Guru kreatif harus bisa menulis banyak hal dan banyak menulis. Tidak salah kan...
Kisah ini berlatar belakang kejadian tsunami di aceh 2004 silam, salah satu pulau kecil di kota langsa berpenduduk padat yaitu pusong menurut cerita masyarakat tidak menimbulkan banyak korban jiwa, padahal dia adanya di tengah lautan, saat saya mengunjunginya karena sesuatu hal hanya batas pantainya saja yang sudah menghilang beberapa meter dan saat itu dalam masa perbaikan.
Penelitian yang dilakukan maulana (peran mahasiswa), telah dilakukan oleh mereka yang saya lupa siapa karena artikelnya saja yang saya baca dan masuk dalam kategori perlombaan menulis karya ilmiah tahu 2005.
Dibaca ya....
MANGGROVE
(by : Safrida Lubis)
Maulana
memutar–mutar pena dijarinya, sesekali badannya ditegakkan bersandar pada kursi
dibelakang meja belajarnya. Diperhatikan kembali coretan kertas yang belum
penuh. Dia pun mendesah panjang. Beberapa buku dan catatan yang masih terbuka
menjadi pusat matanya terfokus. Sesaat kemudian, seperi terinspirasi dengan
kata–kata yang dibacanya senyumnya mengembang pena yang sedari tadi berputar
kini mendarat dilandasan kertas untuk menari dan menari terus menari, hingga akhirnya
berhenti.
“Selesai..”
gumamnya pelan.
Diletakkan
pena dengan cepat dan menaikkan kertas yang telah terisi coretan. Bagaikan
dentingan jam dinding, kini ekor matanya bergerak cepat mengikuti tulisan yang
menghiasi lembaran didepannya. Dalam diam Maulana merasa puas dengan hasil
kerjanya. Pagi ini draft kegiatan serta pertanyaan, sebagai bahan penelitian
untuk skripsinya rampung sudah. Ini ketiga kalinya setiap pagi dia duduk di
bangku belajarnya dalam ruangan kamar sederhana.
Mulutnya
menguap sesekali. Dia menoleh pada arloji kecil didepannya. Sesaat kemudian
tangannya menutup lembaran buku dan kertas, kemudian menyusunnya di pinggiran
meja, langkahnya pelan menuju kasur, lalu iapun merebahkan tubuhnya. Maulana
manahan rasa kantuknya, dia mulai menutup mata. Tak lama terdengar samar
ditelinga kokok ayam jantan yang disambut suara menggema di kala subuh. Maulana
enggan berbaring lagi, tubuhnya diangkat dengan cepat, dia bergegas menuju
pintu dan keluar.
“Hari
ini aku harus menyelesaikan sesuatu.” Bisiknya pasti.
***
Menjadi
mahasiswa tidak segampang saat masih dikatakan siswa. Setelah melewati delapan
semester pada fakultas pertanian dan kehutanan di salah satu universitas
negeri, Maulana harus melaksanakan penelitian untuk kemudian di laporkan dalam
bentuk skripsi.
Terinspirasi
dari kejadian tsunami aceh, di salah satu daerah Aceh bagian timur dengan
sedikit jumlah korban, Maulana pun menjadikan hal tersebut sebagai permasalahan
untuk dikaitkan kedalam judul skripsinya. Masih terbayang kata–kata dosen
pembimbingnya tentang masalah yang di ajukan, saat itu pak Kahar membenarkan letak
kacamatanya bergantian menatap antara tulisan dan wajahnya.
“Apa
yang kamu mau cari disana?! Di daerah sekitar kitakan banyak, kenapa harus
jauh-jauh?” Gumamnya.
“Begini
pak, tragedi aceh masih segar diingatan semua orang, jadi saya ingin melihat dan
membuktikan apakah ada pengaruhnya dengan perbedaan hutan disana, jika benar karena
adanya ekosistem manggrove dapat menghambat laju gelombang tsunami, apa
salahnya nanti menjadi masukan pada wilayah Aceh lainnya agar pada pesisir
pantai, ekosistem manggrove bisa di budidaya.” Tegas Maulana yang membuat
kepala pembimbing didepannya mengangguk.
“Ya...
ya... bagus juga. Oke saya harap hasilnya nanti dapat memuaskan.”
