Temukan apa yang harus imah petik dari Hp miliknya ya...
PUPUS
(By: Safrida
Lubis)
Benda persegi tak lebih besar dari sebuah kotak rokok
masih erat dalam gengaman imah. Benda itu masih kaku tak bersuara. Kembali
guling yang telah basah terjepit dalam dekapannya. Matanya masih panas, butiran
hangat itu terus mengejar satu dan lainnya.
“Buat apa terus menangis, penyesalan selalu datang
terlambat”
Deru isakan emak menambah laju butiran itu pada jalur
yang sama.
“Sudahlah, jangan terus menyudutkan, kasihan dia”
Kata–kata Abu yang
terdengar berbisik menyisakan luka di ujung kalimat.
“Aku malu pada Allah bu, malu pada tetangga, malu pada diriku sendiri yang tidak bisa
menjaga dia seorang lagi” Sambil tetap bersandar pada kepala ranjang, emak masih menutupi wajahnya
dengan untaian kain jilbab yang menutupi sebagian uban putihnya.
“Aku yang pantas lebih malu Jah” Abu mendesah pelan.
“Untuk duduk berlama–lama di warung kopi si Amat atau
ikut pengajian tengku Ishak rasanya sudah tidak punya muka” genggaman tangan
tuanya tampak bergetar pada tepian ranjang, wajahnya sesaat tertunduk dalam,
ada kekecewaan disana, di ujung mata yang berkaca, pada guratan kening dengan
alis yang hampir tak bisa di bilang hitam. Aku terpekur dalam dosa, kupejamkan
mata ini, pupus segalanya. Impian manjadi perawat, keceriaan yang membayang
saat melangkah bersama teman sebaya, ahh ….. sirna sudah.
Mataku kembali tertuju pada benda itu, akibat benda
sialan ini. Rutukku. Dengan segenap kebencian kulontarkan persegi hitam itu
menyentuh dinding. Dalam hitungan detik benda itu tercerai berai menjadi serpihan berbeda
ukuran. Melihat bentuk kehancuran yang terjadi, aku yakin dia tidak berfungsi lagi.
Hp–ku hancur, sehancur hatiku, hati kedua orang tuaku,
terlebih lagi masa depanku.
x x x
Dering nada masuk menghentak kesunyian malam, memaksa
kelopak mataku membuka perlahan. Sesaat Hp telah ada di tanganku.
“Satu pesan diterima” bisik hatiku. Dengan lihai
kumainkan ibu jari.
“Blh knl-an ga”
“ah….nomor tidak dikenal” bisik hatiku lagi. Kembali
kumainkan ibu jari dengan cepat sambil menahan kantuk yang membuat aku menguap
beberapa kali.
“Capa ne..” balasku. Setelah memastikan pesan
terkirim, kulirik jam pada ujung kiri bawah layar.
“Jam 03.05 dini hari” sambil terus menguap. Perlahan
mataku terkatup dan Hp terlepas dari genggaman, aku kembali tertidur.
x x x
Emak masih melolong dalam tangisnya. Abu terpekur
dalam tunduknya yang panjang.
Terlintas wajah bang Azis, seorang guru
ngaji di Dayah gampong tempat
kelahiran istrinya. Kak Zahra, seorang guru Madrasah yang telah pegawai.
Sedangkan kak Putri, minggu depan akan menikah dengan pria kenalan saat beliau
menyelesaikan sarjananya. Sedang aku, tidak lebih dari dua bulan lagi
seharusnya mengikuti ujian akhir sekolah menengah, harus rela untuk tidak keluar
rumah, bahkan melangkah menuju pintu kamar aku tak mampu. Karena perutku yang
mulai membesar. Hati ini telah kotor dengan cercaan mengutuki diri sendiri, aku
benci diriku, aku benci barang itu, rutukku tak henti. Mataku tetap mendapati
puingnya yang tak beranjak. Dadaku kembali terguncang.
Seandainya aku tidak menerima panggilan tak terjawab
itu untuk yang keempat kalinya, seandainya rasa penasaran tidak sebesar keingintahuan, seandainya
logika dapat mengalahkan fakta, ah … seandainya… seandainya…..
Tapi tidak, pada kenyataannya, fakta akan selalu
menang dan menunjukkan kebenaran pada akhirnya dibandingkan logika dengan
segala pernyataannya. Penasaranku terlalu tinggi untuk sekedar keingintahuan.
“Hallo, siapa sih ni” sapaku sebel.
“Hallo, ni siapa?” Alunan suara serak diiringi kikikan
menaikkan suhu kepalaku di titik tertinggi.
