Menjadi penjaga mesjid? Pekerjaan itu ternyata sangat mulia, kisah ini benar adanya, terjadi di salah satu kampung di Aceh dan saya dengar langsung dari tengku ngaji yang merupakan teman dari sang penjaga mesjid, saya tuturkan dalam cerpen tidak lain untuk menguji kelihaian menulis saya sendiri.
Semoga berkesan ya.....
SELOP INDAH PENJAGA MESJID
Kukuruyuuuk . . . . . . . . .
Seperti biasa kakek bersiap-siap pergi ke mesjid disaat sebagian besar
mahluk bumi terlelap dibawah selimutnya. Di dua pertiga malam menjelang shubuh
langkah gontainya selalu menghiasi permukaan lantai kayu rumah ini, derit
halusnya selalu membuatku terjaga sesaat kemudian tertidur kembali. Seperti
pagi ini dan pagi sebelumnya kaki kurusnya melangkah pelan berjalan gontai dari
rumah hingga ke pintu mesjid yang jaraknya melewati beberapa rumah penduduk.
“ Aku pergi ya !”. Pesannya kepada nenek yang setia menyuguhkan kopi hangat
sebelum keberangkatan kakek. Kesepian pun kembali datang saat kakek
meninggalkan rumah diikuti bunyi deritan pintu pada engsel-engselnya.
Kakek adalah sosok yang bersahaja bagiku. Tubuhnya yang renta tak
menampakkan bahwa penyakit menyapanya. Ucapannya selalu berkisar tentang agama,
kehidupannya juga cukup sederhana walau beliau pensiunan Pertamina, tetapi saat
tua, kemegahan harta seperti tak pernah singgah dalam hidupnya. Beliau lebih
memilih pulang kampung, tinggal dirumah warisan orang tua dan bekerja sesuai
tenaga yang masih dimilikinya. Pernah satu pagi, aku ikut kakek sekedar ingin
tahu apa yang dilakukan kakek pada pagi buta seperti ini, dan tentunya saat
hari libur sekolah.
Dalam sedikit kesadaran dan setengah tertidur terasa udara dingin mengusik
tubuh kecilku mengiringi langkah kakek. Jika bukan tangan kiriku dalam
genggamannya mungkin aku sudah berulang kali terjatuh disebabkan rasa kantuk
yang mendalam. Petuah ucapannya menemani langkah mengisi perjalanan menuju
mesjid Taqwa, ada rasa indah tersendiri bila kukenang.
“Setiap langkah kita ini dihitung pahalanya Rul, pohon, batu, tanah, dan
rumput yang kita lalui juga mendo’akan kebaikan untuk kita, karena mereka tahu
kita sedang melangkah ke rumah Tuhan”. Kata-katanya yang kurang jelas
disebabkan kakek berbicara dengan menggunakan udara dalam hidung, kadang-kadang
membuat aku berfikir keras untuk memahami maknanya, tetapi semenjak kehilangan
ayah dan ibu pada Tsunami lalu, aku pun menetap dirumahnya sampai sekarang
sehingga banyak juga kata-katanya yang dapat aku mengerti. “ Terlebih lagi
disaat pagi seperti ini, biasakanlah bangun malam untuk mengingat Tuhan tatkala
manusia lain masih tertidur, apapun yang yang kita minta pasti akan diberikan
dan jangan lupa kita juga disaksikan malaikat shubuh yang mengatur rezeki tiap
harinya”. Langkah kecil kaki ini terus dituntun sosok bersahaja itu sampai
akhirnya. “Kita sudah sampai Rul, kamu duduk aja disitu “. Lanjutnya. Sambil
menguap kecil akupun berjalan menuju teras dan duduk dengan bersandarkan satu
pilar mesjid. Dengan mata yang sedikit terpejam kuperhatikan apa saja yang
dilakukan kakek dengan tubuh kurusnya itu. Pagi yang dingin terasa mengusik
kulit tipis ini tapi kurasa berbeda halnya dengan kakek. Langkahnya menjadi cekatan
dimulai dari membuka pintu mesjid, menghidupkan lampu, air, dan mulai berjalan
ke tempat pengambilan air wudhuk disebelah kanan mesjid. Dengan gigih beliau
mulai menyikat, menyiram air, membersihkan bagian-bagian kamar mandi yang
terlihat kotor.
