Pelecehan seksual, kekerasan terhadap anak di bawah umur baik oleh orang tua, paman, sepupu, teman, tetangga yang marak mengisi kolom-kolom media massa dan televisi memberikan efek pusing kepala kepada saya. Untuk mengurangi ledakan yang mengakibatkan rusaknya jalan pikiran saya maka hadirlah cerpen ini.
Bacalah....mungkin anda sepaham dengan saya atau bersebrangan itu tidak masalah...
Tapi satu yang pasti.... saya belum menemukan ending dari cerita ini.
Mohon masukannya ya...
LAUTAN YOLIANDRA
(BY: Safrida Lubis)
Pandangan
yang luas, indah, desir angin membelai lembut rambutku, sehalus permukaan air
yang begitu tenang. Seakan ada yang memanggilku, dengan langkah kecil aku
berlari, ingin aku menceburkan diri kedalam limpahan air itu……. “Kak………, Tia
haus”. Tarikan jari mungil itu membuyarkan mimpi yang kesekian kali menghiasi
tidur malamku.
Dengan
langkah lunglai kuinjakkan kaki ini pada lantai dingin, mengambil segelas air
yang langsung diteguk dan membuatnya kembali tertidur. Ku kecup kening mulia
itu dan berharap tidak ada yang akan membuatnya kembali terjaga.
***
“Vie, aku ngak bisa kerja nanti malam ya”. Ucapku lirih.
Mata Sovie seakan berdentang mencari sesuatu pada
pandangan Yoli yang cemas dan berusaha meraih gumpalan tangan yang didekatkan
di bawah dagunya. “Tiara sakit”. Sapanya.
“yah..demamnya naik lagi, aku harus menjaganya, tidak
mungkin aku tinggalkan dia sendiri di rumah itu”. Sahutku sambil melepaskan
gengaman Sovie.
“Oke deh, ngak apa, artinya malam ini aku sendiri tanpa
kamu”. Sovie menjatuhkan punggungnya pada sandaran kursi, sementara tatapan
matanya masih mengisyaratkan sesuatu yang akan disampaikan. Senyuman itu terasa
akan merekah pada bibirnya.
Sambil kembali menyeruput minuman dingin, aku melirik
penuh tanya akan sikapnya itu. “Ada apa sih Vie?”. Wajahku
semakin penasaran tatkala tawa Sovie meledak.
“Ngak Yol,
aku kasihan aja sama Mas Dayat, hampir tiap malam nyariin kamu, gimana kalo
ntar malam dia datang, pasti kecewa berat sang doi”. Goda Sovie dengan tangan
yang tak henti memutar–mutar selang putih di hadapannya.
“Ih….. aku
kira apaan tadi, udah ah, malu di lihat orang”. Tawa Sovie yang tiba–tiba
meledak membuat beberapa pasang mata tertuju padanya. Terkadang kebiasaannya
yang satu ini sedikit melunturkan kecantikan wajah ovalnya itu, ah.. dasar
Sovieana. Tanpa menunggunya berhenti tertawa ku acungkan tangan pada pelayan
kafe yang dalam hitungan detik telah berdiri sedikit membungkuk didepan kami
berdua dengan menyerahkan secarik kertas. Kulangkahkan kaki keluar dari ruangan
yang tertata apik ini diikuti Sovie yang masih kontras dengan tawanya.
“Yoli….. tunggu
dong!”. Dengan berlari kecil, tak lama Sovie telah ada di sampingku mengitari
jalan setapak. Pulang.
Pikiranku
berputar membongkar kembali susunan ingatan, Ah...Mas Dayat, Bapak beranak tiga yang
setia mencariku hampir setiap malam. Mengumbar kata–kata bahwa akulah yang
lebih dicintai dibandingkan istrinya yang selalu saja bermuka masam saat lelaki
paruh baya itu pulang kerumah. Wajahku lebih indah, selalu tersenyum, tubuhku lebih
harum dan kata–kata pujian lainnya yang membuatku makin merasa jijik. Tapi
karena puluhan rupiah bahkan ratusan yang dengan mudah keluar dari sakunya,
sebagai pondasi kehidupanku dan adik titipan ibu, aku semakin mencintainya.
Tiara........ Adikku yang paling kusayang, hanya dia saat
ini kupunya sepeninggal ibu setahun yang lalu. Aku makin mempercepat langkah setelah dua gang
sebelumnya berpisah dengan Sovie.
