Total Pageviews

Hp yang aktif dimalam hari membawa petaka

Lagi-lagi terinspirasi dari banyaknya membaca koran!
Temukan apa yang harus imah petik dari Hp miliknya ya...



PUPUS
(By: Safrida Lubis)

Benda persegi tak lebih besar dari sebuah kotak rokok masih erat dalam gengaman imah. Benda itu masih kaku tak bersuara. Kembali guling yang telah basah terjepit dalam dekapannya. Matanya masih panas, butiran hangat itu terus mengejar satu dan lainnya.
“Buat apa terus menangis, penyesalan selalu datang terlambat”
Deru isakan emak menambah laju butiran itu pada jalur yang sama.
“Sudahlah, jangan terus menyudutkan, kasihan dia”
Kata–kata Abu yang terdengar berbisik menyisakan luka di ujung kalimat.
“Aku malu pada Allah bu, malu pada tetangga, malu pada diriku sendiri yang tidak bisa menjaga dia seorang lagi” Sambil tetap bersandar pada kepala ranjang, emak masih menutupi wajahnya dengan untaian kain jilbab yang menutupi sebagian uban putihnya.
“Aku yang pantas lebih malu Jah” Abu mendesah pelan.
“Untuk duduk berlama–lama di warung kopi si Amat atau ikut pengajian tengku Ishak rasanya sudah tidak punya muka” genggaman tangan tuanya tampak bergetar pada tepian ranjang, wajahnya sesaat tertunduk dalam, ada kekecewaan disana, di ujung mata yang berkaca, pada guratan kening dengan alis yang hampir tak bisa di bilang hitam. Aku terpekur dalam dosa, kupejamkan mata ini, pupus segalanya. Impian manjadi perawat, keceriaan yang membayang saat melangkah bersama teman sebaya, ahh ….. sirna sudah.
Mataku kembali tertuju pada benda itu, akibat benda sialan ini. Rutukku. Dengan segenap kebencian kulontarkan persegi hitam itu menyentuh dinding. Dalam hitungan detik benda itu  tercerai berai menjadi serpihan berbeda ukuran. Melihat bentuk kehancuran yang terjadi, aku yakin dia tidak berfungsi lagi.
Hp–ku hancur, sehancur hatiku, hati kedua orang tuaku, terlebih lagi masa depanku.
x x x
Dering nada masuk menghentak kesunyian malam, memaksa kelopak mataku membuka perlahan. Sesaat Hp telah ada di tanganku.
“Satu pesan diterima” bisik hatiku. Dengan lihai kumainkan ibu jari.
“Blh knl-an ga”
“ah….nomor tidak dikenal” bisik hatiku lagi. Kembali kumainkan ibu jari dengan cepat sambil menahan kantuk yang membuat aku menguap beberapa kali.
“Capa ne..” balasku. Setelah memastikan pesan terkirim, kulirik jam pada ujung kiri bawah layar.
“Jam 03.05 dini hari” sambil terus menguap. Perlahan mataku terkatup dan Hp terlepas dari genggaman, aku kembali tertidur.


