http://jobcopas-go-online.blogspot.com
http://layanan-info-online.blogspot.com
http://kerja-online-aman.blogspot.com
http://downloadalldi.blogspot.com
katanya ini bisa juga untuk meningkatkan pendapatan dari internet
Total Pageviews
Hp yang aktif dimalam hari membawa petaka
Lagi-lagi terinspirasi dari banyaknya membaca koran!
Temukan apa yang harus imah petik dari Hp miliknya ya...
Temukan apa yang harus imah petik dari Hp miliknya ya...
PUPUS
(By: Safrida
Lubis)
Benda persegi tak lebih besar dari sebuah kotak rokok
masih erat dalam gengaman imah. Benda itu masih kaku tak bersuara. Kembali
guling yang telah basah terjepit dalam dekapannya. Matanya masih panas, butiran
hangat itu terus mengejar satu dan lainnya.
“Buat apa terus menangis, penyesalan selalu datang
terlambat”
Deru isakan emak menambah laju butiran itu pada jalur
yang sama.
“Sudahlah, jangan terus menyudutkan, kasihan dia”
Kata–kata Abu yang
terdengar berbisik menyisakan luka di ujung kalimat.
“Aku malu pada Allah bu, malu pada tetangga, malu pada diriku sendiri yang tidak bisa
menjaga dia seorang lagi” Sambil tetap bersandar pada kepala ranjang, emak masih menutupi wajahnya
dengan untaian kain jilbab yang menutupi sebagian uban putihnya.
“Aku yang pantas lebih malu Jah” Abu mendesah pelan.
“Untuk duduk berlama–lama di warung kopi si Amat atau
ikut pengajian tengku Ishak rasanya sudah tidak punya muka” genggaman tangan
tuanya tampak bergetar pada tepian ranjang, wajahnya sesaat tertunduk dalam,
ada kekecewaan disana, di ujung mata yang berkaca, pada guratan kening dengan
alis yang hampir tak bisa di bilang hitam. Aku terpekur dalam dosa, kupejamkan
mata ini, pupus segalanya. Impian manjadi perawat, keceriaan yang membayang
saat melangkah bersama teman sebaya, ahh ….. sirna sudah.
Mataku kembali tertuju pada benda itu, akibat benda
sialan ini. Rutukku. Dengan segenap kebencian kulontarkan persegi hitam itu
menyentuh dinding. Dalam hitungan detik benda itu tercerai berai menjadi serpihan berbeda
ukuran. Melihat bentuk kehancuran yang terjadi, aku yakin dia tidak berfungsi lagi.
Hp–ku hancur, sehancur hatiku, hati kedua orang tuaku,
terlebih lagi masa depanku.
x x x
Dering nada masuk menghentak kesunyian malam, memaksa
kelopak mataku membuka perlahan. Sesaat Hp telah ada di tanganku.
“Satu pesan diterima” bisik hatiku. Dengan lihai
kumainkan ibu jari.
“Blh knl-an ga”
“ah….nomor tidak dikenal” bisik hatiku lagi. Kembali
kumainkan ibu jari dengan cepat sambil menahan kantuk yang membuat aku menguap
beberapa kali.
“Capa ne..” balasku. Setelah memastikan pesan
terkirim, kulirik jam pada ujung kiri bawah layar.
“Jam 03.05 dini hari” sambil terus menguap. Perlahan
mataku terkatup dan Hp terlepas dari genggaman, aku kembali tertidur.
x x x
Emak masih melolong dalam tangisnya. Abu terpekur
dalam tunduknya yang panjang.
Terlintas wajah bang Azis, seorang guru
ngaji di Dayah gampong tempat
kelahiran istrinya. Kak Zahra, seorang guru Madrasah yang telah pegawai.
Sedangkan kak Putri, minggu depan akan menikah dengan pria kenalan saat beliau
menyelesaikan sarjananya. Sedang aku, tidak lebih dari dua bulan lagi
seharusnya mengikuti ujian akhir sekolah menengah, harus rela untuk tidak keluar
rumah, bahkan melangkah menuju pintu kamar aku tak mampu. Karena perutku yang
mulai membesar. Hati ini telah kotor dengan cercaan mengutuki diri sendiri, aku
benci diriku, aku benci barang itu, rutukku tak henti. Mataku tetap mendapati
puingnya yang tak beranjak. Dadaku kembali terguncang.