***
“Kak,
bajunya kok kayak gitu, trus roknya nampak paha”. Belahan blus yang kontras
didadaku disambut celoteh Tia disampingku saat kupoleskan pemerah pipi yang
makin membuatnya mengernyitkan dahi.
“Iya, ini
pakaian kakak, cukup kakak aja yang makai, Tia ngak boleh pakai ya!”. Ku
yakinkan bola mata bening itu dengan mengusap rambutnya yang legam.
“Sekarang
kakak belum cukup duit untuk beli baju yang panjang, nanti kalau kakak udah ada
uang, kakak akan beli baju yang bagus buat Tia, bukan seperti baju kakak ini”.
Lanjutku menyakinkannya, walaupun sorotan matanya masih ingin berkata–kata
lagi, tetapi suara Sovie didepan pintu memaksanya menelan semua kata–kata yang ingin
di keluarkan.
“Tia
jangan kemana–mana ya sayang!”. Kutinggalkan gadis kecil itu mematung saat
kecupan bibirku menyentuh kemulusan keningnya setelah sebelumnya blus dan rok
mini putih kubaguskan kembali di depan cermin. Mengikuti panggilan Sovie yang
telah kesekian kali.
***
Suasana
panas dan sesak, semakin menyengat paru–paru saat kepulan asap tembakau melayang
diangkasa ruangan tertutup ini. Hingar bingar musik menghentak setiap denyutan
jantung, memaksanya berdegub kencang. Liukan pinggul gadis belia sebayaku yang
seharusnya mengerjakan soal–soal kimia di meja belajar, memanjakan mata setiap
pemuda seolah sedang menatap lukisan ternama.
Antara
sadar dan tidak kulantunkan syair yang aku sendiri tidak tau persis apakah aku
menyanyi atau mengigau. Dalam dekapan tubuh kekar ini canda tawa, kelakar ria
senada dengan lantunan manja Sovie pada dada pemuda yang sebaya dengan ayahku
jika beliau masih hidup.
Setahun sudah Aku terlena dalam kehidupan gegap
gempitanya wanita malam. Tuntutan kehidupan yang sarat dengan uang mengharuskan
aku merelakan kemuliaan harga diri sebagai perempuan yang suci. Tak pernah aku
mengenal apalagi punya keinginan untuk menjadi wanita panggilan. Jika bukan karena
perintah Ibu disaat terakhir kepergiannya untuk menjaga Tiara, adik perempuanku
di umurnya sebelas tahun, aku pasti tidak akan ada disini.
Mencari
pekerjaan bukanlah hal yang gampang. Apa yang dapat dilakukan oleh gadis
seperti diriku ini. Jangankan Ijazah kuliah, Ijazah SMA saja baru akan
kudapatkan beberapa bulan lagi jika aku berhasil lulus.
Setelah
kepergian Ayah dan disusul Ibu, ternyata kesabaran tidak dapat mengganjal
perutku dan Tiara yang hanya sejengkal, seperti yang sering Ibu tuturkan menjelang
terlelapnya bola mata Tiara. “Kita hidup itu harus banyak sabarnya, karena
orang sabar di sayang tuhan.” Ucapan Ibu terasa mengiang di telingaku, tetapi
semakin aku bersabar, kesempitan itu terus mengukungku hingga akhirnya aku
harus dirawat di rumah sakit selama tiga hari. Nasib baik masih berpihak
padaku, Pak Husin tetangga kami yang menanggung semua biaya perawatan selama
aku sakit dan selama itu pula Tia masih dapat memenuhi perut mungilnya dengan
makanan yang senantiasa dibawakan Bu Rina istrinya. Hingga pagi itu, saat matahari
tersenyum mengiringi kaki kecil Tia melangkah kesekolah, Pak Husin seperti
biasanya menyapaku.
“Kamu tidak pergi sekolah Yoli?”. Tanyanya datar.
“Tidak Pak”. Jawabku singkat seadanya, tanpa
memperdulikan sahutannya kulangkahkan kaki menuju pintu setelah pagar rumah
kurapatkan kembali. Ini telah kesekian kalinya aku bolos sekolah disebabkan
biaya yang harus aku keluarkan untuk transport lebih besar dari harga beras di
tambah lauk untukku dan Tiara setiap harinya. Yah, memang seperti inilah hidup
di kota, tidak seperti yang sering Ibu ceritakan saat di kampung nenek, Ibu dan
teman lainnya cukup berjalan kaki walau jarak yang ditempuh sampai puluhan meter,
tetapi tidak menyurutkan keinginan mereka untuk belajar.
