutan, segera di using para domba itu mendekati sumur air.

Musuh Musa Musuh Allah juga

Syaitan memperburuk keadaan keduanya. Di saat Musa sudah di rajai oleh hawa nafsu maka pukulan dari kepalan tangannya langsung menewaskan lawannya. Musa terkejut. Hal yang mustahil telah dia lakukan pikirnya. Bagaimana pukulan tanpa tenaga yang baru saja dikeluarkan dapat merengut nyawa sang lawan yang tak di sangkanya ternyata dari golongan sang penguasa Firaun.

Lihat perbuatannya hai Musa. Teriak seorang teman.
Celaka kau. Aku harus secepatnya pergi dari negeri Mesir ini. Jelasnya lagi.
Musa hanya terpaku menatapi kepalan tangannya sambil berdesir. Ini bukan kehendak ku. Bisiknya pelan.
Cepatlah pergi hai Musa sebelum mereka menangkapmu. Pintanya lagi.

Dalam kepanikan luar biasa kembali Musa mengepalkan tangannya kearah orang tersebut.
Hai Musa, aku menasehatiku, tetapi engkau tidak menerimanya. Apakah engkau akan membunuh ku sebagaimana engkau membunuhnya. Tegasnya kembali.

Seolah tersadar Musa pun tersungkur sujud.
Sesungguhnya ini adalah cobaan dari Tuhanku.
Musa pun segera bangkit dan berlari tanpa menoleh ke belakang.
Hari demi hari berlalu. Hutan gelap dan padang tandus sudah dilaluinya. Sampai suatu ketika sampailah langkah kakinya pada sebuah persinggahan sumur.
De

Matanya menangkap dua sosok gadis yang sedari tadi hanya berdiri terganggu di sudut sebuah pohon dengan mata yang awas terhadap sumur itu. Banyak penggembala yang memenuhi lingkar bibir sumur itu.
Dengan perlahan Musa coba mengayunkan kaki melangkah mendekati mereka.
Apa gerangan yang kalian tunggu wahai saudari. P
Tanyanya pelan.
.....mereka hanya terdiam.
Mengapa kalian masih menambat kan piaraan kalian disini sementara tidakkah kalian lihat mereka sudah memenuhi kantong kantong air dan lambung piaraan mereka?
Kami...menunggu mereka semua selesai wahai anak muda. Setelah itu baru kami ak memberi minum domba domba kami.

To be continuuu

CHSS_2

Putus sekolah....
Baju itu masih rapi. Lipatan hasil setrika ibu masih mengukir garis bagai alur sungai tak berkelok.
Dalam tatapan nanar mata ini, sulit sekali untuk membedakan warna dari sebuah lambang yang terukir indah pada kantongnya. Ya.. sebuah simbol sekolah dengan garuda di sisinya.
Lama ku terpekur di bangku tua yang berderit lusuh saat beban tubuh ini menimpanya.
Aku tak peduli hal itu, karena beban yang kutanggung juga tak seringan bangku ini.
Lama dibiarkan air mata merajai pipiku. Aku tau..itu tak baik untuk ku. Tapi biar saja...siapapun yang peduli lagi padaku.
Kembali mata ini menangkap fokus bayangan baju itu.
Muak...Aku benci...tak seharusnya yang menjadikan rapi baju itu adalah seorang yang tak becus terhadap anaknya.
Aku sendiri. Dada ini bergetar hebat saat sekilas bayangan ayah menghampiri. Ah..se.tidaknya beliau sudah tenang di sana. Tapi aku...juga dalam ketenangan yang hakiki. Setidaknya itulah yang coba merajut sejak kepergiannya.
Tapi ini sungguh tak adil. Aku yang hanya seorang diri ditinggalkan oleh ayah dan ibu dalam waktu tak berselang. Ya Allah...Aku ikhlas dan rela apabila ayah meninggalkannya. Setidaknya tiada kekhawatiran dalam diri ini atas tujuannya yaitu di sisimu, tapi jika ibu...Aku tak rela dengan langkah ringannya membawa semua yang dia punya justru sesaat setelah ayah dibaringkan di pembaringan yang abadi.
Tiada apa yang ditinggalkan. Kursi ini menjadi saksi kekayaan kami bahwa hanya inilah yang kami punya.
Tuhan...seputih seragam itu..kuharapkan hatiku
Seindah lipatannya ku inginkan jalan hidupku..
Walau ku tahu..hari esok masih gelap di mata ini.
Cinta untukmu....wahai ayah.
Sayang bagimu...duhai ibu.

Beri aku jalan kebaikan..
Karena...
Surga itu masih di telapak kaki mu.

