Total Pageviews

cerpen ikut LMCP guru 2010


Guru menulis cerpen? Ya iya lah, nih buktinya.
Walau belum menang tapi sertifikat penghargaan berguna untuk kenaikan pangkat lho..

KETIKA HUTAN MENGHILANG

(by : Safrida Lubis)

Bumi terhentak dan berayun berulang kali manakala tubuh besar itu mondar mandir dari tempatnya. Pijaran matahari dari sela dedaunan yang mulai padam, mengundang nyanyian irama jangkrik dan binatang malam.
Aku masih terdiam tatkala belalainya yang panjang diangkat dan dipukulkan ke udara, seketika pekiknya membahana memenuhi seruan hutan ini. Nyanyian binatang malam lenggang sesaat, seolah-olah mengetahui bahwa raja hutan dalam keadaan marah.
“Tidak bisa dibiarkan begitu saja” suara ayah memalingkan wajahku. Masih kulihat daun telinganya yang bergerak-gerak dan ekornya yang terangkat tinggi menandakan betapa kesal dirinya. Jika bukan karena nada suaranya yang tinggi pasti aku akan mendekatinya, menjulurkan belalaiku ke badannya yang berkulit tebal diakhiri tawa riang di wajahnya, serta belalainya yang panjang mengelus kepalaku ke kiri dan ke kanan karena bagi kami para gajah sama saja dalam mengekpresikan perasaan marah ataupun gembira.
“Para manusia itu sungguh keterlaluan, baru dua minggu yang lalu hutan tempat kita tinggal di bagian barat ditebangi dan dijadikan lahan perkebunan baru, belum sampai satu minggu kita menetap disini. Perluasan hutan hampir merengsek kurang dari lima ratus meter dari pemukiman kita.”
Aungan puluhan gajah lainnya seolah membenarkan apa yang dikatakan ayah.
“Mungkin mereka harus kita beri pelajaran, biar mereka dapat mengerti bahwa kita juga perlu hidup.” Seekor gajah bergading muda tetapi tampak lebih tua beberapa tahun dariku mencoba maju sambil mengangkat belalainya.
Aku tak ingin bersuara, masih jelas diingatanku saat para mahluk yang dinamakan manusia itu membawa besi-besi pendek ditangannya yang baru kutahu bahwa benda itu adalah sebilah parang. Tiga orang yang ukurannya jauh lebih kecil dariku walau aku masih seekor anak gajah jelas kalah bersaing dalam hal ukuran.
Pagi itu seperti biasa aku mengikuti langkah ayah untuk mencari kebutuhan makan kami. Hutan adalah rumahku, pohon yang rimbun, dahan-dahan yang teduh, rumput-rumput yang panjang seakan perbendaharaan makanan bagi kami para gajah. Aku adalah hewan yang harus makan satu ton makanan setiap harinya sehingga limpahan makanan dalam hutan adalah penunjang kehidupan kami.
Ukuran manusia itu tidak lebih besar dari singa, tapi ayah selalu melarangku untuk mendekati mahluk yang dinamakan manusia itu, sampai aku melihat sendiri manakala tangan-tangan kecil mereka menari mengayun diikuti sabetan parang dimana-mana. Puluhan pohon-pohon kecil tumbang dan menjadikan tempatnya berpijak hamparan dataran. Seorang dari mereka menghadap pohon lebih besar dan mengeluarkan desingan yang tidak aku pahami, beberapa saat kemudian pohon-pohon itupun roboh. Dari sela dedaunan kupandangi dahan-dahan pohon yang tertidur tadi berharap akan berdiri walaupun bergoyang lelah, sama seperti disaat mereka harus tercabik-cabik untuk memberi jalan pada badanku yang besar. Apa yang kunanti tak kunjung tiba, pohon-pohon bertumbangan itu tak pernah bangkit dari tidurnya.
Aku lari sejauh-jauhnya kemudian hilang ditelan hutan.