Seandainya aku tidak menerima panggilan tak terjawab
itu untuk yang keempat kalinya, seandainya rasa penasaran tidak sebesar keingintahuan, seandainya
logika dapat mengalahkan fakta, ah … seandainya… seandainya…..
Tapi tidak, pada kenyataannya, fakta akan selalu
menang dan menunjukkan kebenaran pada akhirnya dibandingkan logika dengan
segala pernyataannya. Penasaranku terlalu tinggi untuk sekedar keingintahuan.
“Hallo, siapa sih ni” sapaku sebel.
“Hallo, ni siapa?” Alunan suara serak diiringi kikikan
menaikkan suhu kepalaku di titik tertinggi.
“Ini siapa sih, udah malam tau, apa matahari di situ
belum tenggelam ya” cetusku kesal. Sesaat layar itu menjadi hitam, dalam status
non aktif, aku lega. Berusaha mencoba kembali menggeliat dalam mimpi, sesaat
melirik arloji hijau yang terduduk diatas meja belajar di sisi kanan ranjang
ini, pukul 00.20 WIB.
x x x
Nomor yang sama akhir–akhir ini selalu tercatat di
daftar panggilan tak terjawab. Mungkin belum jera atas kata–kata kasarku atau
ingin minta maaf karena terus mengganggu. Rasa penasaran kembali menang.
Panggilan itu pun kembali kubalas. Seakan mengetahui waktu luangku, saat
istirahat, sore menjelang maghrib, hingga aku merelakan jatah sepertiga waktu
istirahat malamku berkurang, khusus untuk obrolan sederhana yang terus mengalir
hanya sekedar menanyakan “lagi ngapain”, “udah makan”. Hal yang sederhana, tapi
bagiku, terasa bagai satu kepedulian yang selama ini hilang, tak kudapatkan
lagi dari abang dan kedua kakakku, mengingat akulah si bungsu. Aku sadar mereka
telah disibukkan oleh dunianya masing–masing.
Begitu juga aku, aku mempunyai dunia sendiri, dunia
bersama Edo, teman sebayaku pada sekolah
menengah lain.
Waktu berjalan begitu lambat saat menanti balasan
pesan Edo, atau hanya sekedar missedcall yang mampu menyunggingkan senyuman
kecil di ujung bibirku diiringi tebaran bunga pada landasan hati yang berseri.
Aku tak merasakan hal yang terbuang sia–sia demi
meluangkan waktu untuk bertemu ditempat yang telah kami janjikan. Semua
berjalan lancar dan apa adanya.
“Nanti Edo jemput y” Pesannya sesaat sebelum bel
berbunyi.
“Y” Jawabku segera, sambil sesekali melihat wajah guru
di depan kelas. Hatiku berbunga.
Tiada hari kulewatkan tanpa Edo, saat gemuruh lantunan
ayat Allah hampir di seluruh ujung menara mesjid dan menasah menggema, seragam putih
abu–abu masih kugunakan, pelan berjalan di ujung lorong rumah.
Hanya beberapa minggu emak sanggup menasehatiku,
selebihnya beliau lebih memilih diam dengan wajah yang terus membengkak.
Sedangkan Abu, hanya beberapa kali
berbicara lembut denganku berdua. Setelah melihat kekerasanku, beliaupun tampak
menyerah.
Aku semakin larut dalam duniaku, Edo
segalanya bagiku, seluruh waktu kusisihkan untuknya, hanya untuk menemaninya
tertawa dan bercanda, tentang cerita yang sebenarnya tidak pernah masuk dalam
kategori lucu, tapi tidak bagiku, aku selalu tertawa dan ribuan senyuman ringan
merekah. Seluruh rasa indah kian menyesak di bongkahan dadaku, segalanya
kuberikan tanpa mengingat apapun, waktu belajarku disekolah, istirahat malamku
bahkan diriku sekalipun. Kebahagaian itu terasa sempurna merekah dengan sikap Edo yang kian manja. Aku di atas langit. Sampai senja
kemarin.
“Kamu tambah sehat aja” Ledek kak Putri, sehari
setelah kepulangannya.
“Ahh ….. nggak ….., biasa kan badan Imah begini Kak!” Jawabku sambil
terus menurunkan blus longgar yang coba kupakai selama ini.
“Bener lho …” Tambahnya sambil lincah merangkul bahu
kiriku.