Setelah selesai, tertatih tangan yang dulunya kekar menjinjing seember
kecil air untuk dimasukkan kedalam mesjid, dibantu dengan alat pel yang berdiri
terbalik pada sisi tiang ujung teras mesjid, mulailah kakek mengepel setiap
sudut setelah disapu terlebih dahulu.
Mataku yang terkantuk-kantuk sesekali tertutup dan terbuka kembali, masih
kulihat kakek menuju bak air meletakkan peralatan yang digunakan tadi dan
diteruskan dengan membasuh wajahnya.
“Rul, ayo sini ambil wuduk”. Tangannya melambai memanggil, akupun berjalan
menghampiri. Tiada sepatah kata menemani aku dan kakek berwudhuk, kata kakek
tidak boleh. Hal tersebut bisa mengurangi pahala nantinya. Aku segera
menyudahi, dinginnya suhu air di pagi ini mengurungkan niat untuk berlama-lama.
Saat memasuki mesjid tak lama Pak Ali, Imam Kampung datang.
“Wah, saya telat lagi hari ini, Pak Man selalu lebih cepat dari saya, mungkin
Pak Man tidak tidur ya!”.
Senyuman renyah tersungging di bibir kakek.
“Enggak Pak, kebetulan saya tadi bangunnya cepat, jadi saya langsung
berangkat”.
“Lho Irul ikut juga, nggak ngantuk nanti sekolah?”. Tangan kirinya masih
terlihat sibuk membuat lipatan kecil pada lengan satunya.
“Hari ini kan hari minggu Pak”. Jawabku singkat yang membuat kepala Pak Ali
mengangguk-ngangguk.
“Yah.. maklum orang tua banyak lupanya”. Kini terlihat tangan kanannya yang
menari.
“Saya ambil wudhuk dulu Pak Man”.
“Ya . . . ya..silahkan”. Anggukan kepala kakek mengulangi anggukan Pak Ali.
Seusai shalat sunat yang kami kerjakan, menjelang shubuh kakek menghidupkan
radio dengan putaran kaset yang melantunkan ayat alquran dan saat masuk waktu
shubuh kakek segera mengumandangkan azan untuk menyadarkan manusia dari
tidurnya. Warga pun mulai berdatangan satu-satu, kuperhatikan mereka yang hadir
tidak seramai saat shalat di hari jum’at. Sangat tidak menyenangkan mendengar
lantunan azan yang berkumandang dari suara kakek yang teman-temanku bilang
bindeng, karena suara yang keluar seperti tertahan didalam hidung. Walaupun demikian,
kampung ini selalu dihiasi dengan lengkingan suaranya saat masuknya waktu
shalat wajib. Sebagai penjaga mesjid kakek memegang kunci mesjid yang
mengharuskan kehadirannya lebih awal dari warga-warga yang lain, dan hal itu
selalu dilaksanakannya sehingga tak jarang pujian dari warga dan Pak Ali sering
terdengar saat bersantai di mesjid menunggu shalat berikutnya atau hanya
sekedar melepas lelah.
“Saya tidak habis pikir, Pak Man selalu datang awal setiap masuk waktu
shalat, banyak sekali pahala yang Bapak kumpulkan”.
Kata-kata Pak Ali membuat kakek terkekeh.
“Saya sudah tua pak, bekerja keras seperti dulu sudah tak bisa, menjaga
kebersihan mesjid ini atas permintaan warga, apa salahnya kalau saya memberikan
yang terbaik, dirumahpun tidak ada kerja yang mengganggu, jadi tidak
memberatkan kalau awal waktu saya sudah berada disini, sambil nunggu-nunggu
panggilan”. Kakek terkekeh lagi diikuti Pak Ali.