Lamunanku tersentak saat langkah kaki bergerak perlahan mendekati
pintu rumah.
“Boleh Bapak masuk?”. Sosok tinggi Pak Husin memompa
darahku untuk berdesir kencang. Ketakutan laksana kilatan cahaya membelah malam
gelap gulita, Aku terpaku tak bergerak saat wajah tua itu tertawa sumringah
dihadapanku.
“Bapak tidak ada teman ngobrol di rumah, Ibu sudah
kepasar”. Sambil melangkahkan kaki dalam sekejap tubuh kurusnya itu direbahkan
keatas kursi.
Masih terang diingatanku saat jemari tuanya menggenggam
erat tubuh kecil ini dua hari yang lalu. Jeritanku yang tertahan, terbungkam
seiring dengan sesaknya aliran nafasku saat tubuh renta itu menindih.
“Tidak apa–apa,
tidak ada yang mendengar kita”. Serunya, seketika mata tua itu berbinar–binar jalang
menyusuri sekujur tubuhku. Usahaku melawan hanya sia–sia belaka, aku sadar
tiada yang akan mendengar suaraku, rumah kami yang terpisah cukup jauh dari
lainnya memupuskan harapanku. Bagai mendaki gunung yang tiada berpuncak aku
tergolek lemah tak berdaya.
“Kau memang cantik Yoli”. Masih kudengar lirih suara
serak itu seiring samar kulihat tubuh tingginya yang menghilang di balik pintu.
Terasa berat kaki ini kulangkahkan, puluhan beban seolah
menimpa pundak kecilku. Alunan lantang suaraku seakan pergi dan aku masih juga
terpaku tatkala tangan kasarnya menarikku. Usahaku meronta hanya isapan jempol
belaka. Ini sudah yang kedua kalinya.
Aku semakin jarang kesekolah kondisi tubuhku teramat nyeri
separah dan mungkin lebih parah kondisi hatiku yang sakit. Tiada tempat
kucurahkan kesal ini, hanya genangan air bening selalu menemaniku saat mata
indah Tiara telah terpejam. Kelakuan Pak Husin semakin menjadi–jadi, sampai
suatu ketika sudah tiga bulan aku tidak haid. Dan kupastikan bahwa aku dalam
keadaan berbadan dua, hal inilah yang membuatku memutuskan untuk tidak sekolah
lagi dan pindah. Butuh waktu sebulan bagiku menunggu pembeli rumah, warisan
yang ditinggalkan Ibu satu–satunya. Setelah itu akupun menjauh dari tempatku
dilahirkan.
“Kenapa kamu jual rumah ini Yol, kamu mau tinggal dimana
lagi”. Suara Bu Rini memecah keheningan saat timbunan baju kumasukkan ke dalam
tas.
“Yoli bisa cari rumah lain kok Bu!”. Jawabku hambar. Aku
tidak mau menyakiti Bu Rini dengan kenyataan ini. Cukuplah dengan apa yang
dirasakannya setiap hari bersama suaminya itu. Tiada malam yang dilaluinya
tanpa tamparan keras dari laki–laki tua yang seorang pengangguran. Judi dan
mabuk–mabukkan menjadikan sosok yang pantas disebut kakek itu menjadi lupa
tugasnya sebagai suami yang memberi nafkah kepada istri dan melindunginya
dengan kasih sayang. Mengingat hal tersebut Aku menjadi ngeri jika pada
kenyataannya nanti, dia yang akan menjadi suamiku. Menghindar dan pergi menjadi
pilihanku walau secara jujur Aku tidak tau kemana akan melangkahkan kaki, tetapi
perkataan Ibu “Tuhan selalu beserta orang–orang yang sabar”. Menjadi pelita
yang akan menerangi jalanku di masa depan.
“Kita
pulang Yol”. Sentuhan tangan kekar Mas Dayat di pipiku membuyarkan ingatan yang
selalu membayangi setiap aliran darah dalam tubuh ini.
“Oke Mas”.
Dengan sempoyongan kuikuti langkah lelaki itu sambil melirik Sovie yang masih
lelap dalam pelukan. “Vie, aku duluan ya”. Ucapku yang hanya dibalasi dengan
acungan lima jemarinya.
Kuyakini dia pasti mabuk berat seperti malam–malam lainnya.