Catatan hati seorang siswi (CHSS)

Semurah senyum si doi

Siang ini cukup panas, air mineral yang tersedia tinggal pada tetesan terakhir.
Ah..datang tidak ya pemilik suara tajam nan cadas itu.
Teguh pandangannya saat menatap. Tapi...kenapa juga masih terasa sakit. Aku rindu padanya, tapi juga takut bertemu.
Aku mengaguminya, tapi hanya dalam nadi.
Semua cara telah kupersiapkan untuk menyambut kedatangannya. Tapi..Aku selalu khawatir.
Aku tak dapat menahan degup jantung saat suaranya memberi salam.
Semua berlalu...ternyata dia ada...
Dia yang jarang sekali tak hadir di kelasku, walau matahari sangat terik seperti saat ini..
Ah...fisika...guruku tersayang...
Senyuman teduh seindah senyum simpul sang doi..

Hp yang aktif dimalam hari membawa petaka

Lagi-lagi terinspirasi dari banyaknya membaca koran!
Temukan apa yang harus imah petik dari Hp miliknya ya...



PUPUS
(By: Safrida Lubis)

Benda persegi tak lebih besar dari sebuah kotak rokok masih erat dalam gengaman imah. Benda itu masih kaku tak bersuara. Kembali guling yang telah basah terjepit dalam dekapannya. Matanya masih panas, butiran hangat itu terus mengejar satu dan lainnya.
“Buat apa terus menangis, penyesalan selalu datang terlambat”
Deru isakan emak menambah laju butiran itu pada jalur yang sama.
“Sudahlah, jangan terus menyudutkan, kasihan dia”
Kata–kata Abu yang terdengar berbisik menyisakan luka di ujung kalimat.
“Aku malu pada Allah bu, malu pada tetangga, malu pada diriku sendiri yang tidak bisa menjaga dia seorang lagi” Sambil tetap bersandar pada kepala ranjang, emak masih menutupi wajahnya dengan untaian kain jilbab yang menutupi sebagian uban putihnya.
“Aku yang pantas lebih malu Jah” Abu mendesah pelan.
“Untuk duduk berlama–lama di warung kopi si Amat atau ikut pengajian tengku Ishak rasanya sudah tidak punya muka” genggaman tangan tuanya tampak bergetar pada tepian ranjang, wajahnya sesaat tertunduk dalam, ada kekecewaan disana, di ujung mata yang berkaca, pada guratan kening dengan alis yang hampir tak bisa di bilang hitam. Aku terpekur dalam dosa, kupejamkan mata ini, pupus segalanya. Impian manjadi perawat, keceriaan yang membayang saat melangkah bersama teman sebaya, ahh ….. sirna sudah.
Mataku kembali tertuju pada benda itu, akibat benda sialan ini. Rutukku. Dengan segenap kebencian kulontarkan persegi hitam itu menyentuh dinding. Dalam hitungan detik benda itu  tercerai berai menjadi serpihan berbeda ukuran. Melihat bentuk kehancuran yang terjadi, aku yakin dia tidak berfungsi lagi.
Hp–ku hancur, sehancur hatiku, hati kedua orang tuaku, terlebih lagi masa depanku.
x x x
Dering nada masuk menghentak kesunyian malam, memaksa kelopak mataku membuka perlahan. Sesaat Hp telah ada di tanganku.
“Satu pesan diterima” bisik hatiku. Dengan lihai kumainkan ibu jari.
“Blh knl-an ga”
“ah….nomor tidak dikenal” bisik hatiku lagi. Kembali kumainkan ibu jari dengan cepat sambil menahan kantuk yang membuat aku menguap beberapa kali.
“Capa ne..” balasku. Setelah memastikan pesan terkirim, kulirik jam pada ujung kiri bawah layar.
“Jam 03.05 dini hari” sambil terus menguap. Perlahan mataku terkatup dan Hp terlepas dari genggaman, aku kembali tertidur.