“Ya . . . ya . . kita yang tua ini mau kemana lagi kalau bukan disini, umur
tinggal sejengkal lagi memasuki liang lahat, beda dengan kamu ya Rul, kamu
masih kecil, kelas berapa sekarang?”.
“Kelas enam Pak”. jawabku polos.
“Kamu mau seperti kakek yang setia menjaga mesjid Rul”. kata Pak Ali
sejurus kemudian.
“Mau Pak, tapi Irul sering ngantuk kalau bangun pagi, apalagi harus bangun
seperti kakek, tadi aja tertidur ditiang itu”. Sambil menunjuk tiang tempat
bersandar tadi.
Kekehan dua kakek ini membuatku tersenyum malu sekaligus bahagia disamping
mereka.
“Rul . . . rul . . .”. Kata kakek sambil memegang kepalaku.
***
Siang ini seperti biasa kakek bersiap menuju mesjid untuk menunaikan shalat
jum’at.
“Cepat Rul . . . nanti kakek terlambat”. Panggilan kakek terasa pelan walau
sebenarnya beliau telah menjerit saat aku masih di dalam kamar.
“Iya . . . kek bentar!”. Sesaat kemudian aku berjalan keluar mengikuti
langkah kakek menuju mesjid.
Saat berjalan belum aku jumpai warga lain yang melintas dengan tujuan sama.
Sesampai di mesjid aku melirik jam dan masih terlalu lama waktu menunjukkan
shalat jum’at. Cukup lama aku dan kakek berada di dalam mesjid. Kata kakek
beri’tikaf atau berdiam diri dalam mesjid mendapat pahalanya tersendiri.
Seiring waktu berjalan, kaum lelaki yang mengisi tiap barisan akhirnya
ramai dan shalat telah sampai waktu untuk dilaksanakan. Setelah shalat selesai
barisan shaf belakang dari bagian anak-anak mulai meyebar ke seluruh pintu
mesjid menuju keluar. Aku tetap diam di sudut tempatku berdiri, menunggu
kehadiran kakek. Biasanya seusai shalat jumat seperti ini aku dan kakek pulang
kerumah bersama iringan warga lainnya. Tapi kali ini lumayan lama aku menunggu,
kegaduhan kecil yang terjadi di dalam mesjid menuntun rasa ingin tau untuk
mendekatinya.
“Bagaimana ini”
“Pak Man . . . Pak . . . !”
“Aduh ada apa ya . . !”
“Mungkin Pak Man tertidur, Pak . . . Pak . . .”
Segera aku melangkah menuju keramaian suara yang memanggil nama kakekku.
Aku melihat Pak Ali menggoyang-goyangkan tubuh kakek yang masih dalam keadaan
bersujud.
“Sejak kapan Pak Man seperti ini”. Kata Pak Ahmad tetangga sebelahku.
“Sejak sujud terakhir pak, saya disisi kanan beliau tadi”. Jawab Pak Salim.
“Iya saat sujud terakhir, setelah itu beliau tetap seperti itu”
Saya pikir beliau memperbanyak tasbihnya jadi saya biarkan saja sampai dia
selesai “. Jawab Bang Adi yang kemudian dilanjutkan dengan mengatakan bahwa
beliau berdiri dikiri kakek.
“Tolong bantu saya membaringkan beliau”. Sahut Pak Ali yang disambut
anggukan lainnya, dengan serta merta beberapa orang membaringkan kakek dalam
posisi terlentang. Beberapa orang tua memeriksa keadaan kakek atas permintaan
Pak Ali. Wajah cemas membayangi semua yang hadir tidak terkecuali aku. Setelah
golongan orang tua yang memeriksa kakek tadi menggelengkan kepala, terdengar
gemuruh pelan dalam mesjid.