“Ini siapa sih, udah malam tau, apa matahari di situ
belum tenggelam ya” cetusku kesal. Sesaat layar itu menjadi hitam, dalam status
non aktif, aku lega. Berusaha mencoba kembali menggeliat dalam mimpi, sesaat
melirik arloji hijau yang terduduk diatas meja belajar di sisi kanan ranjang
ini, pukul 00.20 WIB.
x x x
Nomor yang sama akhir–akhir ini selalu tercatat di
daftar panggilan tak terjawab. Mungkin belum jera atas kata–kata kasarku atau
ingin minta maaf karena terus mengganggu. Rasa penasaran kembali menang.
Panggilan itu pun kembali kubalas. Seakan mengetahui waktu luangku, saat
istirahat, sore menjelang maghrib, hingga aku merelakan jatah sepertiga waktu
istirahat malamku berkurang, khusus untuk obrolan sederhana yang terus mengalir
hanya sekedar menanyakan “lagi ngapain”, “udah makan”. Hal yang sederhana, tapi
bagiku, terasa bagai satu kepedulian yang selama ini hilang, tak kudapatkan
lagi dari abang dan kedua kakakku, mengingat akulah si bungsu. Aku sadar mereka
telah disibukkan oleh dunianya masing–masing.
Begitu juga aku, aku mempunyai dunia sendiri, dunia
bersama Edo, teman sebayaku pada sekolah
menengah lain.
Waktu berjalan begitu lambat saat menanti balasan
pesan Edo, atau hanya sekedar missedcall yang mampu menyunggingkan senyuman
kecil di ujung bibirku diiringi tebaran bunga pada landasan hati yang berseri.
Aku tak merasakan hal yang terbuang sia–sia demi
meluangkan waktu untuk bertemu ditempat yang telah kami janjikan. Semua
berjalan lancar dan apa adanya.
“Nanti Edo jemput y” Pesannya sesaat sebelum bel
berbunyi.
“Y” Jawabku segera, sambil sesekali melihat wajah guru
di depan kelas. Hatiku berbunga.
Tiada hari kulewatkan tanpa Edo, saat gemuruh lantunan
ayat Allah hampir di seluruh ujung menara mesjid dan menasah menggema, seragam putih
abu–abu masih kugunakan, pelan berjalan di ujung lorong rumah.
Hanya beberapa minggu emak sanggup menasehatiku,
selebihnya beliau lebih memilih diam dengan wajah yang terus membengkak.
Sedangkan Abu, hanya beberapa kali
berbicara lembut denganku berdua. Setelah melihat kekerasanku, beliaupun tampak
menyerah.
Aku semakin larut dalam duniaku, Edo
segalanya bagiku, seluruh waktu kusisihkan untuknya, hanya untuk menemaninya
tertawa dan bercanda, tentang cerita yang sebenarnya tidak pernah masuk dalam
kategori lucu, tapi tidak bagiku, aku selalu tertawa dan ribuan senyuman ringan
merekah. Seluruh rasa indah kian menyesak di bongkahan dadaku, segalanya
kuberikan tanpa mengingat apapun, waktu belajarku disekolah, istirahat malamku
bahkan diriku sekalipun. Kebahagaian itu terasa sempurna merekah dengan sikap Edo yang kian manja. Aku di atas langit. Sampai senja
kemarin.
“Kamu tambah sehat aja” Ledek kak Putri, sehari
setelah kepulangannya.
“Ahh ….. nggak ….., biasa kan badan Imah begini Kak!” Jawabku sambil
terus menurunkan blus longgar yang coba kupakai selama ini.
“Bener lho …” Tambahnya sambil lincah merangkul bahu
kiriku.
Aku mencoba menjauh, kupastikan kebenaran kata–katanya
sambil bercermin. Terlihat beberapa bagian bentuk tubuhku telah banyak berubah,
terutama perutku yang tambah membesar.
Seakan tersadar, dari pantulan cermin ekspresi kakak
keduaku berubah, guratan pipinya menegang, kedua kakinya cepat surut
kebelakang, seolah memekik pelan.
“Kamu …..”
Tanpa melanjutkan kata–kata, tubuhnya berbalik dan
bayangnya segera menghilang di hadapanku.
Aku masih terpekur seperti tadi saat emak dan kak
putri meminta pernyataanku. Kini, aku tak berani menatap Abu yang terhenyak di kursi tuanya saat terpaksa mendengar
pernyataanku kembali.
x x x
Guling masih
terjepit dalam dekapanku, mataku masih terpejam. Sesal menyesak relung jiwa.
Seandainya Hp tak pernah kumiliki …….. ah …… impianku menjadi perawat …… ujian
nasional ……. Semua sirna seketika. Lusa keluarga Edo
kerumahku, kami menikah.
X x x
No comments:
Post a Comment