x x x
Emak masih melolong dalam tangisnya. Abu terpekur dalam tunduknya yang  panjang. Terlintas  wajah bang Azis, seorang guru ngaji di Dayah gampong tempat kelahiran istrinya. Kak Zahra, seorang guru Madrasah yang telah pegawai. Sedangkan kak Putri, minggu depan akan menikah dengan pria kenalan saat beliau menyelesaikan sarjananya. Sedang aku, tidak lebih dari dua bulan lagi seharusnya mengikuti ujian akhir sekolah menengah, harus rela untuk tidak keluar rumah, bahkan melangkah menuju pintu kamar aku tak mampu. Karena perutku yang mulai membesar. Hati ini telah kotor dengan cercaan mengutuki diri sendiri, aku benci diriku, aku benci barang itu, rutukku tak henti. Mataku tetap mendapati puingnya yang tak beranjak. Dadaku kembali terguncang.
Seandainya aku tidak menerima panggilan tak terjawab itu untuk yang keempat kalinya, seandainya rasa penasaran  tidak sebesar keingintahuan, seandainya logika dapat mengalahkan fakta, ah … seandainya… seandainya…..
Tapi tidak, pada kenyataannya, fakta akan selalu menang dan menunjukkan kebenaran pada akhirnya dibandingkan logika dengan segala pernyataannya. Penasaranku terlalu tinggi untuk sekedar keingintahuan.
“Hallo, siapa sih ni” sapaku sebel.
“Hallo, ni siapa?” Alunan suara serak diiringi kikikan menaikkan suhu kepalaku di titik tertinggi.
“Ini siapa sih, udah malam tau, apa matahari di situ belum tenggelam ya” cetusku kesal. Sesaat layar itu menjadi hitam, dalam status non aktif, aku lega. Berusaha mencoba kembali menggeliat dalam mimpi, sesaat melirik arloji hijau yang terduduk diatas meja belajar di sisi kanan ranjang ini, pukul 00.20 WIB.
x x x
Nomor yang sama akhir–akhir ini selalu tercatat di daftar panggilan tak terjawab. Mungkin belum jera atas kata–kata kasarku atau ingin minta maaf karena terus mengganggu. Rasa penasaran kembali menang. Panggilan itu pun kembali kubalas. Seakan mengetahui waktu luangku, saat istirahat, sore menjelang maghrib, hingga aku merelakan jatah sepertiga waktu istirahat malamku berkurang, khusus untuk obrolan sederhana yang terus mengalir hanya sekedar menanyakan “lagi ngapain”, “udah makan”. Hal yang sederhana, tapi bagiku, terasa bagai satu kepedulian yang selama ini hilang, tak kudapatkan lagi dari abang dan kedua kakakku, mengingat akulah si bungsu. Aku sadar mereka telah disibukkan oleh dunianya masing–masing.
Begitu juga aku, aku mempunyai dunia sendiri, dunia bersama Edo, teman sebayaku pada sekolah menengah lain.
Waktu berjalan begitu lambat saat menanti balasan pesan Edo, atau hanya sekedar missedcall yang mampu menyunggingkan senyuman kecil di ujung bibirku diiringi tebaran bunga pada landasan hati yang berseri.
Aku tak merasakan hal yang terbuang sia–sia demi meluangkan waktu untuk bertemu ditempat yang telah kami janjikan. Semua berjalan lancar dan apa adanya.
“Nanti Edo jemput y” Pesannya sesaat sebelum bel berbunyi.
“Y” Jawabku segera, sambil sesekali melihat wajah guru di depan kelas. Hatiku berbunga.
Tiada hari kulewatkan tanpa Edo, saat gemuruh lantunan ayat Allah hampir di seluruh ujung menara mesjid dan menasah menggema, seragam putih abu–abu masih kugunakan, pelan berjalan di ujung lorong rumah.
Hanya beberapa minggu emak sanggup menasehatiku, selebihnya beliau lebih memilih diam dengan wajah yang terus membengkak. Sedangkan Abu, hanya beberapa kali berbicara lembut denganku berdua. Setelah melihat kekerasanku, beliaupun tampak menyerah.
Aku semakin larut dalam duniaku, Edo segalanya bagiku, seluruh waktu kusisihkan untuknya, hanya untuk menemaninya tertawa dan bercanda, tentang cerita yang sebenarnya tidak pernah masuk dalam kategori lucu, tapi tidak bagiku, aku selalu tertawa dan ribuan senyuman ringan merekah. Seluruh rasa indah kian menyesak di bongkahan dadaku, segalanya kuberikan tanpa mengingat apapun, waktu belajarku disekolah, istirahat malamku bahkan diriku sekalipun. Kebahagaian itu terasa sempurna merekah dengan sikap Edo yang kian manja. Aku di atas langit. Sampai senja kemarin.
“Kamu tambah sehat aja” Ledek kak Putri, sehari setelah kepulangannya.
“Ahh ….. nggak ….., biasa kan badan Imah begini Kak!” Jawabku sambil terus menurunkan blus longgar yang coba kupakai selama ini.
“Bener lho …” Tambahnya sambil lincah merangkul bahu kiriku.
Aku mencoba menjauh, kupastikan kebenaran kata–katanya sambil bercermin. Terlihat beberapa bagian bentuk tubuhku telah banyak berubah, terutama perutku yang tambah membesar.
Seakan tersadar, dari pantulan cermin ekspresi kakak keduaku berubah, guratan pipinya menegang, kedua kakinya cepat surut kebelakang, seolah memekik pelan.
“Kamu …..”
Tanpa melanjutkan kata–kata, tubuhnya berbalik dan bayangnya segera menghilang di hadapanku.
Aku masih terpekur seperti tadi saat emak dan kak putri meminta pernyataanku. Kini, aku tak berani menatap Abu yang terhenyak di kursi tuanya saat terpaksa mendengar pernyataanku kembali.
x x x
Guling masih terjepit dalam dekapanku, mataku masih terpejam. Sesal menyesak relung jiwa. Seandainya Hp tak pernah kumiliki …….. ah …… impianku menjadi perawat …… ujian nasional ……. Semua sirna seketika. Lusa keluarga Edo kerumahku, kami menikah.
X x x

artikel mutu pendidikan di aceh

Artikel ini adalah unjuk partisipasi saya untuk mutu pendidikan....