Tangan
itupun kemudian menari dilembaran depan proposal yang Maulana ajukan.
“ACC
tanggal 12 April 2010.” Maulana tersenyum. Dia pun memulai penelitian ini
dengan mempersiapkan segala sesuatu, juga tentang perjalanannya selama kurang
lebih delapan jam untuk sampai pada wilayah Aceh bagian timur.
Memasuki
hari kedua belum ada hasil yang signifikan berhubungan dengan penelitiannya, hatinya mulai gusar, usahanya
menyebarkan angket pada masyarakat sekitar pantai, masih terbatas dikarenakan
kemampuan baca tulisnya minim. Sehingga hari ini dia mencoba mengganti metode
yang dipakai dengan melaksanakan survei lapangan. Untuk mandapatkan hasil
Maulana memilih pulau yang berada di wilayah kota Langsa bernama Telaga Tujoh
dan Pusong, yang letaknya di tengah lautan tetapi dapat di tempuh selama empat
puluh lima menit dari Pelabuhan Kuala Langsa.
“Inilah
yang dinamakan hutan bakau disini” sambil menunjuk kearah kiri dan kanan.
Suardi anak kepala desa pulau Pusong bersedia menemani Maulana berkeliling.
Maulana mendengarkan dengan seksama apa-apa yang disampaikan Suardi. Tangannya
pun tak lepas menekan tombol kamera yang tergantung di lehernya.
Melalui
lensanya, Maulana dapat menyaksikan indahnya panorama dedaunan tumbuhan
Manggrove yang bergoyang di terpa angin, di sokong oleh batang-batang kekar
dan akar yang menyembul keluar.“Ah ... Inilah yang disebut akar nafas.”
Batinnya. Kepala Maulana berkeliling mencari-cari objek lain yang mungkin
menarik.
“Menurutmu
yang tumbuh disini hanya bakau saja.”
“Yah..
Pasti tidak. Akupun tidak tahu banyak nama-nama tumbuhan disini, tapi
sebagiannya mempunyai kemiripan satu sama lainnya.” Suardi mengangkat kedua
bahu, diiringi perubahan raut wajahnya.
“Sebenarnya
apa yang kau cari.” Selidik Suardi.
Maulana
membuka tas ranselnya mengeluarkan buku kecil dan membukanya.
“aku
mencari data penelitianku. Tentang kehidupan Manggrove dipulau ini dan ingin
mengetahui hubungannya dengan kenaikan air pasang laut, juga mencari
jenis-jenis tumbuhan yang hidup berdasarkan ciri-ciri mereka,seperti ini.”
Maulana kembali menyimpan bukunya setelah Suardi melihat beberapa lembaran yang lebih menampilkan gambar.
“Pasti
ada hubungannya dengan tsunami?”
“Benar.”
Maulana mengangguk.
“Perlu
kau ketahui Pusong ini dikelilingi hutan Bakau setiap lingkungannya, tapi
kerapatannya tidak sebanding dengan Telaga Tujoh, disana lebih rapat, karena
tidak ada penduduk. Sedangkan Pusong ini, cukup sehari saja kita berjalan kaki
nantinya, maka kau telah habis mengelilingi wilayah seluas 6 km persegi dari
seluruh daerah ini.”
“Hanya
seluas itukah?” Maulana terpana.
“Benar,
apalagi Telaga Tujoh, hanya seluas 3,4 km persegi.”
“Apakah
ada Telaga yang jumlahnya Tujuh disana?”
“”Benar,
konon hanya orang tertentu yang dapat melihatnya, aku juga belum pernah kesana,
hutan disana hanya dipenuhi kera dan binatang lainnya.” Jelas Suardi.
“Lalu,
apakah ada korban di Pusong ini saat tsunami terjadi?” Tanya Maulana.
Dengan
tersenyum suardi menjawab, “Pohon-pohon inilah yang melindungi kami. Gelombang
ombak yang setinggi pohon kelapa itu pecah saat mendekati tumbuhan ini, dan hanya
tinggi gelombang yang mencapai satu meter yang mengenai rumah penduduk,
sehingga gelombang ombak yang sampai pada perumahan penduduk boleh dikatakan hanya
pecahannya saja. Ada juga yang merusakkan rumah, tapi tidak sampai menimbulkan
korban luka.”