x x x
Emak masih melolong dalam tangisnya. Abu terpekur dalam tunduknya yang  panjang. Terlintas  wajah bang Azis, seorang guru ngaji di Dayah gampong tempat kelahiran istrinya. Kak Zahra, seorang guru Madrasah yang telah pegawai. Sedangkan kak Putri, minggu depan akan menikah dengan pria kenalan saat beliau menyelesaikan sarjananya. Sedang aku, tidak lebih dari dua bulan lagi seharusnya mengikuti ujian akhir sekolah menengah, harus rela untuk tidak keluar rumah, bahkan melangkah menuju pintu kamar aku tak mampu. Karena perutku yang mulai membesar. Hati ini telah kotor dengan cercaan mengutuki diri sendiri, aku benci diriku, aku benci barang itu, rutukku tak henti. Mataku tetap mendapati puingnya yang tak beranjak. Dadaku kembali terguncang.
Seandainya aku tidak menerima panggilan tak terjawab itu untuk yang keempat kalinya, seandainya rasa penasaran  tidak sebesar keingintahuan, seandainya logika dapat mengalahkan fakta, ah … seandainya… seandainya…..
Tapi tidak, pada kenyataannya, fakta akan selalu menang dan menunjukkan kebenaran pada akhirnya dibandingkan logika dengan segala pernyataannya. Penasaranku terlalu tinggi untuk sekedar keingintahuan.
“Hallo, siapa sih ni” sapaku sebel.
“Hallo, ni siapa?” Alunan suara serak diiringi kikikan menaikkan suhu kepalaku di titik tertinggi.
“Ini siapa sih, udah malam tau, apa matahari di situ belum tenggelam ya” cetusku kesal. Sesaat layar itu menjadi hitam, dalam status non aktif, aku lega. Berusaha mencoba kembali menggeliat dalam mimpi, sesaat melirik arloji hijau yang terduduk diatas meja belajar di sisi kanan ranjang ini, pukul 00.20 WIB.
x x x
Nomor yang sama akhir–akhir ini selalu tercatat di daftar panggilan tak terjawab. Mungkin belum jera atas kata–kata kasarku atau ingin minta maaf karena terus mengganggu. Rasa penasaran kembali menang. Panggilan itu pun kembali kubalas. Seakan mengetahui waktu luangku, saat istirahat, sore menjelang maghrib, hingga aku merelakan jatah sepertiga waktu istirahat malamku berkurang, khusus untuk obrolan sederhana yang terus mengalir hanya sekedar menanyakan “lagi ngapain”, “udah makan”. Hal yang sederhana, tapi bagiku, terasa bagai satu kepedulian yang selama ini hilang, tak kudapatkan lagi dari abang dan kedua kakakku, mengingat akulah si bungsu. Aku sadar mereka telah disibukkan oleh dunianya masing–masing.
Begitu juga aku, aku mempunyai dunia sendiri, dunia bersama Edo, teman sebayaku pada sekolah menengah lain.
Waktu berjalan begitu lambat saat menanti balasan pesan Edo, atau hanya sekedar missedcall yang mampu menyunggingkan senyuman kecil di ujung bibirku diiringi tebaran bunga pada landasan hati yang berseri.
Aku tak merasakan hal yang terbuang sia–sia demi meluangkan waktu untuk bertemu ditempat yang telah kami janjikan. Semua berjalan lancar dan apa adanya.
“Nanti Edo jemput y” Pesannya sesaat sebelum bel berbunyi.
“Y” Jawabku segera, sambil sesekali melihat wajah guru di depan kelas. Hatiku berbunga.
Tiada hari kulewatkan tanpa Edo, saat gemuruh lantunan ayat Allah hampir di seluruh ujung menara mesjid dan menasah menggema, seragam putih abu–abu masih kugunakan, pelan berjalan di ujung lorong rumah.
Hanya beberapa minggu emak sanggup menasehatiku, selebihnya beliau lebih memilih diam dengan wajah yang terus membengkak. Sedangkan Abu, hanya beberapa kali berbicara lembut denganku berdua. Setelah melihat kekerasanku, beliaupun tampak menyerah.
Aku semakin larut dalam duniaku, Edo segalanya bagiku, seluruh waktu kusisihkan untuknya, hanya untuk menemaninya tertawa dan bercanda, tentang cerita yang sebenarnya tidak pernah masuk dalam kategori lucu, tapi tidak bagiku, aku selalu tertawa dan ribuan senyuman ringan merekah. Seluruh rasa indah kian menyesak di bongkahan dadaku, segalanya kuberikan tanpa mengingat apapun, waktu belajarku disekolah, istirahat malamku bahkan diriku sekalipun. Kebahagaian itu terasa sempurna merekah dengan sikap Edo yang kian manja. Aku di atas langit. Sampai senja kemarin.
“Kamu tambah sehat aja” Ledek kak Putri, sehari setelah kepulangannya.
“Ahh ….. nggak ….., biasa kan badan Imah begini Kak!” Jawabku sambil terus menurunkan blus longgar yang coba kupakai selama ini.
“Bener lho …” Tambahnya sambil lincah merangkul bahu kiriku.
Aku mencoba menjauh, kupastikan kebenaran kata–katanya sambil bercermin. Terlihat beberapa bagian bentuk tubuhku telah banyak berubah, terutama perutku yang tambah membesar.
Seakan tersadar, dari pantulan cermin ekspresi kakak keduaku berubah, guratan pipinya menegang, kedua kakinya cepat surut kebelakang, seolah memekik pelan.
“Kamu …..”
Tanpa melanjutkan kata–kata, tubuhnya berbalik dan bayangnya segera menghilang di hadapanku.
Aku masih terpekur seperti tadi saat emak dan kak putri meminta pernyataanku. Kini, aku tak berani menatap Abu yang terhenyak di kursi tuanya saat terpaksa mendengar pernyataanku kembali.
x x x
Guling masih terjepit dalam dekapanku, mataku masih terpejam. Sesal menyesak relung jiwa. Seandainya Hp tak pernah kumiliki …….. ah …… impianku menjadi perawat …… ujian nasional ……. Semua sirna seketika. Lusa keluarga Edo kerumahku, kami menikah.
X x x