Selamat membaca...





MUTU PENDIDIKAN YANG BAIK,
TANGGUNG JAWAB BERSAMA

Terwujudnya mutu pendidikan yang baik adalah harapan semua orang. Peran aktif perangkat pendidikan dan masyarakat sangat menentukan tingkat keberhasilan tujuan yang akan dicapai. Dewasa ini peran aktif tersebut hanya berpusat pada perangkat pendidikan saja baik sekolah, sarana prasarananya dan guru sebagai pelaksana pendidikan, sehingga tidak sedikit pula opini kesalahan jika terjadi hasil mutu pendidikan yang rendah adalah tanggung jawab perangkat pendidikan.
Hasil Ujian Nasional tahun pelajaran 2007/2008 menunjukkan bahwa Nanggroe Aceh Darussalam untuk program IPA berada pada tingkat ke-26 dari 33 propinsi di Indonesia dan untuk program IPS berada di tingkat 31 dari 33 propinsi di Indonesia, serta untuk SMK peringkat ke-33 dari 33 propinsi di Indonesia yaitu laporan dari Departemen Pendidikan Nasional. Berdasarkan hasil realita ini banyak kalangan masyarakat memusatkan perhatian pada perangkat pendidikan khususnya pelaksana pendidikan dengan beribu tanya “Sebenarnya siapa yang salah, apakah anak kami yang tidak pandai atau guru yang memang belum layak untuk mengajar?”
            Untuk keadaan yang seperti ini, seharusnya sudah menjadi tugas kita bersama baik pihak pelaksana pendidikan dan masyarakat agar mencari solusi bagaimana menanggapi masalah guna terwujudnya mutu pendidikan yang baik, disamping itu usaha pemerintah juga sangat dibutuhkan.
            Pemerintah melalui Menteri Pendidikan Nasional membuat peraturan Nomor 18 tahun 2007 tentang sertifikasi bagi guru dalam jabatan. Hal ini adalah langkah yang telah diambil oleh pemerintah yang mulai memperhatikan kondisi pendidikan di Indonesia, terutama guru sebagai ujung tombak yang harus benar–benar diasah. Hal ini sangat baik mengingat guru yang telah lulus dalam sertifikasi akan mendapat tunjangan materi dan bukan sembarangan guru yang dapat lulus, yaitu khusus bagi guru yang mengikuti uji kompetensi, yang telah mengikuti pelatihan dan melaksanakan beban kerja guru sekurang–kurangnya 24 jam mengajar. Dalam hal ini berpulang lagi kepada guru itu sendiri, apakah dengan adanya program pemerintah dalam sertifikasi ini sang guru dapat meningkatkan atau mempertahankan kepropesionalannya dalam segala hal di bidang profesinya? Sebagai contoh dalam kehadirannya, apakah sang guru tersebut hanya datang kesekolah jika ada jam mengajar dan tidak pernah hadir jika tidak ada jam mengajar? Ataukah lagi apakah tugas guru hanya mengajar saja, sehingga pada saat tidak ada jam mengajar sang guru tidak dapat melakukan apa–apa seperti membimbing siswa, membuat perangkat pembelajaran, memperdalam ilmunya atau sekedar menyumbangkan pikiran agar mutu pendidikan di sekolah yang menjadi tempat tugasnya menjadi lebih baik.
            Untuk itu, alangkah baiknya jika pemerintah yang telah membuat tim pengawas dapat bekerja efektif untuk mengawasi dengan berkesinambungan tentang pekerjaan guru yang telah tersertifikasi dan menggunakan kepala sekolah sebagai pengawas harian yang bekerja langsung tiap harinya mengawasi sang guru tersebut serta melaksanakan sangsi yang jelas jika benar terjadi penyelewengan pada gelar yang telah di sandang yaitu sebagai guru yang profesional.