Aku mencoba menjauh, kupastikan kebenaran kata–katanya
sambil bercermin. Terlihat beberapa bagian bentuk tubuhku telah banyak berubah,
terutama perutku yang tambah membesar.
Seakan tersadar, dari pantulan cermin ekspresi kakak
keduaku berubah, guratan pipinya menegang, kedua kakinya cepat surut
kebelakang, seolah memekik pelan.
“Kamu …..”
Tanpa melanjutkan kata–kata, tubuhnya berbalik dan
bayangnya segera menghilang di hadapanku.
Aku masih terpekur seperti tadi saat emak dan kak
putri meminta pernyataanku. Kini, aku tak berani menatap Abu yang terhenyak di kursi tuanya saat terpaksa mendengar
pernyataanku kembali.
x x x
Guling masih
terjepit dalam dekapanku, mataku masih terpejam. Sesal menyesak relung jiwa.
Seandainya Hp tak pernah kumiliki …….. ah …… impianku menjadi perawat …… ujian
nasional ……. Semua sirna seketika. Lusa keluarga Edo
kerumahku, kami menikah.
X x x
artikel mutu pendidikan di aceh
Artikel ini adalah unjuk partisipasi saya untuk mutu pendidikan....
Selamat membaca...
Selamat membaca...
MUTU PENDIDIKAN YANG BAIK,
TANGGUNG JAWAB BERSAMA
Terwujudnya mutu pendidikan yang baik adalah harapan semua orang. Peran
aktif perangkat pendidikan dan masyarakat sangat menentukan tingkat
keberhasilan tujuan yang akan dicapai. Dewasa ini peran aktif tersebut hanya
berpusat pada perangkat pendidikan saja baik sekolah, sarana prasarananya dan
guru sebagai pelaksana pendidikan, sehingga tidak sedikit pula opini kesalahan
jika terjadi hasil mutu pendidikan yang rendah adalah tanggung jawab perangkat
pendidikan.
Hasil Ujian Nasional tahun
pelajaran 2007/2008 menunjukkan bahwa Nanggroe Aceh Darussalam untuk program
IPA berada pada tingkat ke-26 dari 33 propinsi di Indonesia dan untuk program
IPS berada di tingkat 31 dari 33 propinsi di Indonesia, serta untuk SMK
peringkat ke-33 dari 33 propinsi di Indonesia yaitu laporan dari Departemen
Pendidikan Nasional. Berdasarkan hasil realita ini banyak kalangan
masyarakat memusatkan perhatian pada perangkat pendidikan khususnya pelaksana
pendidikan dengan beribu tanya “Sebenarnya siapa yang salah, apakah anak kami
yang tidak pandai atau guru yang memang belum layak untuk mengajar?”
Untuk keadaan yang seperti ini,
seharusnya sudah menjadi tugas kita bersama baik pihak pelaksana pendidikan dan
masyarakat agar mencari solusi bagaimana menanggapi masalah guna terwujudnya
mutu pendidikan yang baik, disamping itu usaha pemerintah juga sangat
dibutuhkan.
Pemerintah melalui Menteri Pendidikan Nasional membuat peraturan Nomor 18
tahun 2007 tentang sertifikasi bagi guru dalam jabatan. Hal ini adalah langkah
yang telah diambil oleh pemerintah yang mulai memperhatikan kondisi pendidikan di
Indonesia, terutama guru sebagai ujung tombak yang harus benar–benar diasah. Hal
ini sangat baik mengingat guru yang telah lulus dalam sertifikasi akan mendapat
tunjangan materi dan bukan sembarangan guru yang dapat lulus, yaitu khusus bagi
guru yang mengikuti uji kompetensi, yang telah mengikuti pelatihan dan melaksanakan
beban kerja guru sekurang–kurangnya 24 jam mengajar. Dalam hal ini berpulang
lagi kepada guru itu sendiri, apakah dengan adanya program pemerintah dalam
sertifikasi ini sang guru dapat meningkatkan atau mempertahankan
kepropesionalannya dalam segala hal di bidang profesinya? Sebagai contoh dalam
kehadirannya, apakah sang guru tersebut hanya datang kesekolah jika ada jam
mengajar dan tidak pernah hadir jika tidak ada jam mengajar? Ataukah lagi
apakah tugas guru hanya mengajar saja, sehingga pada saat tidak ada jam
mengajar sang guru tidak dapat melakukan apa–apa seperti membimbing siswa,
membuat perangkat pembelajaran, memperdalam ilmunya atau sekedar menyumbangkan
pikiran agar mutu pendidikan di sekolah yang menjadi tempat tugasnya menjadi
lebih baik.
