Guru menulis cerpen? Ya iya lah, nih buktinya.
Walau belum menang tapi sertifikat penghargaan berguna untuk kenaikan pangkat lho..
KETIKA HUTAN MENGHILANG
(by : Safrida Lubis)
Bumi terhentak dan berayun
berulang kali manakala tubuh besar itu mondar mandir dari tempatnya. Pijaran
matahari dari sela dedaunan yang mulai padam, mengundang nyanyian irama
jangkrik dan binatang malam.
Aku masih terdiam tatkala
belalainya yang panjang diangkat dan dipukulkan ke udara, seketika pekiknya
membahana memenuhi seruan hutan ini. Nyanyian binatang malam lenggang sesaat,
seolah-olah mengetahui bahwa raja hutan dalam keadaan marah.
“Tidak bisa dibiarkan begitu
saja” suara ayah memalingkan wajahku. Masih kulihat daun telinganya yang
bergerak-gerak dan ekornya yang terangkat tinggi menandakan betapa kesal
dirinya. Jika bukan karena nada suaranya yang tinggi pasti aku akan
mendekatinya, menjulurkan belalaiku ke badannya yang berkulit tebal diakhiri
tawa riang di wajahnya, serta belalainya yang panjang mengelus kepalaku ke kiri
dan ke kanan karena bagi kami para gajah sama saja dalam mengekpresikan
perasaan marah ataupun gembira.
“Para manusia itu sungguh
keterlaluan, baru dua minggu yang lalu hutan tempat kita tinggal di bagian
barat ditebangi dan dijadikan lahan perkebunan baru, belum sampai satu minggu
kita menetap disini. Perluasan hutan hampir merengsek kurang dari lima ratus
meter dari pemukiman kita.”
Aungan puluhan gajah lainnya
seolah membenarkan apa yang dikatakan ayah.
“Mungkin mereka harus kita
beri pelajaran, biar mereka dapat mengerti bahwa kita juga perlu hidup.” Seekor
gajah bergading muda tetapi tampak lebih tua beberapa tahun dariku mencoba maju
sambil mengangkat belalainya.
Aku tak ingin bersuara, masih
jelas diingatanku saat para mahluk yang dinamakan manusia itu membawa besi-besi
pendek ditangannya yang baru kutahu bahwa benda itu adalah sebilah parang. Tiga
orang yang ukurannya jauh lebih kecil dariku walau aku masih seekor anak gajah
jelas kalah bersaing dalam hal ukuran.
Pagi itu seperti biasa aku
mengikuti langkah ayah untuk mencari kebutuhan makan kami. Hutan adalah
rumahku, pohon yang rimbun, dahan-dahan yang teduh, rumput-rumput yang panjang
seakan perbendaharaan makanan bagi kami para gajah. Aku adalah hewan yang harus
makan satu ton makanan setiap harinya sehingga limpahan makanan dalam hutan
adalah penunjang kehidupan kami.
Ukuran manusia itu tidak lebih
besar dari singa, tapi ayah selalu melarangku untuk mendekati mahluk yang
dinamakan manusia itu, sampai aku melihat sendiri manakala tangan-tangan kecil
mereka menari mengayun diikuti sabetan parang dimana-mana. Puluhan pohon-pohon
kecil tumbang dan menjadikan tempatnya berpijak hamparan dataran. Seorang dari
mereka menghadap pohon lebih besar dan mengeluarkan desingan yang tidak aku
pahami, beberapa saat kemudian pohon-pohon itupun roboh. Dari sela dedaunan
kupandangi dahan-dahan pohon yang tertidur tadi berharap akan berdiri walaupun
bergoyang lelah, sama seperti disaat mereka harus tercabik-cabik untuk memberi
jalan pada badanku yang besar. Apa yang kunanti tak kunjung tiba, pohon-pohon
bertumbangan itu tak pernah bangkit dari tidurnya.
Aku lari sejauh-jauhnya kemudian hilang ditelan
hutan.