Adapun masyarakat dalam hal ini, seharusnya menjadi pihak yang sangat menolong pendidikan dengan cara menyiapkan peserta didik yang dapat di tempa dalam pendidikan formal. Melahirkan akhlak dan budi pekerti yang baik, sikap, sopan dan santun adalah pendidikan yang seharusnya sudah diterima peserta didik dari pendidikannya dimasyarakat yang paling mendasar yaitu keluarga. Peran orang tua menjadi guru saat peserta didik berada di rumah adalah modal dasar dan mempunyai ketahanan pengetahuan yang cukup lama dan akan terbawa sampai akhirnya peserta didik mengecap pendidikan formal.
            Apabila faktor internal dalam diri peserta didik telah bagus, yaitu akhlak dan budi pekerti yang baik, sikap, sopan dan santun, maka selanjutnya adalah mencurahkan perhatian akan diri peserta didik oleh orang tua dengan saling komunikasi tentang segala hal dan di tambah lagi orang tua menjadi guru di rumah saat peserta didik diwajibkan untuk mengulang pelajaran apa yang di perolehnya pada saat dipendidikan formal setiap harinya.
            Khususnya di Nanggroe Aceh Darussalam yang telah menyatakan sebagai daerah syariat Islam, maka sudah seharusnya orang tua juga memfokuskan pendidikan peserta didik pada pendidikan Agama saat berada dalam pendidikan keluarga. Berdasarkan penelitian pendidikan Agama dalam keluarga akan lebih mudah membentuk ahklak dan budi pekerti yang bertahan lama dan tahan terhadap ancaman dari luar pendidikan apabila peserta didik tersebut telah keluar lingkungan.
            Jika hal tersebut dilakukan oleh pihak orang tua, maka tatkala peserta didik telah masuk dalam lingkungan pendidikan formal, maka akan menjadi sangat memudahkan bagi proses yang akan terjadi pada perangkat pendidikan yaitu sekolah, guru dan akhirnya pada pelaksanaan pembelajaran.
            Pada pelaksanaan pembelajaran pastinya guru tidak perlu melakukan perbaikan akhlak dan budi pekerti, sikap dan sopan, santun siswa lagi, tetapi hanya melaksanakan proses pembelajaran sesuai dengan apa yang telah direncanakan dengan berusaha untuk dapat membangkitkan minat serta memotivasi siswa untuk belajar.
            Keadaan yang kita lihat sekarang ini, dengan berkembangnya secara pesat ilmu pengetahuan dan sistem globalisasi menjadikan dunia tanpa batasan, dan kita lihat pula kenyataannya presentase nilai positif dan negatif terhadap perubahan itu saling berlomba antara satu dengan yang lain, sehingga dampaknya terjadi juga dengan dunia pendidikan.
            Sebagai contoh, hampir semua peserta didik memiliki alat hasil pengembangan ilmu pengetahuan yaitu HP. Jika dahulu pada dunia pendidikan peserta didik lebih senang membaca buku diperpustakaan saat istirahat atau pada saat tidak ada guru karena sakit atau berhalangan hadir, maka sekarang kita lihat peserta didik lebih senang mendengarkan musik dan lagu pada HP sehingga kadang–kadang terdengar sampai pada ruangan kelas lain yang sedang belajar. Hal ini menandakan kurangnya akhlak dan budi pekerti yang baik dari peserta didik itu sendiri serta menunjukkan tidak adanya minat dan dorongan dari dalam diri untuk merubah keadaan pengetahuan dalam dirinya atau sekedar untuk mengulang pelajaran yang telah berlangsung.
            Oleh sebab itu, untuk meningkatkan mutu pendidikan di Nanggroe Aceh Darussalam, maka serangkaian kegiatan ini adalah menjadi tanggung jawab masyarakat, perangkat pendidikan dan pemerintah yang ada di Nanggroe Aceh Darussalam untuk dapat dilaksanakan dan diperbaiki, disamping keberadaan sarana dan prasarana yang mendukung, maka kedepan mutu pendidikan di Nanggroe Aceh Darussalan akan dapat membaik.