Untuk
itu, alangkah baiknya jika pemerintah yang telah membuat tim pengawas dapat
bekerja efektif untuk mengawasi dengan berkesinambungan tentang pekerjaan guru
yang telah tersertifikasi dan menggunakan kepala sekolah sebagai pengawas
harian yang bekerja langsung tiap harinya mengawasi sang guru tersebut serta
melaksanakan sangsi yang jelas jika benar terjadi penyelewengan pada gelar yang
telah di sandang yaitu sebagai guru yang profesional.
Adapun masyarakat dalam hal
ini, seharusnya menjadi pihak yang sangat menolong pendidikan dengan cara menyiapkan
peserta didik yang dapat di tempa dalam pendidikan formal. Melahirkan akhlak
dan budi pekerti yang baik, sikap, sopan dan santun adalah pendidikan yang seharusnya
sudah diterima peserta didik dari pendidikannya dimasyarakat yang paling
mendasar yaitu keluarga. Peran orang tua menjadi guru saat peserta didik berada
di rumah adalah modal dasar dan mempunyai ketahanan pengetahuan yang cukup lama
dan akan terbawa sampai akhirnya peserta didik mengecap pendidikan formal.
Apabila
faktor internal dalam diri peserta didik telah bagus, yaitu akhlak dan budi
pekerti yang baik, sikap, sopan dan santun, maka selanjutnya adalah mencurahkan
perhatian akan diri peserta didik oleh orang tua dengan saling komunikasi
tentang segala hal dan di tambah lagi orang tua menjadi guru di rumah saat peserta
didik diwajibkan untuk mengulang pelajaran apa yang di perolehnya pada saat
dipendidikan formal setiap harinya.
Khususnya
di Nanggroe Aceh Darussalam yang telah menyatakan sebagai daerah syariat Islam,
maka sudah seharusnya orang tua juga memfokuskan pendidikan peserta didik pada
pendidikan Agama saat berada dalam pendidikan keluarga. Berdasarkan penelitian
pendidikan Agama dalam keluarga akan lebih mudah membentuk ahklak dan budi pekerti
yang bertahan lama dan tahan terhadap ancaman dari luar pendidikan apabila
peserta didik tersebut telah keluar lingkungan.
Jika
hal tersebut dilakukan oleh pihak orang tua, maka tatkala peserta didik telah
masuk dalam lingkungan pendidikan formal, maka akan menjadi sangat memudahkan
bagi proses yang akan terjadi pada perangkat pendidikan yaitu sekolah, guru dan
akhirnya pada pelaksanaan pembelajaran.
Pada
pelaksanaan pembelajaran pastinya guru tidak perlu melakukan perbaikan akhlak
dan budi pekerti, sikap dan sopan, santun siswa lagi, tetapi hanya melaksanakan
proses pembelajaran sesuai dengan apa yang telah direncanakan dengan berusaha
untuk dapat membangkitkan minat serta memotivasi siswa untuk belajar.
Keadaan
yang kita lihat sekarang ini, dengan berkembangnya secara pesat ilmu
pengetahuan dan sistem globalisasi menjadikan dunia tanpa batasan, dan kita
lihat pula kenyataannya presentase nilai positif dan negatif terhadap perubahan
itu saling berlomba antara satu dengan yang lain, sehingga dampaknya terjadi
juga dengan dunia pendidikan.
Sebagai
contoh, hampir semua peserta didik memiliki alat hasil pengembangan ilmu
pengetahuan yaitu HP. Jika dahulu pada dunia pendidikan peserta didik lebih
senang membaca buku diperpustakaan saat istirahat atau pada saat tidak ada guru
karena sakit atau berhalangan hadir, maka sekarang kita lihat peserta didik
lebih senang mendengarkan musik dan lagu pada HP sehingga kadang–kadang
terdengar sampai pada ruangan kelas lain yang sedang belajar. Hal ini
menandakan kurangnya akhlak dan budi pekerti yang baik dari peserta didik itu
sendiri serta menunjukkan tidak adanya minat dan dorongan dari dalam diri untuk
merubah keadaan pengetahuan dalam dirinya atau sekedar untuk mengulang
pelajaran yang telah berlangsung.