artikel mutu pendidikan di aceh

Artikel ini adalah unjuk partisipasi saya untuk mutu pendidikan....

Selamat membaca...





MUTU PENDIDIKAN YANG BAIK,
TANGGUNG JAWAB BERSAMA

Terwujudnya mutu pendidikan yang baik adalah harapan semua orang. Peran aktif perangkat pendidikan dan masyarakat sangat menentukan tingkat keberhasilan tujuan yang akan dicapai. Dewasa ini peran aktif tersebut hanya berpusat pada perangkat pendidikan saja baik sekolah, sarana prasarananya dan guru sebagai pelaksana pendidikan, sehingga tidak sedikit pula opini kesalahan jika terjadi hasil mutu pendidikan yang rendah adalah tanggung jawab perangkat pendidikan.
Hasil Ujian Nasional tahun pelajaran 2007/2008 menunjukkan bahwa Nanggroe Aceh Darussalam untuk program IPA berada pada tingkat ke-26 dari 33 propinsi di Indonesia dan untuk program IPS berada di tingkat 31 dari 33 propinsi di Indonesia, serta untuk SMK peringkat ke-33 dari 33 propinsi di Indonesia yaitu laporan dari Departemen Pendidikan Nasional. Berdasarkan hasil realita ini banyak kalangan masyarakat memusatkan perhatian pada perangkat pendidikan khususnya pelaksana pendidikan dengan beribu tanya “Sebenarnya siapa yang salah, apakah anak kami yang tidak pandai atau guru yang memang belum layak untuk mengajar?”
            Untuk keadaan yang seperti ini, seharusnya sudah menjadi tugas kita bersama baik pihak pelaksana pendidikan dan masyarakat agar mencari solusi bagaimana menanggapi masalah guna terwujudnya mutu pendidikan yang baik, disamping itu usaha pemerintah juga sangat dibutuhkan.
            Pemerintah melalui Menteri Pendidikan Nasional membuat peraturan Nomor 18 tahun 2007 tentang sertifikasi bagi guru dalam jabatan. Hal ini adalah langkah yang telah diambil oleh pemerintah yang mulai memperhatikan kondisi pendidikan di Indonesia, terutama guru sebagai ujung tombak yang harus benar–benar diasah. Hal ini sangat baik mengingat guru yang telah lulus dalam sertifikasi akan mendapat tunjangan materi dan bukan sembarangan guru yang dapat lulus, yaitu khusus bagi guru yang mengikuti uji kompetensi, yang telah mengikuti pelatihan dan melaksanakan beban kerja guru sekurang–kurangnya 24 jam mengajar. Dalam hal ini berpulang lagi kepada guru itu sendiri, apakah dengan adanya program pemerintah dalam sertifikasi ini sang guru dapat meningkatkan atau mempertahankan kepropesionalannya dalam segala hal di bidang profesinya? Sebagai contoh dalam kehadirannya, apakah sang guru tersebut hanya datang kesekolah jika ada jam mengajar dan tidak pernah hadir jika tidak ada jam mengajar? Ataukah lagi apakah tugas guru hanya mengajar saja, sehingga pada saat tidak ada jam mengajar sang guru tidak dapat melakukan apa–apa seperti membimbing siswa, membuat perangkat pembelajaran, memperdalam ilmunya atau sekedar menyumbangkan pikiran agar mutu pendidikan di sekolah yang menjadi tempat tugasnya menjadi lebih baik.
            Untuk itu, alangkah baiknya jika pemerintah yang telah membuat tim pengawas dapat bekerja efektif untuk mengawasi dengan berkesinambungan tentang pekerjaan guru yang telah tersertifikasi dan menggunakan kepala sekolah sebagai pengawas harian yang bekerja langsung tiap harinya mengawasi sang guru tersebut serta melaksanakan sangsi yang jelas jika benar terjadi penyelewengan pada gelar yang telah di sandang yaitu sebagai guru yang profesional.