cerpen perceraian yang dicintai Allah dan Rasulnya

Perceraian yang sering kita dengar di media massa dan tetangga, selalu dalam keadaan yang bagaimana...............gitu, tapi pengajian bersama tengku Abdullah, saat menjelaskan masalah "istri" mengungkapkan kejadian di satu desa (beliau tidak bilang apakah beliau sebagai tengku imamnya atau sebagai tamu undangan kala itu), Yahh.....kurang lebih seperti inilah cerpennya......



Beri tanggapannya ya....


HAJATAN PESTA PERCERAIAN
(By: Safrida Lubis)

Wajah lelaki itu masih seperti malam sebelumnya, dingin dengan tatapan sendu menekuni ujung jari kaki yang digerakkan perlahan.
“Aku yakin ini jalan terbaik Mas, jika tetap seperti ini aku rasa tidak akan memberi solusi bagi kita berdua, aku tetap pada pendirianku dan kumohon pengertian darimu, keikhlasanmu Mas”.
Lelaki itu tetap terpekur panjang, nafas yang dihembuskan berulang kali melukiskan betapa galau fikirannya, dipandangi dua pasang mata itu secara bergantian, dadanya makin terasa sesak. Lembutnya angin malam yang berdesir ditelinga dan seluruh pori–pori tubuh bagian terbuka tidak juga melunturkan panas yang melanda kelopak matanya. Perlahan tangan kekarnya membelai untaian rambut tipis Alisa. Kembali ditatapi mata dengan buliran air yang makin membesar. Kedua bibirnya membuka perlahan. Mendesah pelan.
“Aku ikhlas”. Bibir itu kembali tertutup rapat. Tangisan wanita didepannya pun pecah, larut dalam pelukannya bersama Alisa didekapan.
Musyawarah itu mencapai keputusan akhir setelah hampir sebulan setiap pertemuan hanya menghasilkan kebisuan di akhiri tangisan, tetapi tidak malam ini.
***
Mata bersahaja itu membenarkan duduk silanya. Kepulan asap daun lipah gulung menyamarkan wajah dan menghilang dalam hitungan detik.
“Nak Edo yakin dengan keputusannya, apa sebaiknya tidak difikirkan lebih matang lagi, karena langkah yang ingin kalian tempuh ini sangat dibenci oleh Allah dan Rasul kita, apakah tidak ada jalan selain demikian”. Mata lelahnya kembali menatap Alisa.
“Memang masa depan anak ini bukan ditangan kita, kita hanya mampu menuntun, semua kehendak Allah, tapi alangkah bijaksananya jika kalian berdua mendampinginya sampai dewasa”.
“Kami telah bermufakat dan sepertinya tiada jalan keluar lain tengku, Insyaallah senin depan hajatan akan dilaksanakan, kehadiran tengku untuk membacakan doa agar kehidupan kami menjadi lebih baik dimasa mendatang sangat dinanti”.
Anggukan pelan tak berbilang seiring tarikan asap terakhir tembakau yang ada dijarinya selanjutnya menutup pembicaraan kami bersamanya senja itu.
“Baiklah, jika jalan yang kalian pilih ini memang benar kehendakNya, masing–masing dari kalian berdua pasti mendapatkan kebahagiaan dan rezeki yang cukup, saya hanya mampu mendoakan saja”. Tambahnya
Tanpa menambah waktu aku mengikuti Mas Edo bangkit, meraih jemari tengku Amirullah, mencium takjim sesaat.
“Kami permisi Tengku, Assalamualaikum”.
“Waalaikumsalam......”.
Tatapan nanar dari imam kampong itu mengiringi langkah kaki menuruni tangga
rumahnya yang masih memelihara ciri khas rumah Aceh. Tiang bulat setinggi orang dewasa menyangga tiap sisi rumah yang dilapisi dinding terbuat dari susunan kayu serta dipayungi atap daun rumbia. Teduh. Seteduh hati ini. Perasaan haru, sedih, senang dan bahagia berbaur dihati walau tak sepatah kata menemani perjalanan kami pulang kerumah.
***
Beberapa hari ini aku sibuk mempersiapkan segala sesuatu, dari mulai perlengkapan, undangan, daftar menu makanan serta hati yang harus tertata rapi saat acara senin nanti. Mas Edo tak kalah sibuknya, dia sering tidak ada dirumah demi mengurus semua surat–surat yang kami perlukan sebagai hadiah untukku pada saat perayaan nanti.
Hari semakin dekat.
“Kamu jadi pulang besok Lis.” Suara Ibu pelan.
“Ibu minta maaf jika karena Ibu kamu harus terluka, bukan itu harapan Ibu, sebenarnya masih ada jalan lain kan Lis?”.
“Lis rasa ini yang terbaik Bu, Mas Edo paham akan keputusan Lis, Lis sayang Mas Edo Bu, juga Alisa, tapi keinginan untuk menjaga Ibu lebih besar dari itu semua”.
Perempuan tua itu mendesah.
“Seorang anak memang harus berbakti pada orang tuanya, tetapi jika dia sudah bersuami maka lelaki itu adalah segalanya baginya, Edo orangnya baik, tutur katanya rendah, tatapannya sopan dan mengerti sedikit tentang agama, modal yang cukup untuk menjadi kepala rumah tangga, apakah kamu tidak merasa bahagia dengannya Lis?”. Suara Ibu diseberang membuatku mendesah pelan.