“Innalillahi Wainnailaihi Raajiuun . . . .”
Aku meneteskan air mata, mematung di salah satu sisi para lelaki dewasa.
Kehadiranku ditangkap cepat oleh mata Pak Ali, dengan membuka kerumunan orang
yang mulai memadati tempat kami berdiri, tubuh tua itu menyandarkan kepalaku
yang hanya setinggi pinggangnya.
Aku tahu kakek telah meninggal, ada tusukan di hati ini dengan rasa sakit
tak terbilang, lelaki tua yang menggantikan sosok ayah bagiku, lengkingan
azannya, nasehat dan kerja kerasnya tak kenal lelah untuk mesjid disaat usianya
yang tua.
“Sabar ya nak . . .”. Tangan Pak Ali masih mengacak-acak rambutku yang
masih dilapisi kopiah tipis.
Beberapa saat kemudian tubuh kakek telah dibawa pulang kerumah yang
disambut isak tangis keterkejutan nenek, tangisanku pun makin pecah dalam
dekapannya.
Kakek dimandikan dengan cepat, dikafankan, dan dibawa kembali ke mesjid
untuk disembahyangkan. Setelah selesai, iring-iringan
tetangga menghantarkan kakek pada Peristirahatan terakhirnya.
Aku dan nenek terpekur lama di batu nisan. Saat semua iring-iringan sudah
pulang.
“Ah . . . kakek siapa yang menemaniku menjaga Irul”. desis nenek pelan
dengan air mata yang masih menganak sungai.
***
Dua hari kepergian kakek, siang ini aku masih terduduk disudut teras mesjid
mencoba berlindung dari sengatan matahari.
Masih terlintas diingatanku perkataan kakek.
Kekek bilang mengumandangkan azan pahalanya sangat besar, kakek aja yang
mempunyai suara bindeng sangat senang azan walaupun mungkin orang yang
mendengarnya tidak suka.
Beragam pertanyaan tanpa jawaban muncul seketika dan keinginan menjadi seperti
kakek menepiskan ragu dalam benakku.
Ah betapa rindunya aku akan kehadiran kakek. Matahari terus bergerak naik. Dengan
perlahan mataku pun dikuasai kantuk dan aku tertidur.
“Rul, tolong kakek sapukan lantainya, biar setelah itu kakek pel!”
Tanpa menunggu lama, akupun menari-nari di lantai mesjid dengan sapu di
tangan. Kakek sibuk membersihkan kaca yang berdebu, tapi bibirnya selalu
mengeluarkan suara.
“Mesjid ini rumah Allah rul, tempat kita beribadah. Sebagai umat Islam
memakmurkan mesjid sudah menjadi kewajiban kita”. Walau terbatuk-batuk kecil
kakek masih melanjutkan kata-katanya.
“Kamu mau kan Rul menjadi orang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya?” tanya
kakek yang kujawab anggukan. Walau sebenarnya aku belum memahami maknanya tapi
kurasakan ada kedamaian saat kakek bercerita tentang Allah dan Rasul-Nya.
“He . . . he . . bagus itu, anak muda seperti kamu seharusnya masih ada
ayah dan ibu, tapi kehendak Allah tidak ada yang sanggup menolak, kakek jadi
teringat ayah sendiri. Beliau setiap shalat selalu menggandeng tangan kakek ini
untuk bejalan ke mesjid, jadi ya . . . sampai sekarang kakek jadi cinta mesjid,
tidak seperti anak muda sekarang rul. Para orang tuanya selalu membimbing jari
anak dalam genggamannya untuk mengikutinya berjalan ke tempat yang ramai,
namanya Mall ya rul . .” tawa kakek pecah, akupun melepas tawa. “Kakek nggak
tahu, karena dulu nggak ada pasar yang seperti itu Rul, jadi wajar kalau mereka
besar nanti, mereka ingat dan rindu akan jalan-jalan selalu, begitu kan rul!”