Sesaat setelah
Mas Dayat mencium keningku, dengan gontai kulangkahkan kaki menuruni mobil dan
berjalan menuju pintu rumah. Di waktu makhluk alam tertidur lelap, suara
jangkrik menggantikan derunya kendaraan pada tengah malam seperti ini. Kucoba
melirik wajah kecil dibalik kain. Tiara..dia sudah tertidur lelap.
***
Ditaman
ini sering kuhabiskan indahnya senja mentari yang bersemayam dibalik awan.
Melihat tiara tertawa riang mengejar kupu–kupu kecil adalah hal terindah dalam
hati yang tak berbentuk ini.
Sentuhan
mata Sovie pada wajahku, memalingkan pandangan hampa ini.
“Aku tidak
pernah melihatmu ceria seperti ini Yol, selain dengan adikmu Tiara. Sangat
berartikah dia bagimu?”.
Perkataan
Sovie kembali memalingkan wajah ini pada sosok yang berlari kesana–kemari mengejar
sesuatu yang belum di dapatinya. Sambil merapatkan bibirku. Tersenyum. “Untuk
dialah aku bertahan Vie, mutiara titipan Ibu yang harus kujaga, jangan sampai
mutiara itu menjadi hitam seperti diriku”. Desahku.
“Sebentar
lagi dia akan beranjak dewasa, tamat sekolah ini aku akan memasukkannya pada
pasantren dikampung, perhatian dari nenek mungkin akan lebih fokus padanya dari
pada diriku yang hampir tiada waktu untuk bersamanya”.
“Apa kau
yakin Tia akan menerimanya”. Selidik Sovie.
“Aku yakin
dan ini harus kulakukan demi kebaikannya”. Kataku mantap.
“Terkadang
ada keinginan untuk pulang kampung meninggalkan semua ini Vie, tapi aku terlalu
takut pada kenyataan bahwa akhirnya nenek akan tahu bahwa cucunya adalah
seorang wanita panggilan”.
“Kita
sudah terlanjur masuk kedalam sistem ini Yol, apapun usaha yang kita buat tidak
akan menghasilkan apa–apa, pandangan orang terhadap kita tetap saja seperti
sangkaan mereka, bahwa kita adalah pemikat laki–laki”. Ada kekesalan yang timbul di wajah Sovie
seiring ucapannya yang berapi.
“Ah..sudahlah
Vie, aku tak bermaksud membuatmu pesimis seperti itu, yang penting bagiku,
cukup engkau saja yang tau bahwa aku disini untuk kehidupan dia”. Pandangan
mataku tertuju pada gadis dua belas tahun yang berjalan menghampiriku.
“Kak Yoli,
pulang yuk, Tia udah capek”. Pesannya manja sambil menarik tanganku. Aku tersenyum. Tanpa
berkata kuikuti langkah kecilnya diiringi Sovie yang menatapku penuh seribu
makna.
***
Aku
tertegun melihat banyaknya ikan yang bermain di permukaan air yang dangkal ini.
Ku bungkukkan badan untuk mengambilnya, senyuman merekah dibibirku tatkala ikan–ikan
itu sudah ada dalam gengaman, aku kegirangan saat kurasakan mudahnya mendapati
mereka yang tenang di hadapanku. Air yang jernih, sungai yang sedemikian kecil
ini bisa menghidupkan begitu banyak ikan dengan ukuran yang tidak bisa
dikatakan kecil. Tiba–tiba aku tersadar, tidak mungkin ikan yang seharusnya
berada di laut akan hidup di air tawar depan hidungku. Ini mustahil, ini tidak
mungkin. Kecemasan menghampiriku, kulit wajahku terasa panas, aku pun terjaga
dikala matahari siang menjilat pipiku dari celah atap kamar yang seharusnya
tidak layak pakai. Aku terdiam, keringat membasahi tubuhku, terpekur mengingat
kembali apa yang baru saja kualami. Ah…mimpi yang selalu saja sama.
Kulangkahkan kaki, lunglai, menuju tempat untuk membersihkan diri ini dari
keringat yang membuatku gerah.
***
Aku
tertegun melihat Tiara yang menangis sesegukan. Tiada kata–kata yang mampu ku
ucap dari bibir ini. Air mataku berjatuhan laksana hujan awal Nopember. Aku
terdiam didepannya yang larut dalam belaian nenek.
“Udah,
jangan nangis lagi, disini kan
ada nenek yang jagain Tia”. Ucap nenek mencoba menenangkan Tia. Dadanya naik
turun menandakan betapa tidak rela dengan keputusan yang aku ambil untuknya.