“Tidak Bu, bahkan Lis mendapatkan yang terbaik bersuamikan Mas Edo, pengertiannya melebihi segala sesuatu, kata yang keluar dari lidahnya tidak pernah menyakiti malah bernada nasehat selalu, tidak pernah dia marah pada Lis bahkan kalau diingat kemarahan datang dari Lis disebabkan hal–hal sepele”. Terdiam sesaat.
“Ya, Lis sadar sebenarnya kesabaran Lis jauh lebih rendah dibandingkan Mas Edo. Bu...tolong Lis, inilah yang bisa Lis usahakan, Lis ingin pulang menjaga Ibu, walau Lis tau bercerai dengan Mas Edo bukan keinginan Lis mengingat belum tentu besok akan mendapatkan ganti yang sepadan, tapi kami telah memilih jalan ini Bu dengan jalan yang terbaik, Insyaallah”.
Suara Ibu diseberang sesekali batuk menahan sakit ditenggorokan, menambah kekhawatiran akan kesehatannya yang makin menurun.
“Mungkin Ibu perlu istirahat Lis, salam Ibu untuk Edo juga Alisa kecil, Lis Ibu bangga padamu dan Edo yang berbesar hati untuk bercerai dengan cara yang baik, Allah pasti tau yang terbaik untuk kalian berdua kelak”.
Suara Ibu terputus seiring butiran bening yang membasahi sisi hanphoneku. Perlahan dadaku berguncang dalam isakan tangis.
Sesungguhnya berat untuk mengambil keputusan bercerai dengan Mas Edo, apa yang dikatakan Ibu benar adanya, selain sopan, penyayang, santun, lemah lembut juga mengerti agama melekat pada dirinya dari garis keturunan Aceh–Jawa. Alisa, buah hati kami sejak menikah tiga tahun silam mulai berbicara dengan jelas.
Aku dipinang saat Mas Edo bertugas di kotaku, Lampung. Setahun berselang masa tugasnya berakhir dan aku pun di boyong ke Aceh, kampung kelahirannya.
Mas Edo paham alasanku bercerai untuk menjaga Ibu yang hanya ditemani si bungsu Andi. Beberapa bulan ini kondisi Ibu yang lumpuh karena penyakit diperparah lagi saat beliau terjatuh di kamar mandi. Kini Ibu hanya sanggup berbaring di ranjangnya.
Saat ini di rumah agak ramai dari biasanya, tetangga dan saudara Mas Edo mempersiapkan segala sesuatu untuk hajatan besok yang mereka tahu guna merayakan pesta pernikahan kami, undangan melalui lisan pun telah disampaikan, kerabat dari kesatuannya, masyarakat sekitar dan tak lupa puluhan anak yatim biar hajatan ini mendapat berkah.
Sayup tawa canda mereka dari luar kamar terdengar dalam bahasa yang belum sepenuhnya aku mengerti.
“Telepon dari Ibu, Bagaimana kabarnya Lis?”.
Suara Mas Edo dari balik pintu yang menganga membuyarkan lamunanku.
“Iya Mas, kalau Lis dengar dari suaranya Ibu sudah lumayan sehat, sanggup bercerita banyak”. Sambil menyeka air mata, aku mencoba menatap Mas Edo yang mengayunkan langkah dan duduk di sampingku.
“Aku tidak melihat Alisa di depan”.
“Tadi adik Mas, Munah membawanya bermain”. Jawabku sesaat sebelum kesunyian menyapa.
“Mas, Lis berterima kasih atas semuanya, juga mohon maaf  pada Mas, jika selama menjadi istri Lis menyinggung bahkan tak luput menyakiti hati Mas”.
Lelaki itu mendesah, perlahan dipalingkan wajahnya.
“Sudahlah Lis, jalan ini sudah kita tempuh, aku juga inginkan agar kamu ikhlas memaafkan salahku, banyak mereka diluar sana yang kita dengar berpisah dengan cara yang saling memendam amarah dan kebencian, aku hanya ingin kita tidak termasuk ke golongan tersebut, saat kita menikah dahulu aku memintamu dengan cara baik dan perasaan sayang, kini jika harus berpisah maka seperti semula perasaanku, terlebih lagi ada Anisa di sisi kita”.
“Aku hanya mencoba berbuat seperti yang Allah perintahkan Lis, penjelasan yang kudengar dari pengajian oleh tengku Amir. Mungkin sampai disinilah jodoh kita Lis, aku ikhlas”.
Tak tersisa lagi dataran kering dipipiku, aliran air mata menderas menemani langkah kecil Mas Edo menuju pintu.
“Oya Lis, suratnya sudah selesai”. Tanpa menunggu jawaban bayangan itu menghilang dibalik pintu.
***
Matahari mulai merangkak naik seiring kehadiran tamu dan para undangan. Setelah doa bersama yang dibawakan Tengku Amir dengan puluhan anak yatim, hidangan pun mulai disajikan.
Wajah polos anak kecil yang tersenyum ria, bercanda sesama teman disamping sambil tetap menjaga santun meramaikan suasana ini. Dibagian lain undangan telah menempati kursi yang telah dipersiapkan dibawah tenda–tenda sesaat sebelumnya mengambil makanan yang dihidangkan di pelataran meja. Papan bungan ucapan selamat berderet indah menghiasi jalan memasuki halaman rumah.
Kata–kata sambutan mulai diucapkan Mas Edo untuk para undangan, tamu dan dilanjutkan Tengku Amirullah sebagai pembicara atas permintaan kami saat bertandang kerumahnya senja itu.
“Tuan rumah, para undangan dan tamu yang terhormat”.
Suara pelannya berhenti, sesaat sebelumnya mengucapkan salam dan pujian.