“Aku
sudah menghitung tadi, banyaknya pohon bakau dari batas daratan ke garis pantai sebanyak 125 batang.”
Suardi
tertawa, “Apa itu perlu?”
“Ya...
untuk data penelitianku.” Maulana tersenyum.
“Berarti
dengan kerapatan bakau sebanyak 125 batang bisa memecahkan ombak setinggi 5
meter menjadi satu meter, apalagi jika kerapatan yang lebih padat.” batinnya.
Maulana
tak henti mencatat dikepalanya apa-apa yang dikatakan Suardi, handphone yang
berfungsi juga sebagai rekaman membantu proses penelitiannya.
“Tapi
sepertinya banyak akar-akar bakau sisa penebangan, apa itu dibenarkan?”
Suardi
tersenyum, “Sebenarnya sih tidak, apalagi setelah manfaat yangt dirasakan
penduduk Pusong 2004 lalu, tapi penduduk mengambilnya untuk keperluan mereka
sehari-hari. Misalnya bahan bangunan, pembuatan kapal, untuk kayu bakar, arang
dan lainnya.”
“Apa
tidak ada upaya yang dilakukan oleh ayahmu?”
“Maksudmu?”
Suardi mengernyitkan dahi.
“Seperti
penanaman ulang kembali misalnya”
“O...
setahuku tidak ada, masyarakat disini sebagian besar hanya melakukan penebangan
saja”
Maulana
terpaku melihat deretan akar bakau yang menonjol tanpa batang induk berdaun
rimbun hampir sepanjang dua puluh meter di depannya.
“Itu
hutan yang telah rusak.” Suardi menjelaskan.
“Dahulu
rimbun juga seperti hutan bakau yang itu”.
Kepala
Maulana mengikuti arah mata angin yang ditunjukkan Suardi. “Hutan Manggrove
yang lebat tanpa ada yang berani lewat dengan aman di dalamnya. Akarnya saling
membentuk busur lingkaran,
mungkin tempat yang nyaman untuk para ikan dan kepiting juga hewan lainnya,
tapi yang pasti tidak nyaman untuk Maulana.” Pikirnya.
“Terkadang
ada juga keinginan untuk menahan tindakan mereka, tapi aku tidak punya
kekuatan, aku hanya anak muda sama sepertimu Maulana.” Kesalnya.
“Tapi
kita masih punya harapan untuk melakukan sesuatu dari sekarang.”
“Misalnya
apa?”
“Seperti
yang aku katakan tadi menanam ulang kembali.” Maulana antusias.
“Baiklah
, mungkin akan ku coba.”
Sambil
berjalan santai sesekali kilatan blitz dan kamera Maulana mengisi suasana pagi
menjelang siang itu. Maulana berhenti pada beberapa bibir pantai dan memberi
tanda dengan menancapkan tongkat kayu yang dibawanya sejak tadi.
“Untuk
apa kau melakukan itu?” tanya Suardi heran.
Maulana
tersenyum, “Aku ingin melihat perbedaan ketinggian pasang surut air laut pada
beberapa pantai yang memiliki hutan manggrove dan tidak.”
“Maksudmu
melihat apa?! Disana hanya ada gelombang yang masuk sampai ke pantai.” Tannya Suardi
keheranan.
“Iya...
Apakah nanti ada yang masuk sampai kerumah penduduk atau tidak.”
Suardi
menggelengkan kepala, “Aku heran, hal seperti itu harus diukur. Padahal setiap
saat aku melihat pasang surut air laut, tapi aku tidak pernah memikirkannya.
Aku anggap itu hal yang biasa saja, hanya fenomena alam, benarkan?! Kamu
seorang mahasiswa, harus jauh-jauh datang kemari hanya untuk mengukur ini?”
Maulana
terkekeh, “Itulah tugas mahasiswa Suardi.” Jawabnya singkat. Maulana kembali
menggunakan kameranya untuk mengambil gambar tiap tongkat yang telah
ditanamnya.
“Kamu
akan meninggalkannya disitu?”
“Iya..
Besok kita akan kembali melihatnya.”