Beberapa hari berlalu, ingatan
tentang manusia mengganggu perasaan ingin tahu pada naluri gajahku, dari balik
hutan ini aku mengendus pelan memasang telinga dan mata. Perlahan dahan pohon
yang menyentuh tanah tersibak oleh belalaiku. Betapa terkejutnya aku saat
melihat kobaran sijago merah yang membahana ke angkasa, ternyata keringnya
dahan pepohonan yang telah tumbang dilahap nikmat sang penyala. Belalaiku naik
ke langit, pekikku membahana menyambut rasa keterkejutanku. Aku sangat panik
saat dua orang manusia itu mendapatiku berada di balik semak.
“Ada gajah . . . ada gajah . .
. “ teriak mereka tak terhenti. Salah seorang diantara mereka mengambil dahan
pohon dan mengarahkannya kepadaku. Aku tidak tahu apa maksudnya, tapi dahan itu
terus ditujukan kepadaku. Aunganku semakin keras memanggil ayah yang sedang
minum pada aliran sungai yang tidak jauh dari lahan hutan yang mereka bakar. Aku
menangis saat benda besi itu mengenai kulitku yang belum setebal kulit ayah,
ternyata seorang yang dari tadi kusangka hilang berada dibelakangku dengan
menyodorkan benda besi itu.
Terlintas diingatan saat ibu
bercerita bagaimana dua saudara kandungnya tertangkap oleh manusia dan dibawa entah
kemana. Aku makin menitiskan air mata, teringat apakah aku akan bernasib sama
seperti kedua saudara ibu, apakah aku akan berpisah dengan ibu, oh . . . Tuhan
. . tidak. ketakutanku semakin menjadi.
Manusia didepanku memukulkan
dahan ranting itu pada belalaiku beberapa kali. Rasa sakit tidak kupedulikan
lagi, aku menangis sejadi-jadinya. Ditengah raunganku masih kudengar salah
seorang dari mereka menyebutkan tali . . . tali . . .
Aku memang binatang yang
berbobot besar, tidak ada binatang lain dimuka bumi ini yang lebih besar dari
gajah. Dalam keputusasaanku menghadapi manusia, terlintas kata-kata ayah untuk
tidak mendekati manusia. Ah . . . ayah dimanakah dirimu ?!!.
Bagaikan guruh merindukan
hujan, seolah pertautan kasih sayang ayah pada anaknya terwujud. Harapanku akan
kedatangan ayah laksana menemukan hutan perawan yang menjanjikan kehidupan
beratus tahun. Aku bahagia.
Getaran bumi yang sampai ke
perutnya seakan tak sanggup menahan gejolak amarah binatang berbobot puluhan
ton ini. Pekiknya membahana disambut beberapa ekor gajah dibelakangnya. Raut
kegirangan yang menghiasi wajah kedua manusia itu berubah pias menjadi
ketakutan mendalam. Langkah-langkah mereka terseok mundur kebelakang.
Ayah semakin meraung keras dan
berlari, serta semakin murka saat melihat beberapa simpulan tali menghiasi
anggota tubuhku, dengan mengembangkan kedua telinganya yang besar dan
mengangkat ekornya tinggi-tinggi ayah berlari tanpa niat berhenti. Tubuh
besarnya menubruk manusia yang terpaku didepannya. Hal yang sama ayah lakukan
tatkala memamerkan kekuatannya didepan ibu.
Sosok manusia itu terpental
jauh kedepan ayah, tubuhnya yang tidak sebanding ukuran ayah berulang kali
menjadi alas berpijak bagi kaki-kaki kokoh ayah. Aku tidak mendapati seorang
lagi diantara mereka, tetapi hal itu tidak penting bagiku. Dalam dekapan ibu
aku terus menangis berjalan memasuki hutan menjauhi rutukan api yang hampir
padam.
Berhari-hari berlalu kami
berjalan menyusuri hutan mencari rumah baru. Kelelahan tampak membias pada
wajah para gajah terutama ayah sebagai pemimpin rombongan, bilur-bilur
kecemasan membekas diwajahnya yang mulai menua.