Adapun masyarakat dalam hal ini, seharusnya menjadi pihak yang sangat menolong pendidikan dengan cara menyiapkan peserta didik yang dapat di tempa dalam pendidikan formal. Melahirkan akhlak dan budi pekerti yang baik, sikap, sopan dan santun adalah pendidikan yang seharusnya sudah diterima peserta didik dari pendidikannya dimasyarakat yang paling mendasar yaitu keluarga. Peran orang tua menjadi guru saat peserta didik berada di rumah adalah modal dasar dan mempunyai ketahanan pengetahuan yang cukup lama dan akan terbawa sampai akhirnya peserta didik mengecap pendidikan formal.
            Apabila faktor internal dalam diri peserta didik telah bagus, yaitu akhlak dan budi pekerti yang baik, sikap, sopan dan santun, maka selanjutnya adalah mencurahkan perhatian akan diri peserta didik oleh orang tua dengan saling komunikasi tentang segala hal dan di tambah lagi orang tua menjadi guru di rumah saat peserta didik diwajibkan untuk mengulang pelajaran apa yang di perolehnya pada saat dipendidikan formal setiap harinya.
            Khususnya di Nanggroe Aceh Darussalam yang telah menyatakan sebagai daerah syariat Islam, maka sudah seharusnya orang tua juga memfokuskan pendidikan peserta didik pada pendidikan Agama saat berada dalam pendidikan keluarga. Berdasarkan penelitian pendidikan Agama dalam keluarga akan lebih mudah membentuk ahklak dan budi pekerti yang bertahan lama dan tahan terhadap ancaman dari luar pendidikan apabila peserta didik tersebut telah keluar lingkungan.
            Jika hal tersebut dilakukan oleh pihak orang tua, maka tatkala peserta didik telah masuk dalam lingkungan pendidikan formal, maka akan menjadi sangat memudahkan bagi proses yang akan terjadi pada perangkat pendidikan yaitu sekolah, guru dan akhirnya pada pelaksanaan pembelajaran.
            Pada pelaksanaan pembelajaran pastinya guru tidak perlu melakukan perbaikan akhlak dan budi pekerti, sikap dan sopan, santun siswa lagi, tetapi hanya melaksanakan proses pembelajaran sesuai dengan apa yang telah direncanakan dengan berusaha untuk dapat membangkitkan minat serta memotivasi siswa untuk belajar.
            Keadaan yang kita lihat sekarang ini, dengan berkembangnya secara pesat ilmu pengetahuan dan sistem globalisasi menjadikan dunia tanpa batasan, dan kita lihat pula kenyataannya presentase nilai positif dan negatif terhadap perubahan itu saling berlomba antara satu dengan yang lain, sehingga dampaknya terjadi juga dengan dunia pendidikan.
            Sebagai contoh, hampir semua peserta didik memiliki alat hasil pengembangan ilmu pengetahuan yaitu HP. Jika dahulu pada dunia pendidikan peserta didik lebih senang membaca buku diperpustakaan saat istirahat atau pada saat tidak ada guru karena sakit atau berhalangan hadir, maka sekarang kita lihat peserta didik lebih senang mendengarkan musik dan lagu pada HP sehingga kadang–kadang terdengar sampai pada ruangan kelas lain yang sedang belajar. Hal ini menandakan kurangnya akhlak dan budi pekerti yang baik dari peserta didik itu sendiri serta menunjukkan tidak adanya minat dan dorongan dari dalam diri untuk merubah keadaan pengetahuan dalam dirinya atau sekedar untuk mengulang pelajaran yang telah berlangsung.
            Oleh sebab itu, untuk meningkatkan mutu pendidikan di Nanggroe Aceh Darussalam, maka serangkaian kegiatan ini adalah menjadi tanggung jawab masyarakat, perangkat pendidikan dan pemerintah yang ada di Nanggroe Aceh Darussalam untuk dapat dilaksanakan dan diperbaiki, disamping keberadaan sarana dan prasarana yang mendukung, maka kedepan mutu pendidikan di Nanggroe Aceh Darussalan akan dapat membaik.