Matahari
hampir tepat diatas kepala, keduanya bergegas kembali ke rumah. Setelah di
rasakan perut yang mulai keroncongan.
***
Nasi
dan berbagai hidangan laut telah tersedia diatas anyaman tikar pandan. Ibu
Suardi menatap Maulana yang terheran.
“Ini
tiram namanya, seperti kerang laut yang lainnya.” Jelas ibu Suardi.
“Saya
tidak pernah melihat kerang sebesar ini bu.!” Tegas Maulana.
“Makanlah,
ayo di coba.” Kata Pak Rahmat, bapaknya Suardi mempersilahkan saat Maulana
mengambil sesendok tiram yang terasa lezat dengan irisan cabai hijau, tomat,
dan bawang.
“Tiram
ini salah satu hasil laut selat Malaka ini.” Gumam Suardi.
“Tapi
ukurannya yang hampir setelapak tangan balita membuat saya terkejut, pak , bu.”
Ketiga
orang di depannya terkekeh.
“Dahulu
ada yang ukurannya lebih besar dari ini lho nak...” jawab ibu. “Lima belas
tahun yang lalu, saat kami pindah kemari hutannya masih luas, penduduknya juga
belum banyak ya pak, tapi ikan dan hasil lautnya cukup melimpah, tidak seperti
sekarang ini, terlebih lagi setelah Tsunami.”
Pak
Rahmat mengangguk, “Benar, sekarang saja pulau ini sudah padat, hampir delapan
ratus kepala keluarga yang tinggal, sedangkan pulau ini bagian-bagian
pinggirnya mulai terkikis karena abrasi, malah tidak sedikit rumah yang hanyut
terbawa abrasi.”
“Tindakan
yang bapak lakukan bagaimana pak?”
“Sebagian
besar penduduk sudah menempati rumah-rumah yang diberikan pemerintah sebagai
relokasi baru, tapi sebagian besar masih menetap disini, dengan alasan
bermacam-macam. Sebagai tempat cari nafkah misalnya.” Sela Suardi.
“Tapi
saya bersyukur jika tidak ada penduduk lagi di pulau ini, maka penelitian saya
tidak berhasil pak. Selain tidak ada saksi tempat saya bertanya, juga tidak ada
keluarga yang berbaik hati seperti bapak yang mengijinkan saya menginap selama
meneliti.”
Keempat
orang itu tergelak dalam tawa, “Ya... Ya... Benar.” Pak Rahmat mengangguk.
***
Sebulan
lebih Maulana berkeliling di pulau ini, hasil wawancara dengan beberapa
penduduk lokal telah memenuhi catatan dikepalanya, tak sabar menuangkannya
kedalam kertas kembali dalam bentuk laporan yang terperinci. Data tentang
tingginya pasang surut di dua daerah terpisah telah diperoleh pada beberapa
titik dari titik terendah dua meter sampai dengan limabelas meter.
Perbedaan
kerapatan Manggrove yang signifikan juga terjadi di kedua pulau itu. Telaga
Tujoh yang tak berpenghuni memiliki ekosistem Manggrove lebih padat dengan setiap
meternya sampai 10 batang sangat berbeda dengan Pulau Pusong yang hanya
memiliki 3 sampai 5 batang saja.
Maulana
melangkahkan kaki pada pematang tambak buatan dengan tersenyum, ratusan bibit
bangkanya telah tersusun rapi dalam polybet hitam kecil. Matanya berbinar menatapi
pucuk-pucuk yang mulai tampak menyembulkan tunas. Usahanya bersama Suardi dalam
sosialisasi kepada masyarakat boleh dikatakan berhasil, kini tunas-tunas baru
bermunculan di hadapannya, menunggu tangan selanjutnya untuk tumbuh
menggantikan batang-batang yang tak bertunas lagi.
“Jadi,
kapan kau akan berangkat”
Maulana
menatap Suardi, “Besok, terima kasih atas segalanya.”
Keduanya
membisu memandangi tunas bakau. Samar deru ombak menemani matahari melunturkan
noda merah yang berubah menjadi gelap.
***
membaca cerpen yang saudari tulis, membuat saya ingin kembali explor ke pusong island :)
ReplyDeletesalam : muhammadarafat