“Ini demi
kebaikan Tia”. Ucapku. “Kakak merasa ngak bisa menjaga Tia, karena kakak harus
kerja setiap harinya, nanti untuk keperluan Tia kakak akan mengirimnya tiap
bulan, yang penting Tia harus tetap sekolah, dan rasa kakak pasantren NURUL
adalah tempat terbaik buat Tia, karena selain sekolah disitu juga ada
pengajiannya”. Kata–kataku yang terlontar membuat wajahnya yang tertunduk
menatapku tajam. “Kenapa harus Tia aja yang tinggal sama nenek, kakak kan seharusnya bisa
juga, kenapa harus kembali lagi kerumah yang kumuh itu?”. Bola mata
bening itu berubah laksana butiran nyala api yang kian membesar. Ahh...
Sambil
mendekati perlahan, usapan jariku mendarat di rambutnya yang legam.
“Kakak
sayang Tia, kalau kakak tetap disini, kasian nenek, beliau tidak punya cukup
uang untuk membiayai kita makan, terlebih lagi biaya sekolah Tia”. Kutatapi
wajah nenek bergantian dengan wajah yang telah basah dengan air mata itu,
berharap dia akan mengerti dengan bahasa yang serendah mungkin ku paparkan tadi.
Tampak Tia
terdiam lama. Kurangkul tubuh kecilnya dan tangisannya pun seketika meledak
diantara rengkuh dadaku. Nenek terdiam memandangi kami berdua, tatapan matanya
yang teduh bagai embun bagiku saat dahaga, disana ada cahaya bagi masa depan
Tiara. Semoga. Batinku.
***
Lima bulan Desember telah berlalu, dinginnya
udara malam membuatku merapatkan tubuh pada sosok tegar disamping ini. Rengkuhan
tangan Arli pada punggungku membuatku merasa nyaman berada dalam pelukannya.
Kulirik sepasang mata itu yang berbinar–binar, pendaran bias beribu cahaya di
depan sana. Kupejamkan kembali mata ini mencoba untuk berkhayal indah, seindah
apa yang sedang melanda dihatiku.
Oktober lalu aku bertemu Arli, saat pesta pembukaan kafe
milik pacar Sovie. Seperti biasa lantunan lagu dan musik mengiringi kegembiraan
yang dirasakan siapa saja yang hadir disana. Sepasang mata itu selalu mengawasi
gerak–gerikku.
“Yol, Kamu liat ngak yang di seberang itu”. Bisik Sovie
disela gemuruhnya alat musik.
“Yang mana”. Sambil mencoba mencari ku sorotkan pandangan
ke seluruh meja yang ada di hadapanku.
“Itu lho Yol, si tampan yang berbaju putih”. Sambil
mengarahkan wajahnya pada seorang pria yang duduk sendiri dua meja dari meja
kami.
“O.. yang
itu”. Jawabku manggut. “Trus kenapa?”. Tanyaku penasaran.
“Kamu ngak
perhatiin ya, dari tadi itu mata fokus ke arahmu aja tau!”. Ucapnya padaku yang
masih melongo bingung dengan tingkahnya nerves gitu.
“Mungkin
bukan lihat aku vie, bisa aja dia lihat tu cewek di belakangku!”. Tunjukku pada
meja yang terisi penuh dengan empat orang gadis muda yang asyik berkelakar ria.
“Ih…….enggak…..,
aku yakin itu cowok tujuin matanya ke kamu”. Tegasnya.
Seakan merasa bahwa dirinya jadi topik pembicaraan, tiba–tiba
pria itu bagun dan berjalan menghampiri tempat dimana aku dan Sovie duduk.
“Tuh kan, bener aku bilang, dianya mau jalan kemari deh”.
Sovie menjadi salah tingkah tatkala
suara lembut itu menyapa sopan.
“Boleh saya duduk disini!”. Pintanya.
“Sssilahkan...”. Sambil mencoba berdiri suara Sovie
mengejutkanku untuk mempersilahkan laki–laki ini duduk semeja dengan kami.
“Aku cari mas Yandi dulu Yol, siapa tau dia perlu
bantuanku”. Tanpa menunggu ijinku, sambil beranjak pergi tersungging senyuman
kecil di bibirnya.
Aku masih
terdiam saat tangan itu diulurkan ke arahku.
“Dayarli Anif, panggil saja Arli”.
“Yoliandra, cukup Yoli saja”. Jawabku sembari menyambut
uluran tangan lembutnya.