cerpen perceraian yang dicintai Allah dan Rasulnya

Perceraian yang sering kita dengar di media massa dan tetangga, selalu dalam keadaan yang bagaimana...............gitu, tapi pengajian bersama tengku Abdullah, saat menjelaskan masalah "istri" mengungkapkan kejadian di satu desa (beliau tidak bilang apakah beliau sebagai tengku imamnya atau sebagai tamu undangan kala itu), Yahh.....kurang lebih seperti inilah cerpennya......



Beri tanggapannya ya....


HAJATAN PESTA PERCERAIAN
(By: Safrida Lubis)

Wajah lelaki itu masih seperti malam sebelumnya, dingin dengan tatapan sendu menekuni ujung jari kaki yang digerakkan perlahan.
“Aku yakin ini jalan terbaik Mas, jika tetap seperti ini aku rasa tidak akan memberi solusi bagi kita berdua, aku tetap pada pendirianku dan kumohon pengertian darimu, keikhlasanmu Mas”.
Lelaki itu tetap terpekur panjang, nafas yang dihembuskan berulang kali melukiskan betapa galau fikirannya, dipandangi dua pasang mata itu secara bergantian, dadanya makin terasa sesak. Lembutnya angin malam yang berdesir ditelinga dan seluruh pori–pori tubuh bagian terbuka tidak juga melunturkan panas yang melanda kelopak matanya. Perlahan tangan kekarnya membelai untaian rambut tipis Alisa. Kembali ditatapi mata dengan buliran air yang makin membesar. Kedua bibirnya membuka perlahan. Mendesah pelan.
“Aku ikhlas”. Bibir itu kembali tertutup rapat. Tangisan wanita didepannya pun pecah, larut dalam pelukannya bersama Alisa didekapan.
Musyawarah itu mencapai keputusan akhir setelah hampir sebulan setiap pertemuan hanya menghasilkan kebisuan di akhiri tangisan, tetapi tidak malam ini.
***
Mata bersahaja itu membenarkan duduk silanya. Kepulan asap daun lipah gulung menyamarkan wajah dan menghilang dalam hitungan detik.
“Nak Edo yakin dengan keputusannya, apa sebaiknya tidak difikirkan lebih matang lagi, karena langkah yang ingin kalian tempuh ini sangat dibenci oleh Allah dan Rasul kita, apakah tidak ada jalan selain demikian”. Mata lelahnya kembali menatap Alisa.
“Memang masa depan anak ini bukan ditangan kita, kita hanya mampu menuntun, semua kehendak Allah, tapi alangkah bijaksananya jika kalian berdua mendampinginya sampai dewasa”.
“Kami telah bermufakat dan sepertinya tiada jalan keluar lain tengku, Insyaallah senin depan hajatan akan dilaksanakan, kehadiran tengku untuk membacakan doa agar kehidupan kami menjadi lebih baik dimasa mendatang sangat dinanti”.
Anggukan pelan tak berbilang seiring tarikan asap terakhir tembakau yang ada dijarinya selanjutnya menutup pembicaraan kami bersamanya senja itu.
“Baiklah, jika jalan yang kalian pilih ini memang benar kehendakNya, masing–masing dari kalian berdua pasti mendapatkan kebahagiaan dan rezeki yang cukup, saya hanya mampu mendoakan saja”. Tambahnya
Tanpa menambah waktu aku mengikuti Mas Edo bangkit, meraih jemari tengku Amirullah, mencium takjim sesaat.
“Kami permisi Tengku, Assalamualaikum”.
“Waalaikumsalam......”.
Tatapan nanar dari imam kampong itu mengiringi langkah kaki menuruni tangga
rumahnya yang masih memelihara ciri khas rumah Aceh. Tiang bulat setinggi orang dewasa menyangga tiap sisi rumah yang dilapisi dinding terbuat dari susunan kayu serta dipayungi atap daun rumbia. Teduh. Seteduh hati ini. Perasaan haru, sedih, senang dan bahagia berbaur dihati walau tak sepatah kata menemani perjalanan kami pulang kerumah.