“Hari ini kita masih diberkati Allah sehingga dapat berkumpul di rumah Nak Edo dan istrinya untuk mengingat kembali suatu hajatan yang mulia saat keduanya menikah juga dalam rangka memenuhi undangannya, semoga yang kita lakukan bermanfaat adanya”.
“Dalam pernikahan, sebagai seorang suami sudah selayaknya kita mencintai istri yang kita pilih dari sekian banyak wanita dan kita jadikan pendamping hidup. Pastilah dalam berusaha memilikinya, berbagai pertimbangan dan masukan dari orang lain terlebih dahulu berjalan didepan”.
“Para hadirin yang terhormat, dari sang istri kita berharap dikarunia beberapa orang keturunan kita, pasti saja yang baik, berakhlak, berilmu dan bagus rupanya, maka sudah sepantasnya istri yang selalu melayani kita, menyiapkan sarapan dan makan malam, menjaga anak kita dan lain sebagainya mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari kita. Pemberian hadiah hanyalah salah satu wujud dari rasa kasih sayang suami terhadap istri, disamping perhatian, pengertian sumi dan segala yang membuat istri senang, asalkan tidak diluar batas norma agama”.
“Saya berdiri disini, sebagai penasehat atas permintaan tuan rumah yang ingin memberikan hadiah kepada sang istri, nak Lisa Lestari yang akan diwakilkan oleh Pak Bambang, kepala kesatuan dimana Nak Edo bekerja”.
Riuh rendah suara tepukan dan eluan para undangan menemani aku melangkah ke depan podium buatan, disambut Pak Bambang yang berdiri siap memberikan kado dengan bentuk persegi seukuran kertas folio terbungkus kain bermotif batik.
Jantungku memompa kencang dan aliran darah ke tanganku berhenti, dingin.
“Mungkin hanya ini yng dapat saya sampaikan, semoga Nak Edo dan Nak Lisa mendapatkan berkah dariNya”.
Tengku Amir menutup ucapannya dengan salam dan aku pun mengikutinya menuruni podium. Masih kulihat ketabahan senyum Mas Edo saat mata ini berpapasan.
“Saudara–saudara, para undangan dan tamu yang terhormat, adapun kehadiran kita disini untuk turut merasakan kebahagiaan tuan rumah dalam merayakan pernikahannya. Disini saya mendapatkan kesempatan dan penghormatan dari tuan rumah untuk mengutarakan maksud yang sebenarnya”.
Tegas suara Pak Bambang sesaat mengundang kesunyian para undangan.
“Perayaan pernikahan Edo Syahputra dan Lisa Lestari pada hari ini disertai juga dengan pemberitahuan kepada masyarakat umumnya dan khusus pada kesatuan tempatnya bekerja, bahwa melalui hajatan ini mereka telah bercerai pula.” Seketika kasak kusuk terjadi disetiap sudut kursi, aku masih tertunduk saat Pak Bambang kembali melanjutkan kata–katanya.
“Kado yang diterima Lisa Lastari tadi berisikan surat–surat perceraian yang sah sesuai dengan hukum dan ketentuan agama dimana Edo Syahputra telah mengurusnya beberapa hari lalu. Hadirin yang terhormat, kehadiran kita semua disini menjadi saksi atas berpisahnya dua manusia dari ikatan pernikahan dengan alasan yang kuat dari masing–masing pihak. Semoga doa dari kita semua untuk kebahagiaan mereka terkabul hendaknya.” Suasana ricuh masih menggema saat Pak Bambang melangkah turun setelah sebelumnya memberi salam penutup, seterusnya pelukan hangat menyambut Mas Edo yang berdiri menunggu dengan tangan tetap bersalaman. Hujan air mata dengan serta merta membasahi pipi para undangan yang hadir dan tak sedikit dari mereka berusaha menyekanya. Merasa acara ini telah berhujung, Kulangkahkan kaki dengan gontai menghampiri Mas Edo dan menggapai tangan kekar itu seterusnya kucium khidmat. Tiada kata yang keluar dari bibirnya bahkan saat mendekap erat Alisa, hingga langkah ini menjauh meninggalkannya menuju kendaraan yang akan menghantarkanku pulang kerumah Ibu.
“Oh Tuhan, kuatkanlah hati ini.” Batinku.
Aku terus dibawa menjauh meninggalkan suasana ceria yang seketika berharuan air mata.
***
Mendekati setahun aku bercerai, Mas Edo mengirimkan SMS yang isinya berbeda dari biasanya, bukan sekedar menayakan Alisa dan Ibu.
“Lis, hari ini aku telah menikah, dengan wanita yang dikenalkan makcik untukku, masih terkait keluarga juga. Bukan tujuanku ingin menyakiti perasaanmu dengan apa yang telah aku sampaikan, tapi kamu juga  masih muda, jangan menyiksa diri sendiri, aku berharap yang terbaik untuk kita berdua juga Alisa. Oya, aku juga bersyukur kesehatan Ibu semakin membaik, salam sayangku untuk Alisa dan kalian semua. Assalamualaikum.”
Aku terpaku, rongga dadaku terasa merekah, tiada niat untuk membalas SMS nya kali ini, aku masih menata hati sedemikian untuk dapat menjawab pinangan dari duda muda, pengusaha kecil satu minggu yang lalu.
********