Alunan menghentak kini menyurut bak simphoni yang membuai
manja setiap telinga. Tidak terasa sudah hampir dua jam pembicaraan ini
berlangsung. Dari mulai musik, hobi, politik, sampai jenis bacaan favorit
menjadi tema hangat yang serasa tidak akan habisnya. Arli seorang pengusaha
kecil yang mulai di rintis dua tahun lalu dan berkat dorongan orang tuanya,
rumah makannya berhasil sukses dan tiada sepi dari pelanggan yang umumnya dari
kalangan menengah keatas. Dia juga rekanan bisnis Yandi yang diundang untuk
turut merasakan kebahagiannya.
Ada getaran yang mengusik hatiku saat pandangan mata ini
bertubrukan dengan bola matanya, rasa ini sebelumnya tiada pernah kurasakan disaat
aku bertatapan dengan pria–pria yang selama ini menemani malam–malamku.
Ah...apakah ini? Bisikku pelan.
Usikan ini semakin menjadi bayang–bayang dalam malam
gelapku dan menghilang disiang hari saat matahari memantulkan sedikit sinarnya,
menjadikan puncak air itu terlihat bak kilauan permata.
Rambut panjangku meliuk–liuk mengikuti angin yang
menghantarkan udara panasnya permukaan laut.
Kutatapi
wajah pria itu bergantian dengan luasnya pandangan yang tak berujung di depan.
“Aku
serius Yol, aku mau mengenalmu lebih jauh”. Jelasnya menyakinkan.
Tarikan
nafasku terasa berat, lebih berat dari apa yang harus kujalani selama ini.
Kutatapi
tak bergeming bola mata itu, tak terlihat kebohongan padanya, bening, terlalu
polos untuk menyimpan dusta.
“Aku tidak
bisa menjawabnya sekarang Arli, kamu terlalu baik untuk wanita seperti aku”. Kucoba
membohongi diri ini dengan kebenaran yang masih tersisa pada ucapanku. Sambil
menatapku harap bibir itu kembali terbuka. “Yoli, aku akan terima kamu apa
adanya, dan aku harap kamu juga dapat menerimaku, Please!”. Arli menjatuhkan
kakinya pada butiran pasir putih ini, aku terhenyak, menatapnya hampa. Lunglai
aku terduduk. “Aku berbeda Arli, tidak sebagus apa yang engkau bayangkan”. Kata–kataku
membuat Arli tak lagi berbicara. Hanya kebisuan menemani degub jantung kami
seiring pulangnya matahari keperaduan malam.
Seminggu
sudah aku tak mendengar suaranya. Hp yang biasanya berbunyi menyampaikan pesan
atau hanya sekedar sapaan “lagi ngapain” kini terdiam sunyi dari panggilannya.
Sampai sore itu, pintu kamar kost diketuk beberapa kali mengharuskan aku
berjalan pelan.”Sebentar”. Sapaku. Tanpa menunggu lama ku buka daun pintu itu,
aku tertegun. Arli berdiri dihadapanku dengan segenggam bunga mawar merah. Indah.
Tetap tersenyum dia berkata, “Boleh aku masuk”. Rangkaian bunga itu ku terima
dengan perasaan yang tidak kalah indahnya. Seindah mawar. Langkahnya santai
menuju pinggir peraduan dan duduk dengan bersahaja. “Tidak mau menemaniku”. Pintanya
pelan sambil menepuk tempat disebelah kirinya, mengisyaratkan agar aku duduk
disitu. “Nghh.. ya”. Anggukanku membimbing langkah kaki ini menuruti
perkataannya.
“Aku sudah
tau semuanya dari Sovie dan keputusanku tetap sama”. Arli menarik
pelan nafasnya. Ringan.
“Bolehkah
aku mengenalmu lebih jauh?”. Pertanyaan itu membuat bibirku tak sanggup mengeluarkan
begitu banyak kata–kata, perasaanku melayang, hatiku merekah seindah mawar yang
ada di genggamanku dan bertambah indah sesaat kurasakan kecupan lembut
menyentuh ujung bibir kananku. “Aku sayang kamu Yoli!”.
Hal
terindah yang baru kurasakan seindah aku melihat senyum Tiara belari mengejar
kupu–kupu. Kuikuti derasnya air yang mengalir, aku tidak takut dengan apa yang
ada di dalam air yang biru itu. Ingin kuceburkan diri ke dalamnya, aku yakin
ada kebahagiaan yang membuat bibir ini dapat merekah.