Beberapa hari berlalu, ingatan tentang manusia mengganggu perasaan ingin tahu pada naluri gajahku, dari balik hutan ini aku mengendus pelan memasang telinga dan mata. Perlahan dahan pohon yang menyentuh tanah tersibak oleh belalaiku. Betapa terkejutnya aku saat melihat kobaran sijago merah yang membahana ke angkasa, ternyata keringnya dahan pepohonan yang telah tumbang dilahap nikmat sang penyala. Belalaiku naik ke langit, pekikku membahana menyambut rasa keterkejutanku. Aku sangat panik saat dua orang manusia itu mendapatiku berada di balik semak.
“Ada gajah . . . ada gajah . . . “ teriak mereka tak terhenti. Salah seorang diantara mereka mengambil dahan pohon dan mengarahkannya kepadaku. Aku tidak tahu apa maksudnya, tapi dahan itu terus ditujukan kepadaku. Aunganku semakin keras memanggil ayah yang sedang minum pada aliran sungai yang tidak jauh dari lahan hutan yang mereka bakar. Aku menangis saat benda besi itu mengenai kulitku yang belum setebal kulit ayah, ternyata seorang yang dari tadi kusangka hilang berada dibelakangku dengan menyodorkan benda besi itu.
Terlintas diingatan saat ibu bercerita bagaimana dua saudara kandungnya tertangkap oleh manusia dan dibawa entah kemana. Aku makin menitiskan air mata, teringat apakah aku akan bernasib sama seperti kedua saudara ibu, apakah aku akan berpisah dengan ibu, oh . . . Tuhan . . tidak. ketakutanku semakin menjadi.
Manusia didepanku memukulkan dahan ranting itu pada belalaiku beberapa kali. Rasa sakit tidak kupedulikan lagi, aku menangis sejadi-jadinya. Ditengah raunganku masih kudengar salah seorang dari mereka menyebutkan tali . . . tali . . .
Aku memang binatang yang berbobot besar, tidak ada binatang lain dimuka bumi ini yang lebih besar dari gajah. Dalam keputusasaanku menghadapi manusia, terlintas kata-kata ayah untuk tidak mendekati manusia. Ah . . . ayah dimanakah dirimu ?!!.
Bagaikan guruh merindukan hujan, seolah pertautan kasih sayang ayah pada anaknya terwujud. Harapanku akan kedatangan ayah laksana menemukan hutan perawan yang menjanjikan kehidupan beratus tahun.  Aku bahagia.
Getaran bumi yang sampai ke perutnya seakan tak sanggup menahan gejolak amarah binatang berbobot puluhan ton ini. Pekiknya membahana disambut beberapa ekor gajah dibelakangnya. Raut kegirangan yang menghiasi wajah kedua manusia itu berubah pias menjadi ketakutan mendalam. Langkah-langkah mereka terseok mundur kebelakang.
Ayah semakin meraung keras dan berlari, serta semakin murka saat melihat beberapa simpulan tali menghiasi anggota tubuhku, dengan mengembangkan kedua telinganya yang besar dan mengangkat ekornya tinggi-tinggi ayah berlari tanpa niat berhenti. Tubuh besarnya menubruk manusia yang terpaku didepannya. Hal yang sama ayah lakukan tatkala memamerkan kekuatannya didepan ibu.
Sosok manusia itu terpental jauh kedepan ayah, tubuhnya yang tidak sebanding ukuran ayah berulang kali menjadi alas berpijak bagi kaki-kaki kokoh ayah. Aku tidak mendapati seorang lagi diantara mereka, tetapi hal itu tidak penting bagiku. Dalam dekapan ibu aku terus menangis berjalan memasuki hutan menjauhi rutukan api yang hampir padam.
Berhari-hari berlalu kami berjalan menyusuri hutan mencari rumah baru. Kelelahan tampak membias pada wajah para gajah terutama ayah sebagai pemimpin rombongan, bilur-bilur kecemasan membekas diwajahnya yang mulai menua.