Oleh
sebab itu, untuk meningkatkan mutu pendidikan di Nanggroe Aceh Darussalam, maka
serangkaian kegiatan ini adalah menjadi tanggung jawab masyarakat, perangkat
pendidikan dan pemerintah yang ada di Nanggroe Aceh Darussalam untuk dapat
dilaksanakan dan diperbaiki, disamping keberadaan sarana dan prasarana yang
mendukung, maka kedepan mutu pendidikan di Nanggroe Aceh Darussalan akan dapat
membaik.
cerpen perceraian yang dicintai Allah dan Rasulnya
Perceraian yang sering kita dengar di media massa dan tetangga, selalu dalam keadaan yang bagaimana...............gitu, tapi pengajian bersama tengku Abdullah, saat menjelaskan masalah "istri" mengungkapkan kejadian di satu desa (beliau tidak bilang apakah beliau sebagai tengku imamnya atau sebagai tamu undangan kala itu), Yahh.....kurang lebih seperti inilah cerpennya......
Beri tanggapannya ya....
HAJATAN PESTA
PERCERAIAN
(By: Safrida Lubis)
Wajah lelaki itu masih seperti
malam sebelumnya, dingin dengan tatapan sendu menekuni ujung jari kaki yang
digerakkan perlahan.
“Aku yakin ini jalan terbaik Mas, jika
tetap seperti ini aku rasa tidak akan memberi solusi bagi kita berdua, aku
tetap pada pendirianku dan kumohon pengertian darimu, keikhlasanmu Mas”.
Lelaki itu tetap terpekur panjang,
nafas yang dihembuskan berulang kali melukiskan betapa galau fikirannya,
dipandangi dua pasang mata itu secara bergantian, dadanya makin terasa sesak. Lembutnya
angin malam yang berdesir ditelinga dan seluruh pori–pori tubuh bagian terbuka
tidak juga melunturkan panas yang melanda kelopak matanya. Perlahan tangan
kekarnya membelai untaian rambut tipis Alisa. Kembali ditatapi mata dengan
buliran air yang makin membesar. Kedua bibirnya membuka perlahan. Mendesah
pelan.
“Aku ikhlas”. Bibir itu kembali
tertutup rapat. Tangisan wanita
didepannya pun pecah, larut dalam pelukannya bersama Alisa didekapan.
Musyawarah itu mencapai keputusan akhir setelah hampir sebulan setiap
pertemuan hanya menghasilkan kebisuan di akhiri tangisan, tetapi tidak malam ini.
***
Mata bersahaja itu membenarkan duduk silanya. Kepulan asap daun
lipah gulung menyamarkan wajah dan menghilang dalam hitungan detik.
“Nak Edo yakin dengan keputusannya, apa sebaiknya tidak difikirkan lebih
matang lagi, karena langkah yang ingin kalian tempuh ini sangat dibenci oleh
Allah dan Rasul kita, apakah tidak ada jalan selain demikian”. Mata lelahnya
kembali menatap Alisa.
“Memang masa depan anak ini bukan ditangan kita, kita hanya mampu menuntun,
semua kehendak Allah, tapi alangkah bijaksananya jika kalian berdua
mendampinginya sampai dewasa”.
“Kami telah bermufakat dan sepertinya tiada jalan keluar lain tengku,
Insyaallah senin depan hajatan akan dilaksanakan, kehadiran tengku untuk
membacakan doa agar kehidupan kami menjadi lebih baik dimasa mendatang sangat
dinanti”.
Anggukan pelan tak berbilang seiring tarikan asap terakhir tembakau yang
ada dijarinya selanjutnya menutup pembicaraan kami bersamanya senja itu.
“Baiklah, jika jalan yang kalian pilih ini memang benar kehendakNya, masing–masing
dari kalian berdua pasti mendapatkan kebahagiaan dan rezeki yang cukup, saya
hanya mampu mendoakan saja”. Tambahnya
Tanpa menambah waktu aku mengikuti Mas Edo bangkit, meraih jemari tengku
Amirullah, mencium takjim sesaat.
“Kami permisi Tengku, Assalamualaikum”.
“Waalaikumsalam......”.
Tatapan nanar dari imam kampong itu mengiringi langkah kaki menuruni tangga
rumahnya yang masih memelihara ciri
khas rumah Aceh. Tiang bulat setinggi orang dewasa menyangga tiap sisi rumah yang
dilapisi dinding terbuat dari susunan kayu serta dipayungi atap daun rumbia.