Dihari ketiga akhirnya kami menemukan rumah baru,
tetapi kesenangan bermainku kembali terusik seperti senja ini.
“Kita para gajah tidak pernah
kalah seperti halnya dengan hutan ini, sekalipun kita telah diciptakan agar
seluruh dahan-dahan pohon tunduk pada kita.” Sahut seekor gajah lain seolah
menyetujui usul gajah bergading muda itu.
“Ya . . . benar, kita harus
mengajarkan para manusia itu bagaimana akibatnya jika mereka merusak hidup para
gajah seperti kita, lihat saja hasil ulah mereka, hutan yang beragam jenis
tumbuhan untuk kehidupan kita dan mahluk lainnya dirusak bahkan dihilangkan
keberadaannya.”
“Kita tidak melihat lagi
kumpulan burung yang biasa menari diatas kepala kita dan berkicau bila pagi
tersenyum oleh hadirnya matahari, pada kelinci dan rusa mereka migrasi ke hutan
perawan dipedalaman gunung, habitat mereka pun tak kalah kurangnya dari kita.”
Ayah mendesah, “Ya . . . ya .
. aku tahu, hutan yang dulu indah kini diganti dengan pohon yang memiliki buah
dengan rasa aneh, daunnya pun berduri, dan yang paling aku herankan sungai
jernih sumber air mimun kita kini menguning dengan kilauan pelangi diatasnya,
bahkan dibeberapa badan sungai airnya hilang sama sekali.”
“Pernah aku mendengar mereka menamakannya dengan
pohon kelapa sawit yang dapat menghasilkan minyak.” sahut gajah lainnya.
Bisik-bisik panjang menghiasi
pertemuan gajah.
Apa yang dikatakan ayah dan
para gajah benar adanya. Puluhan bahkan ratusan hektar hutan tempat hidup kami
para binatang seakan disulap menjadi perkebunan sawit, getah bahkan cocoa
penghasil coklat. Banyak para kera, babi, orang utan dan binatang lainnya
termasuk kami harus berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain guna
bertahan hidup. Makanan kini menjadi bahan yang langka, tak jarang para kera
dan orang utan tertangkap manusia saat mencoba mengambil hasil coklat, dan
mereka juga menghiasi pinggiran jalan besar disisi hutan untuk mencari sisa
makanan yang dibuang oleh manusia.
Pepohonan yang ditanami
manusia juga membawa sifat majikannya yang tidak meninggalkan bagian alami
hutan, termasuk air yang seolah raib ditelan bumi, gemericik aliran air jernih
disisi batu curam tidak kutemukan lagi, tanah-tanah bertabur dahan ranting yang
gugur bagi rumah para cacing berganti retakan-retakan kuning yang hanya
mengizinkan rumputan liar tumbuh disekelilingnya. Sungguh pemandangan yang
memilukan, tempat yang menjanjikan kematian.
***
Rencana telah tersusun rapi,
ayah tak henti-hentinya mengingatkan pada gajah untuk tidak mengganggu manusia.
Misi kali ini, adalah memberi pelajaran kepada manusia bagaimana rasanya jika
kehidupan mereka dirusak akibat tangan-tangan mereka sendiri.
Senja itu puluhan gajah
dipimpin ayah turun ke perumahan penduduk tempat dimana aku bermain saat masih
dipangkuan ibu. Keadaan sungguh berbeda dari ingatanku, semerbak pinus dan
aroma gaib dari masing-masing pohon ketika pagi hari, aroma khas hutan kala
hujan-hujan yang turun sepanjang malam lalu dikeringkan oleh cahaya matahari
maupun bulan hilang tak berbekas tergantikan udara panas yang berlapis lembab
pada ujung belalaiku. Dedaunan yang terjulur merendah ke tanah, tenang dalam
sujud yang panjang pada Penciptanya, rumput-rumput panjang yang dapat
menyembunyikan besar badanku dari panggilan Ibu, kini hanya cukup sebagai alas
tempatku berpijak.