Dihari ketiga akhirnya kami menemukan rumah baru, tetapi kesenangan bermainku kembali terusik seperti senja ini.
“Kita para gajah tidak pernah kalah seperti halnya dengan hutan ini, sekalipun kita telah diciptakan agar seluruh dahan-dahan pohon tunduk pada kita.” Sahut seekor gajah lain seolah menyetujui usul gajah bergading muda itu.
“Ya . . . benar, kita harus mengajarkan para manusia itu bagaimana akibatnya jika mereka merusak hidup para gajah seperti kita, lihat saja hasil ulah mereka, hutan yang beragam jenis tumbuhan untuk kehidupan kita dan mahluk lainnya dirusak bahkan dihilangkan keberadaannya.”
“Kita tidak melihat lagi kumpulan burung yang biasa menari diatas kepala kita dan berkicau bila pagi tersenyum oleh hadirnya matahari, pada kelinci dan rusa mereka migrasi ke hutan perawan dipedalaman gunung, habitat mereka pun tak kalah kurangnya dari kita.”
Ayah mendesah, “Ya . . . ya . . aku tahu, hutan yang dulu indah kini diganti dengan pohon yang memiliki buah dengan rasa aneh, daunnya pun berduri, dan yang paling aku herankan sungai jernih sumber air mimun kita kini menguning dengan kilauan pelangi diatasnya, bahkan dibeberapa badan sungai airnya hilang sama sekali.”
“Pernah aku mendengar mereka menamakannya dengan pohon kelapa sawit yang dapat menghasilkan minyak.” sahut gajah lainnya.
Bisik-bisik panjang menghiasi pertemuan gajah.
Apa yang dikatakan ayah dan para gajah benar adanya. Puluhan bahkan ratusan hektar hutan tempat hidup kami para binatang seakan disulap menjadi perkebunan sawit, getah bahkan cocoa penghasil coklat. Banyak para kera, babi, orang utan dan binatang lainnya termasuk kami harus berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain guna bertahan hidup. Makanan kini menjadi bahan yang langka, tak jarang para kera dan orang utan tertangkap manusia saat mencoba mengambil hasil coklat, dan mereka juga menghiasi pinggiran jalan besar disisi hutan untuk mencari sisa makanan yang dibuang oleh manusia.
Pepohonan yang ditanami manusia juga membawa sifat majikannya yang tidak meninggalkan bagian alami hutan, termasuk air yang seolah raib ditelan bumi, gemericik aliran air jernih disisi batu curam tidak kutemukan lagi, tanah-tanah bertabur dahan ranting yang gugur bagi rumah para cacing berganti retakan-retakan kuning yang hanya mengizinkan rumputan liar tumbuh disekelilingnya. Sungguh pemandangan yang memilukan, tempat yang menjanjikan kematian.
***
Rencana telah tersusun rapi, ayah tak henti-hentinya mengingatkan pada gajah untuk tidak mengganggu manusia. Misi kali ini, adalah memberi pelajaran kepada manusia bagaimana rasanya jika kehidupan mereka dirusak akibat tangan-tangan mereka sendiri.
Senja itu puluhan gajah dipimpin ayah turun ke perumahan penduduk tempat dimana aku bermain saat masih dipangkuan ibu. Keadaan sungguh berbeda dari ingatanku, semerbak pinus dan aroma gaib dari masing-masing pohon ketika pagi hari, aroma khas hutan kala hujan-hujan yang turun sepanjang malam lalu dikeringkan oleh cahaya matahari maupun bulan hilang tak berbekas tergantikan udara panas yang berlapis lembab pada ujung belalaiku. Dedaunan yang terjulur merendah ke tanah, tenang dalam sujud yang panjang pada Penciptanya, rumput-rumput panjang yang dapat menyembunyikan besar badanku dari panggilan Ibu, kini hanya cukup sebagai alas tempatku berpijak.