***
Beberapa hari ini aku sibuk mempersiapkan segala sesuatu, dari mulai perlengkapan, undangan, daftar menu makanan serta hati yang harus tertata rapi saat acara senin nanti. Mas Edo tak kalah sibuknya, dia sering tidak ada dirumah demi mengurus semua surat–surat yang kami perlukan sebagai hadiah untukku pada saat perayaan nanti.
Hari semakin dekat.
“Kamu jadi pulang besok Lis.” Suara Ibu pelan.
“Ibu minta maaf jika karena Ibu kamu harus terluka, bukan itu harapan Ibu, sebenarnya masih ada jalan lain kan Lis?”.
“Lis rasa ini yang terbaik Bu, Mas Edo paham akan keputusan Lis, Lis sayang Mas Edo Bu, juga Alisa, tapi keinginan untuk menjaga Ibu lebih besar dari itu semua”.
Perempuan tua itu mendesah.
“Seorang anak memang harus berbakti pada orang tuanya, tetapi jika dia sudah bersuami maka lelaki itu adalah segalanya baginya, Edo orangnya baik, tutur katanya rendah, tatapannya sopan dan mengerti sedikit tentang agama, modal yang cukup untuk menjadi kepala rumah tangga, apakah kamu tidak merasa bahagia dengannya Lis?”. Suara Ibu diseberang membuatku mendesah pelan.
“Tidak Bu, bahkan Lis mendapatkan yang terbaik bersuamikan Mas Edo, pengertiannya melebihi segala sesuatu, kata yang keluar dari lidahnya tidak pernah menyakiti malah bernada nasehat selalu, tidak pernah dia marah pada Lis bahkan kalau diingat kemarahan datang dari Lis disebabkan hal–hal sepele”. Terdiam sesaat.
“Ya, Lis sadar sebenarnya kesabaran Lis jauh lebih rendah dibandingkan Mas Edo. Bu...tolong Lis, inilah yang bisa Lis usahakan, Lis ingin pulang menjaga Ibu, walau Lis tau bercerai dengan Mas Edo bukan keinginan Lis mengingat belum tentu besok akan mendapatkan ganti yang sepadan, tapi kami telah memilih jalan ini Bu dengan jalan yang terbaik, Insyaallah”.
Suara Ibu diseberang sesekali batuk menahan sakit ditenggorokan, menambah kekhawatiran akan kesehatannya yang makin menurun.
“Mungkin Ibu perlu istirahat Lis, salam Ibu untuk Edo juga Alisa kecil, Lis Ibu bangga padamu dan Edo yang berbesar hati untuk bercerai dengan cara yang baik, Allah pasti tau yang terbaik untuk kalian berdua kelak”.
Suara Ibu terputus seiring butiran bening yang membasahi sisi hanphoneku. Perlahan dadaku berguncang dalam isakan tangis.
Sesungguhnya berat untuk mengambil keputusan bercerai dengan Mas Edo, apa yang dikatakan Ibu benar adanya, selain sopan, penyayang, santun, lemah lembut juga mengerti agama melekat pada dirinya dari garis keturunan Aceh–Jawa. Alisa, buah hati kami sejak menikah tiga tahun silam mulai berbicara dengan jelas.
Aku dipinang saat Mas Edo bertugas di kotaku, Lampung. Setahun berselang masa tugasnya berakhir dan aku pun di boyong ke Aceh, kampung kelahirannya.
Mas Edo paham alasanku bercerai untuk menjaga Ibu yang hanya ditemani si bungsu Andi. Beberapa bulan ini kondisi Ibu yang lumpuh karena penyakit diperparah lagi saat beliau terjatuh di kamar mandi. Kini Ibu hanya sanggup berbaring di ranjangnya.
Saat ini di rumah agak ramai dari biasanya, tetangga dan saudara Mas Edo mempersiapkan segala sesuatu untuk hajatan besok yang mereka tahu guna merayakan pesta pernikahan kami, undangan melalui lisan pun telah disampaikan, kerabat dari kesatuannya, masyarakat sekitar dan tak lupa puluhan anak yatim biar hajatan ini mendapat berkah.
Sayup tawa canda mereka dari luar kamar terdengar dalam bahasa yang belum sepenuhnya aku mengerti.
“Telepon dari Ibu, Bagaimana kabarnya Lis?”.