Tawanya kembali pecah. Aku turut tertawa juga dan tak merasa terganggu dengan
celotehnya yang tak mau berhenti.
“Kek sapunya Irul letak dimana nih” saat yakin telah selesai dengan tugasku
aku pun menyimpan sapu itu.
“Itu dibalik pintu” kakek menunjuk ruangan disebelah kanan mesjid, sebuah
kamar kecil tempat menyimpan berbagai peralatan.
“Kita pulang dulu Rul udah sore, setelah mandi baru kita kembali untuk
shalat magrib”
Kakek beranjak meninggalkan mesjid dan akupun mengiringinya.
Senja ini ada yang aneh dengan pakaian kakek. Pakaian yang memudar warnanya
dengan kain sarung dan kopiah tua terganti dengan pakaian putih dengan kilatan
baru yang bercahaya. Kopiah yang dipakai berwarna putih pula dengan sulaman
hitam disekelilingnya. Indah.
Sendal jepit berganti dengan sepasang sendal dengan ukiran sayap burung di
kedua sisinya dan berwarna putih juga, hiasan bulu yang tebal membuat injakan
kakek menjadi nyaman dan terlihat lembut. Takjub menyelimuti hati ini, tetapi
bibirku tak dapat berkata, langkah kecil inipun tetap mengikutinya sampai
kerumah.
Tak seperti biasa, sore ini nenek menunggu didepan pintu dengan wajah
sedikit cemas.
“Kenapa senyum-senyum dan bicara sendiri rul, kamu sakit, Ya Tuhan ada apa
dengan kamu?” nenek memelukku dan mengusap wajahku dengan khawatir. Seketika
aku bingung dan hanya berucap.
“Irul pulang sama kakek, nek. Tadi kakek bilang, kakek nggak masuk rumah,
mau pergi sebentar, nek selop kakek tadi cantik sekali, warnanya putih, ada
sayap dan bulunya lho nek!”
Mendengar ucapanku istighfar nenek bergema.
“Ya Allah rul, kakek sudah meninggal, sadar nak . . . sadar!”
Sambil menepuk pipiku pelan berulang-ulang mencoba membangunkanku.
“Enggak nek, tadi Irul memang diantar kakek, mungkin kakek masih didepan”
Perlahan nenek mengikuti langkahku menuju pintu dan menunjuk ke arah
kegelapan malam yang merangkak datang.
Aku terpana saat kudapati tidak ada kakek disitu, ditempat berdiri saat
kakek melambaikan tangannya. Kesadaran kembali merajai pikiranku, terbayang
saat jenazah kakek diboyong orang kampung memasuki pintu rumah ini, dalam
dekapan nenek aku menangis.
“Rul . . . kamu mungkin lelah, dari tadi siang kamu belum makan, nenek udah
siapkan nasi untuk kamu, tapi kamu nggak pulang – pulang,kamu harus makan ya
Rul”
Aku menurut saja saat nenek menyajikan nasi dan segera kulahap dengan
sempurna. Perutku memang terasa lapar. Kembali ku kais ingatanku antara sadar
dan tidak.
“Ah . . . mimpikah aku, tapi kakek terasa nyata. Ucapannya, senyumnya,
bahkan pakaian dan . . . selopnya indah, tidak mungkin aku dapat berjalan
disaat tertidur tadi, tapi kini aku sudah sampai di rumah dan nenek melihatku
berjalan dengan tertawa dan berbicara sendiri. Tapi aku tidak sendiri, kakek
benar-benar menemaniku. Aku ingin punya selop seperti kakek, selop indah yang
mempunyai sayap – sayap yang mungkin dapat menerbangkanku. Jika besar nanti aku
akan menjaga mesjid seperti kakek” batinku.
Senyuman merekah dibirku.
“Kamu nggak apa-apa rul?” tatapan nenek masih terlihat cemas.
“Irul sehat aja nek, cuma lagi teringat sama kakek” jawabku.
***
No comments:
Post a Comment