Memasuki tahun baru, genap sebulan Arli menemaniku. Hadiah
yang diberikan menjelang pergantian tahun adalah sebuah kata pinangan agar aku
bersedia menjadi istrinya. Kebahagiaan tak terhingga berkelebat di dalam hati. Berbagai
persiapan pun telah disediakan ucapnya seiring pecahnya kembang api tepat
disaat pergantian tahun dan juga bergantinya jalan hidup ku yang baru. Harapku.
Dekapan pelukannya kueratkan, mata Arli masih berbinar,
tapi bibirnya mencoba bergerak. “Ada apa Yoli?”. Tanyanya pelan. Hanya pelukan
yang makin kueratkan. Sebagai jawaban.
***
“Arli meminangku Vie”. Senyumanku terus merekah disambut
kekagetan yang terpancar pada wajahnya.
“Benarkah…..ck…ck…”. Decaknya kagum.
“Aku terlalu bahagia dengan semua ini Vie”. Tak terasa butiran bening menuruni
belahan pipi yang memerah semu.
“Kau
berhak mendapatkannya Yol, aku bangga padamu, engkau gadis yang jauh lebih dewasa
dibandingkan umurmu”. Kata–kata Sovie tidak mampu membendung derasnya debit air
yang terus turun, seiring terasa lunturnya beban yang selama ini kubawa.
Kebisuan melanda keduanya.
Ingatanku
bermain, menghantarkan pada kondisi terparah dalam hidup ini, walau bisa
dibilang setiap langkah yang kulalui itulah jalan terparah yang harus aku
lanjutkan. Sovie, wanita lebih tua dua tahun dariku, seharusnya lebih pantas
jika kupanggil kakak untuk kewibawaannya, “tapi lingkungan hidup disini tidak
menuntut hal–hal yang sedemikian lho”. ucapnya asal suatu ketika. Ku ikuti
langkahnya pulang. Menggandeng tangan Tia dan tas di pundakku terasa letih
juga setelah seharian berada dalam Bus. Mungkin sudah jalan hidupku bertemu
Sovie, sesaat setelah turun dari kendaraan yang membawaku pergi dari tempat
kelahiranku aku bertabrakan dengannya, Tia terjatuh dalam genggamanku dan hal
itu sangat mengejutkan Sovie, dengan cepat kata–kata maaf dilontarkan padaku
dan ku balas dengan senyuman. Percakapan lama mengharuskan aku berterus terang
padanya bahwa ini adalah pertama kalinya aku menginjakkan kaki di kota ini dan
aku tidak punya tujuan kecuali mencari kerja. Dengan segala kerendahannya aku
pun mendapatkan rumah kost di kota yang menjanjikan. Harapku.
Sovie tidak mengetahui bahwa aku sedang berbadan dua,
untuk yang satu itu hanya aku dan penciptaku yang mengetahui, sampai suatu
malam aku merasakan perutku seakan di injak dan berputar, nyeri itu sungguh
menyakitkan yang segera berakhir tatkala cairan merah telah menggenangi kasur
tidurku. Kupandangi gelap langit kamar ini. Aku meringis tertahan.
Dua purnama berlalu, aku terduduk di sudut kamar ini,
ukuran kasur yang cukup untuk Tia dan aku terlelap, menjadikan kamar sempit ini
hampa udara di tambah lemari kayu usang yang enggan berdiri dengan kokoh pada
sudut kamar. Mencari pekerjaan ternyata lebih sulit dari kenyataan hidup yang
harus aku jalani. Uang simpanan dari hasil penjualan rumah warisan Ibu semakin
hari semakin menipis. Ku arahkan pandangan beberapa derajat mengenai buku yang
dengan rapi terletak di atas lemari usang itu. Deg...ada perasaan bersalah yang
mendalam mengitari langit hati, Ayah, Ibu, sudah berapa lamakah kulupakan untuk
mengirim doa pada mereka.
Alunan pelan suaraku tidak membangunkan Tia dari
tidurnya, tak henti ku menyeka bulir air yang terus berjatuhan, ketenangan
melindungiku disaat mata ini terus bergerak mengikuti aliran kata–kata yang
penuh beribu makna.
“.....................................................................................................................................”
Aku terpekur, tangisku pecah, tertahan bersama guncangan
dada yang terasa sesak. Ku kecup takjim Al-Quran ini dan mendekapnya erat dalam
pelukan.