Suara Mas Edo dari balik pintu yang menganga membuyarkan lamunanku.
“Iya Mas, kalau Lis dengar dari suaranya Ibu sudah lumayan sehat, sanggup bercerita banyak”. Sambil menyeka air mata, aku mencoba menatap Mas Edo yang mengayunkan langkah dan duduk di sampingku.
“Aku tidak melihat Alisa di depan”.
“Tadi adik Mas, Munah membawanya bermain”. Jawabku sesaat sebelum kesunyian menyapa.
“Mas, Lis berterima kasih atas semuanya, juga mohon maaf  pada Mas, jika selama menjadi istri Lis menyinggung bahkan tak luput menyakiti hati Mas”.
Lelaki itu mendesah, perlahan dipalingkan wajahnya.
“Sudahlah Lis, jalan ini sudah kita tempuh, aku juga inginkan agar kamu ikhlas memaafkan salahku, banyak mereka diluar sana yang kita dengar berpisah dengan cara yang saling memendam amarah dan kebencian, aku hanya ingin kita tidak termasuk ke golongan tersebut, saat kita menikah dahulu aku memintamu dengan cara baik dan perasaan sayang, kini jika harus berpisah maka seperti semula perasaanku, terlebih lagi ada Anisa di sisi kita”.
“Aku hanya mencoba berbuat seperti yang Allah perintahkan Lis, penjelasan yang kudengar dari pengajian oleh tengku Amir. Mungkin sampai disinilah jodoh kita Lis, aku ikhlas”.
Tak tersisa lagi dataran kering dipipiku, aliran air mata menderas menemani langkah kecil Mas Edo menuju pintu.
“Oya Lis, suratnya sudah selesai”. Tanpa menunggu jawaban bayangan itu menghilang dibalik pintu.
***
Matahari mulai merangkak naik seiring kehadiran tamu dan para undangan. Setelah doa bersama yang dibawakan Tengku Amir dengan puluhan anak yatim, hidangan pun mulai disajikan.
Wajah polos anak kecil yang tersenyum ria, bercanda sesama teman disamping sambil tetap menjaga santun meramaikan suasana ini. Dibagian lain undangan telah menempati kursi yang telah dipersiapkan dibawah tenda–tenda sesaat sebelumnya mengambil makanan yang dihidangkan di pelataran meja. Papan bungan ucapan selamat berderet indah menghiasi jalan memasuki halaman rumah.
Kata–kata sambutan mulai diucapkan Mas Edo untuk para undangan, tamu dan dilanjutkan Tengku Amirullah sebagai pembicara atas permintaan kami saat bertandang kerumahnya senja itu.
“Tuan rumah, para undangan dan tamu yang terhormat”.
Suara pelannya berhenti, sesaat sebelumnya mengucapkan salam dan pujian.
“Hari ini kita masih diberkati Allah sehingga dapat berkumpul di rumah Nak Edo dan istrinya untuk mengingat kembali suatu hajatan yang mulia saat keduanya menikah juga dalam rangka memenuhi undangannya, semoga yang kita lakukan bermanfaat adanya”.
“Dalam pernikahan, sebagai seorang suami sudah selayaknya kita mencintai istri yang kita pilih dari sekian banyak wanita dan kita jadikan pendamping hidup. Pastilah dalam berusaha memilikinya, berbagai pertimbangan dan masukan dari orang lain terlebih dahulu berjalan didepan”.
“Para hadirin yang terhormat, dari sang istri kita berharap dikarunia beberapa orang keturunan kita, pasti saja yang baik, berakhlak, berilmu dan bagus rupanya, maka sudah sepantasnya istri yang selalu melayani kita, menyiapkan sarapan dan makan malam, menjaga anak kita dan lain sebagainya mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari kita. Pemberian hadiah hanyalah salah satu wujud dari rasa kasih sayang suami terhadap istri, disamping perhatian, pengertian sumi dan segala yang membuat istri senang, asalkan tidak diluar batas norma agama”.