Aroma kering dari daun rumbia
dan bulir-bulir bambu semakin tajam saat aku mendapati dua deretan kotak-kotak
bertangga yang disusun menurut seninya. Gentarnya langkah kaki para gajah tidak
dapat ditutupi oleh lembutnya hembusan
angin senja itu. Kemarahan yang dipendam sejak lama karena rasa lapar. Kami
para gajah atau binatang manapun akan sengsara jika dilanda penyakit lapar ini
bahkan bisa menjadi gila bila terus menerus merasa lapar. Tidakkah manusia itu
tau?!
Pekik yang membahana, tampak
memudarkan cahaya kegarangan manusia-manusia dalam jarak pandangku. Mereka lari
berhamburan dan berteriak, laksana puluhan anak panah yang lepas dari busur
yang satu.
“Ada gajah liar . . . .”
“Gajah menyerang . . .
selamatkan diri kalian.”
Aungan ayah semakin besar
menyalak yang disambut para gajah lainnya. Sejujurnya aku tidak suka dengan
kata-kata para manusia yang menyebut kami liar, kami hanya mencoba kembali ke
rumah kami dimana tempat ini dulunya adalah hutan alami.
Pekikan para gajah merupakan
kolaborasi indah dengan patahan kayu, ranting, dan bambu juga lengkingan
manusia. Satu persatu deretan kotak disekitar mereka rubuh, ambruk, tak kuasa
menahan senggolan badan dengan berat puluhan ton tersebut. Tumbuhan coklat yang
dahannya menari dalam barisan cukup teratur, kini terduduk pasrah memandangi
bobot kekar yang terus menggerak-gerakkan kedua telinganya. Barisan itu porak
poranda.
Matahari yang lembut kini meredup
seakan turut merasakan kesedihan para gajah yang terluka mendapati rumahnya
tenggelam entah kemana. Ditengah keperkasaan ayah, masih kulihat pantulan
cahaya dari matanya melalui bulir-bulir air. Betapa dalam kesedihannya. Walau
kutahu bagi makhluk yang bernama gajah sangat menghargai keperkasaan diri
sendiri, tetapi bahkan dalam kondisi seperti ini seekor gajah seperti ayahku
terpaksa menangis.
Tidak ada bangunan tersisa
yang melebihi tingginya badan para gajah. Semuanya tersungkur bersujud mengakui
kehebatan kami senja itu. Masih kulihat manusia-manusia itu bersembunyi dibalik
pepohonan, kaki besar ayah bergerak maju mendekati para mahluk yang merengsek jauh
menghindari ayah. Belalainya diangkat tinggi-tinggi bersamaan dengan gerakan
telinga yang menari dengan angin.
Seketika pekiknya membahana,
“Hai manusia, sesungguhnya bukan kami yang menghancurkan tempat tinggal kalian,
tetapi kalianlah yang menghancurkan rumah kami.”
Aku tidak paham maksud ayah
berbicara seperti itu kepada manusia, dalam kemarahan dan kesedihannya masih
ada kata-kata baik diberikan untuk manusia, yang jelas-jelas telah merenggut
kebahagiaan para binatang. Aku bahkan yakin mereka tidak pernah mengerti arti
dari perkataan ayahku, tetapi ayah tidak memperdulikannya. Setelah dipandangi
beberapa saat wajah yang tidak lebih besar dari daun telingaku, tubuh besar
itupun berputar arah, dengan sekali aungan dan diikuti puluhan gajah lain
melakukan hal yang sama.
“Saatnya kita pulang ke rumah yang baru . . .”
kata ayah.
Aku mengikuti langkah ayah
tepat dibelakangnya sesekali menoleh wajah lainnya. Bias kesedihan dan lelah
tercermin disana. Kuangkat belalaiku dan memukul angin sekerasnya, pekikku
membahana disambut beberapa gajah lainnya.
***
No comments:
Post a Comment