Dari seberang sana suara Sovie mengeras. “Kamu mau ikut
aku kerja? Aku ngak punya kerjaan untuk kamu Yol!”.
“Tolonglah Vie, Aku ngak tau lagi harus kemana, uang ku
telah habis”. Desakku yang membuatnya mendesah berat.
“Yol, beneran, aku ngak tau harus kasi kerja kamu tu
apa?”
“Terserah kamu Vie, ku muhon, jangan sampai Tia menahan
lapar, aku ngak sanggup melihat dia tersiksa”. Tak kudengar sahutan di ujung
sana, tapi ku yakin Sovie masih mendengarku.
“Vie, tolonglah, demi Tia”. Pintaku memelas.
“Baiklah, nanti aku hubungi”. Suara Sovie terputus. Ku
eratkan genggaman pada Hp memantapkan hati bahwa aku harus menempuh hidup ini.
Esok harinya aku dikenalkan kepada seorang lelaki paruh
baya, waktu yang cukup lama untuk menemaninya jalan–jalan dan mengobrol. Mas
Dayat, begitulah pintanya untuk di panggil, mengaku merasa senang saat
bersamaku, sehingga saat mengantarku pulang, beberapa lembar uang ratusan tak
ragu diselipkan dalam saku jeansku. Dari hasil uang itu aku dapat memenuhi
segala kebutuhan kami, kontrakan, sekolah Tia, bahkan lusinan baju baru.
Kemudahan mendapatkan uang melenakan Aku untuk terus tenggelam
di dalam kehidupan seperti ini. Keakrabanku pada Sovie meningkat, sejalan
dengan profesi yang telah di gelutinya sekian lama.
***
Tiara telah dewasa, kemanjaannya berkurang, suara merdu
yang biasa terdengar hampir setiap malam di telingaku, kini berselang sepekan
untuk bisa mendengarnya lagi. Ah... Mutiara kecilku, seperti apakah wajah
indahnya. Tiba–tiba kerinduan menumbuk tepat degupan jantung yang semakin
bergejolak.
“Assalamualaikum...”. Suara merdu itu menyapa.
“Waalaikumsalam..”. Jawabku kaku sambil merapatkan
kembali benda kecil ini di telinga.
“Ada apa kak, malam–malam selarut ini masih belum
tidur?”.
“Belum... Tia sendiri kok belum tidur juga”. Balasku yang membuat nya tertawa
ringan.
“Tia lagi
ngulang kitab kak, besok ujian sama ustadzah Aina, sebentar lagi juga harus
ujian sekolah, jadi dari pada keburu–buru nanti, dari sekarang aja Tia coba
selesaikannya satu persatu, trus kakak sendiri kenapa belum tidur”. Celotehnya.
“Tadi sih udah
hampir pejamkan mata, tapi teringat Tia, udah lama ngak nelpon kakak, bosan
ya”.
“Ih……enggak
lha kak, kan
udah Tia bilang tadi, sekarang lagi ujian, Tia ngak mau memberikan nilai yang
jelek untuk kakak, jadi Tia harus berusaha, maaf ya kak, kalau Tia terlalu
sibuk”. Desahnya khawatir.
“Ya udah,
terusin belajarnya ya, kakak bangga dengan apa yang Tia lakukan selama ini, Tia
udah memberikan yang terbaik untuk diri sendiri dan juga untuk kakak, ngak ada
yang perlu kakak maafkan kok, jangan tidur terlalu malam ya, nenek gimana,
sehat?”.
“Alhamdulilllah
sehat kak”.
“Udah dulu
ya, kakak sayang Tia….assalamualaikum”.
“Waalaikumsalam”.
Telepon
selular kumatikan dan mencoba kembali memejamkan mata ini. Sesaat kupandangi
lukisan tinta yang dikirimkan Tia bersama kembaran hasil prestasinya. Dara itu
terlihat jauh lebih cantik dengan balutan jilbab putihnya, deretan angka - angka
berbeda terlihat meningkat pada susunan satuannya, menyunggingkan senyuman di
bibir ini. Peringkat satu dari tiga puluh delapan siswa mengisi lima lembaran terakhir
pada balutan kertas, di lembaran lain melekat fotonya diatas secarik kertas
yang lebih tebal bertuliskan “Santri teladan periode genap 2009”. Rasa penuh
syukur menghantarkan lelapnya kelopak mataku yang perlahan tertutup.
***
“Aku akan
pulang beberapa hari, memastikan persiapan untuk acara kita apakah telah
rampung
No comments:
Post a Comment