Teduh. Seteduh hati ini. Perasaan haru, sedih, senang dan bahagia berbaur
dihati walau tak sepatah kata menemani perjalanan kami pulang kerumah.
***
Beberapa hari ini aku sibuk
mempersiapkan segala sesuatu, dari mulai perlengkapan, undangan, daftar menu
makanan serta hati yang harus tertata rapi saat acara senin nanti. Mas Edo tak
kalah sibuknya, dia sering tidak ada dirumah demi mengurus semua surat–surat yang
kami perlukan sebagai hadiah untukku pada saat perayaan nanti.
Hari semakin dekat.
“Kamu jadi pulang besok Lis.” Suara
Ibu pelan.
“Ibu minta maaf jika karena Ibu
kamu harus terluka, bukan itu harapan Ibu, sebenarnya masih ada jalan lain kan Lis?”.
“Lis rasa ini yang terbaik Bu, Mas
Edo paham akan keputusan Lis, Lis sayang Mas Edo Bu, juga Alisa, tapi keinginan
untuk menjaga Ibu lebih besar dari itu semua”.
Perempuan tua itu mendesah.
“Seorang anak memang harus berbakti pada orang tuanya, tetapi jika dia
sudah bersuami maka lelaki itu adalah segalanya baginya, Edo orangnya baik,
tutur katanya rendah, tatapannya sopan dan mengerti sedikit tentang agama,
modal yang cukup untuk menjadi kepala rumah tangga, apakah kamu tidak merasa
bahagia dengannya Lis?”. Suara Ibu diseberang membuatku mendesah pelan.
“Tidak Bu, bahkan Lis mendapatkan yang terbaik bersuamikan Mas Edo,
pengertiannya melebihi segala sesuatu, kata yang keluar dari lidahnya tidak
pernah menyakiti malah bernada nasehat selalu, tidak pernah dia marah pada Lis
bahkan kalau diingat kemarahan datang dari Lis disebabkan hal–hal sepele”.
Terdiam sesaat.
“Ya, Lis sadar sebenarnya kesabaran Lis jauh lebih rendah dibandingkan Mas
Edo. Bu...tolong Lis, inilah yang bisa Lis usahakan, Lis ingin pulang menjaga
Ibu, walau Lis tau bercerai dengan Mas Edo bukan keinginan Lis mengingat belum
tentu besok akan mendapatkan ganti yang sepadan, tapi kami telah memilih jalan
ini Bu dengan jalan yang terbaik, Insyaallah”.
Suara Ibu diseberang sesekali batuk menahan sakit ditenggorokan, menambah
kekhawatiran akan kesehatannya yang makin menurun.
“Mungkin Ibu perlu istirahat Lis, salam Ibu untuk Edo juga Alisa kecil, Lis
Ibu bangga padamu dan Edo yang berbesar hati untuk bercerai dengan cara yang
baik, Allah pasti tau yang terbaik untuk kalian berdua kelak”.
Suara Ibu terputus seiring butiran
bening yang membasahi sisi hanphoneku. Perlahan dadaku berguncang dalam isakan
tangis.
Sesungguhnya berat untuk mengambil keputusan bercerai dengan Mas Edo, apa
yang dikatakan Ibu benar adanya, selain sopan, penyayang, santun, lemah lembut
juga mengerti agama melekat pada dirinya dari garis keturunan Aceh–Jawa. Alisa,
buah hati kami sejak menikah tiga tahun silam mulai berbicara dengan jelas.
Aku dipinang saat Mas Edo bertugas
di kotaku, Lampung. Setahun
berselang masa tugasnya berakhir dan aku pun di boyong ke Aceh, kampung
kelahirannya.
Mas Edo paham alasanku bercerai untuk menjaga Ibu yang hanya ditemani si bungsu
Andi. Beberapa bulan ini kondisi Ibu yang lumpuh karena penyakit diperparah
lagi saat beliau terjatuh di kamar mandi. Kini Ibu hanya sanggup berbaring di
ranjangnya.
Saat ini di rumah agak ramai dari biasanya, tetangga dan saudara Mas Edo
mempersiapkan segala sesuatu untuk hajatan besok yang mereka tahu guna
merayakan pesta pernikahan kami, undangan melalui lisan pun telah disampaikan,
kerabat dari kesatuannya, masyarakat sekitar dan tak lupa puluhan anak yatim
biar hajatan ini mendapat berkah.