Aroma kering dari daun rumbia dan bulir-bulir bambu semakin tajam saat aku mendapati dua deretan kotak-kotak bertangga yang disusun menurut seninya. Gentarnya langkah kaki para gajah tidak dapat ditutupi  oleh lembutnya hembusan angin senja itu. Kemarahan yang dipendam sejak lama karena rasa lapar. Kami para gajah atau binatang manapun akan sengsara jika dilanda penyakit lapar ini bahkan bisa menjadi gila bila terus menerus merasa lapar. Tidakkah manusia itu tau?!
Pekik yang membahana, tampak memudarkan cahaya kegarangan manusia-manusia dalam jarak pandangku. Mereka lari berhamburan dan berteriak, laksana puluhan anak panah yang lepas dari busur yang satu.
“Ada gajah liar . . . .”
“Gajah menyerang . . . selamatkan diri kalian.”
Aungan ayah semakin besar menyalak yang disambut para gajah lainnya. Sejujurnya aku tidak suka dengan kata-kata para manusia yang menyebut kami liar, kami hanya mencoba kembali ke rumah kami dimana tempat ini dulunya adalah hutan alami.
Pekikan para gajah merupakan kolaborasi indah dengan patahan kayu, ranting, dan bambu juga lengkingan manusia. Satu persatu deretan kotak disekitar mereka rubuh, ambruk, tak kuasa menahan senggolan badan dengan berat puluhan ton tersebut. Tumbuhan coklat yang dahannya menari dalam barisan cukup teratur, kini terduduk pasrah memandangi bobot kekar yang terus menggerak-gerakkan kedua telinganya. Barisan itu porak poranda.
Matahari yang lembut kini meredup seakan turut merasakan kesedihan para gajah yang terluka mendapati rumahnya tenggelam entah kemana. Ditengah keperkasaan ayah, masih kulihat pantulan cahaya dari matanya melalui bulir-bulir air. Betapa dalam kesedihannya. Walau kutahu bagi makhluk yang bernama gajah sangat menghargai keperkasaan diri sendiri, tetapi bahkan dalam kondisi seperti ini seekor gajah seperti ayahku terpaksa menangis.
Tidak ada bangunan tersisa yang melebihi tingginya badan para gajah. Semuanya tersungkur bersujud mengakui kehebatan kami senja itu. Masih kulihat manusia-manusia itu bersembunyi dibalik pepohonan, kaki besar ayah bergerak maju mendekati para mahluk yang merengsek jauh menghindari ayah. Belalainya diangkat tinggi-tinggi bersamaan dengan gerakan telinga yang menari dengan angin.
Seketika pekiknya membahana, “Hai manusia, sesungguhnya bukan kami yang menghancurkan tempat tinggal kalian, tetapi kalianlah yang menghancurkan rumah kami.”
Aku tidak paham maksud ayah berbicara seperti itu kepada manusia, dalam kemarahan dan kesedihannya masih ada kata-kata baik diberikan untuk manusia, yang jelas-jelas telah merenggut kebahagiaan para binatang. Aku bahkan yakin mereka tidak pernah mengerti arti dari perkataan ayahku, tetapi ayah tidak memperdulikannya. Setelah dipandangi beberapa saat wajah yang tidak lebih besar dari daun telingaku, tubuh besar itupun berputar arah, dengan sekali aungan dan diikuti puluhan gajah lain melakukan hal yang sama.
“Saatnya kita pulang ke rumah yang baru . . .” kata ayah.
Aku mengikuti langkah ayah tepat dibelakangnya sesekali menoleh wajah lainnya. Bias kesedihan dan lelah tercermin disana. Kuangkat belalaiku dan memukul angin sekerasnya, pekikku membahana disambut beberapa gajah lainnya.
 ***

No comments:

Post a Comment