“Saya berdiri disini, sebagai penasehat atas permintaan tuan rumah yang ingin memberikan hadiah kepada sang istri, nak Lisa Lestari yang akan diwakilkan oleh Pak Bambang, kepala kesatuan dimana Nak Edo bekerja”.
Riuh rendah suara tepukan dan eluan para undangan menemani aku melangkah ke depan podium buatan, disambut Pak Bambang yang berdiri siap memberikan kado dengan bentuk persegi seukuran kertas folio terbungkus kain bermotif batik.
Jantungku memompa kencang dan aliran darah ke tanganku berhenti, dingin.
“Mungkin hanya ini yng dapat saya sampaikan, semoga Nak Edo dan Nak Lisa mendapatkan berkah dariNya”.
Tengku Amir menutup ucapannya dengan salam dan aku pun mengikutinya menuruni podium. Masih kulihat ketabahan senyum Mas Edo saat mata ini berpapasan.
“Saudara–saudara, para undangan dan tamu yang terhormat, adapun kehadiran kita disini untuk turut merasakan kebahagiaan tuan rumah dalam merayakan pernikahannya. Disini saya mendapatkan kesempatan dan penghormatan dari tuan rumah untuk mengutarakan maksud yang sebenarnya”.
Tegas suara Pak Bambang sesaat mengundang kesunyian para undangan.
“Perayaan pernikahan Edo Syahputra dan Lisa Lestari pada hari ini disertai juga dengan pemberitahuan kepada masyarakat umumnya dan khusus pada kesatuan tempatnya bekerja, bahwa melalui hajatan ini mereka telah bercerai pula.” Seketika kasak kusuk terjadi disetiap sudut kursi, aku masih tertunduk saat Pak Bambang kembali melanjutkan kata–katanya.
“Kado yang diterima Lisa Lastari tadi berisikan surat–surat perceraian yang sah sesuai dengan hukum dan ketentuan agama dimana Edo Syahputra telah mengurusnya beberapa hari lalu. Hadirin yang terhormat, kehadiran kita semua disini menjadi saksi atas berpisahnya dua manusia dari ikatan pernikahan dengan alasan yang kuat dari masing–masing pihak. Semoga doa dari kita semua untuk kebahagiaan mereka terkabul hendaknya.” Suasana ricuh masih menggema saat Pak Bambang melangkah turun setelah sebelumnya memberi salam penutup, seterusnya pelukan hangat menyambut Mas Edo yang berdiri menunggu dengan tangan tetap bersalaman. Hujan air mata dengan serta merta membasahi pipi para undangan yang hadir dan tak sedikit dari mereka berusaha menyekanya. Merasa acara ini telah berhujung, Kulangkahkan kaki dengan gontai menghampiri Mas Edo dan menggapai tangan kekar itu seterusnya kucium khidmat. Tiada kata yang keluar dari bibirnya bahkan saat mendekap erat Alisa, hingga langkah ini menjauh meninggalkannya menuju kendaraan yang akan menghantarkanku pulang kerumah Ibu.
“Oh Tuhan, kuatkanlah hati ini.” Batinku.
Aku terus dibawa menjauh meninggalkan suasana ceria yang seketika berharuan air mata.
***
Mendekati setahun aku bercerai, Mas Edo mengirimkan SMS yang isinya berbeda dari biasanya, bukan sekedar menayakan Alisa dan Ibu.
“Lis, hari ini aku telah menikah, dengan wanita yang dikenalkan makcik untukku, masih terkait keluarga juga. Bukan tujuanku ingin menyakiti perasaanmu dengan apa yang telah aku sampaikan, tapi kamu juga  masih muda, jangan menyiksa diri sendiri, aku berharap yang terbaik untuk kita berdua juga Alisa. Oya, aku juga bersyukur kesehatan Ibu semakin membaik, salam sayangku untuk Alisa dan kalian semua. Assalamualaikum.”
Aku terpaku, rongga dadaku terasa merekah, tiada niat untuk membalas SMS nya kali ini, aku masih menata hati sedemikian untuk dapat menjawab pinangan dari duda muda, pengusaha kecil satu minggu yang lalu.
********