Sayup tawa canda mereka dari luar kamar terdengar dalam bahasa yang belum
sepenuhnya aku mengerti.
“Telepon dari Ibu, Bagaimana kabarnya Lis?”.
Suara Mas Edo dari balik pintu yang menganga membuyarkan lamunanku.
“Iya Mas, kalau Lis dengar dari suaranya Ibu sudah lumayan sehat, sanggup
bercerita banyak”. Sambil menyeka air mata, aku mencoba menatap Mas Edo yang
mengayunkan langkah dan duduk di sampingku.
“Aku tidak melihat Alisa di depan”.
“Tadi adik Mas, Munah membawanya
bermain”. Jawabku sesaat sebelum kesunyian menyapa.
“Mas, Lis berterima kasih atas
semuanya, juga mohon maaf pada Mas, jika
selama menjadi istri Lis menyinggung bahkan tak luput menyakiti hati Mas”.
Lelaki itu mendesah, perlahan
dipalingkan wajahnya.
“Sudahlah Lis, jalan ini sudah kita
tempuh, aku juga inginkan agar kamu ikhlas memaafkan salahku, banyak mereka
diluar sana yang kita dengar berpisah dengan cara yang saling memendam amarah
dan kebencian, aku hanya ingin kita tidak termasuk ke golongan tersebut, saat
kita menikah dahulu aku memintamu dengan cara baik dan perasaan sayang, kini
jika harus berpisah maka seperti semula perasaanku, terlebih lagi ada Anisa di
sisi kita”.
“Aku hanya mencoba berbuat seperti
yang Allah perintahkan Lis, penjelasan yang kudengar dari pengajian oleh tengku
Amir. Mungkin sampai disinilah jodoh kita Lis, aku ikhlas”.
Tak tersisa lagi dataran kering
dipipiku, aliran air mata menderas menemani langkah kecil Mas Edo menuju pintu.
“Oya Lis, suratnya sudah selesai”. Tanpa
menunggu jawaban bayangan itu menghilang dibalik pintu.
***
Matahari mulai merangkak naik seiring kehadiran tamu dan para undangan. Setelah
doa bersama yang dibawakan Tengku Amir dengan puluhan anak yatim, hidangan pun
mulai disajikan.
Wajah polos anak kecil yang tersenyum ria, bercanda sesama teman disamping
sambil tetap menjaga santun meramaikan suasana ini. Dibagian lain undangan
telah menempati kursi yang telah dipersiapkan dibawah tenda–tenda sesaat
sebelumnya mengambil makanan yang dihidangkan di pelataran meja. Papan bungan
ucapan selamat berderet indah menghiasi jalan memasuki halaman rumah.
Kata–kata sambutan mulai diucapkan Mas Edo untuk para undangan, tamu dan
dilanjutkan Tengku Amirullah sebagai pembicara atas permintaan kami saat
bertandang kerumahnya senja itu.
“Tuan rumah, para undangan dan tamu
yang terhormat”.
Suara pelannya berhenti, sesaat
sebelumnya mengucapkan salam dan pujian.
“Hari ini kita masih diberkati
Allah sehingga dapat berkumpul di rumah Nak Edo dan istrinya untuk mengingat
kembali suatu hajatan yang mulia saat keduanya menikah juga dalam rangka
memenuhi undangannya, semoga yang kita lakukan bermanfaat adanya”.
“Dalam pernikahan, sebagai seorang
suami sudah selayaknya kita mencintai istri yang kita pilih dari sekian banyak
wanita dan kita jadikan pendamping hidup. Pastilah dalam berusaha memilikinya,
berbagai pertimbangan dan masukan dari orang lain terlebih dahulu berjalan
didepan”.
“Para hadirin yang terhormat, dari
sang istri kita berharap dikarunia beberapa orang keturunan kita, pasti saja
yang baik, berakhlak, berilmu dan bagus rupanya, maka sudah sepantasnya istri
yang selalu melayani kita, menyiapkan sarapan dan makan malam, menjaga anak
kita dan lain sebagainya mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari kita.
Pemberian hadiah hanyalah salah satu wujud dari rasa kasih sayang suami
terhadap istri, disamping perhatian, pengertian sumi dan segala yang membuat
istri senang, asalkan tidak diluar batas norma agama”.
“Saya berdiri disini, sebagai
penasehat atas permintaan tuan rumah yang ingin memberikan hadiah kepada sang
istri, nak Lisa Lestari yang akan diwakilkan oleh Pak Bambang, kepala kesatuan
dimana Nak Edo bekerja”.
Riuh rendah suara tepukan dan eluan
para undangan menemani aku melangkah ke depan podium buatan, disambut Pak
Bambang yang berdiri siap memberikan kado dengan bentuk persegi seukuran kertas
folio terbungkus kain bermotif batik.
Jantungku memompa kencang dan
aliran darah ke tanganku berhenti, dingin.
“Mungkin hanya ini yng dapat saya
sampaikan, semoga Nak Edo dan Nak Lisa
mendapatkan berkah dariNya”.
Tengku Amir menutup ucapannya
dengan salam dan aku pun mengikutinya menuruni podium. Masih kulihat ketabahan
senyum Mas Edo saat mata ini berpapasan.
“Saudara–saudara, para undangan dan
tamu yang terhormat, adapun kehadiran kita disini untuk turut merasakan
kebahagiaan tuan rumah dalam merayakan pernikahannya. Disini saya mendapatkan
kesempatan dan penghormatan dari tuan rumah untuk mengutarakan maksud yang
sebenarnya”.
Tegas suara Pak Bambang sesaat
mengundang kesunyian para undangan.
“Perayaan pernikahan Edo Syahputra
dan Lisa Lestari pada hari ini disertai juga dengan pemberitahuan kepada
masyarakat umumnya dan khusus pada kesatuan tempatnya bekerja, bahwa melalui
hajatan ini mereka telah bercerai pula.” Seketika kasak kusuk terjadi disetiap
sudut kursi, aku masih tertunduk saat Pak Bambang kembali melanjutkan kata–katanya.
“Kado yang diterima Lisa Lastari
tadi berisikan surat–surat perceraian yang sah sesuai dengan hukum dan
ketentuan agama dimana Edo Syahputra telah mengurusnya beberapa hari lalu.
Hadirin yang terhormat, kehadiran kita semua disini menjadi saksi atas
berpisahnya dua manusia dari ikatan pernikahan dengan alasan yang kuat dari
masing–masing pihak. Semoga doa dari kita semua untuk kebahagiaan mereka
terkabul hendaknya.” Suasana ricuh masih menggema saat Pak Bambang melangkah
turun setelah sebelumnya memberi salam penutup, seterusnya pelukan hangat
menyambut Mas Edo yang berdiri menunggu dengan tangan tetap bersalaman. Hujan
air mata dengan serta merta membasahi pipi para undangan yang hadir dan tak
sedikit dari mereka berusaha menyekanya. Merasa acara ini telah berhujung,
Kulangkahkan kaki dengan gontai menghampiri Mas Edo dan menggapai tangan kekar
itu seterusnya kucium khidmat. Tiada kata yang keluar dari bibirnya bahkan saat
mendekap erat Alisa, hingga langkah ini menjauh meninggalkannya menuju
kendaraan yang akan menghantarkanku pulang kerumah Ibu.
“Oh Tuhan, kuatkanlah hati ini.”
Batinku.
Aku terus dibawa menjauh
meninggalkan suasana ceria yang seketika berharuan air mata.
***
Mendekati setahun aku bercerai, Mas Edo mengirimkan SMS yang isinya berbeda
dari biasanya, bukan sekedar menayakan Alisa dan Ibu.
“Lis, hari ini aku telah menikah, dengan wanita yang dikenalkan makcik untukku, masih terkait keluarga
juga. Bukan tujuanku ingin menyakiti perasaanmu dengan apa yang telah aku
sampaikan, tapi kamu juga masih muda,
jangan menyiksa diri sendiri, aku berharap yang terbaik untuk kita berdua juga
Alisa. Oya, aku juga bersyukur kesehatan Ibu semakin membaik, salam sayangku
untuk Alisa dan kalian semua. Assalamualaikum.”
Aku terpaku, rongga dadaku terasa merekah, tiada niat untuk membalas SMS
nya kali ini, aku masih menata hati sedemikian untuk dapat menjawab pinangan
dari duda muda, pengusaha kecil satu minggu yang lalu.
********
Subscribe to:
Comments (Atom)